Kenali Jenis Batuk yang Berbahaya Pada Anak

Ditulis oleh: Lariza Puteri

Meskipun hanya batuk, tapi saat muncul tanda-tanda bahaya, anak harus segera dibawa ke dokter. Bagaimana mengenali jenis batuk yang berbahaya pada anak?

Kenali Jenis Batuk yang Berbahaya Pada Anak - Mommies Daily

Beberapa kali Dhia batuk, ia terlihat sangat menderita. Nggak bisa makan, sulit beraktivitas seperti biasa, bahkan seringkali tidurnya terganggu. Tak hanya itu, batuk juga kadangkala disertai demam dan pilek. Kalau sudah batuk inginnya segera memberi Dhia obat batuk yang manjur biar cepat berhenti batuknya, hahaha.

Padahal, batuk sebetulnya mekanisme alami tubuh dalam upaya mendorong keluar produksi lendir yang berlebihan akibat saluran napas yang sedang mengalami radang yang disebabkan berbagai hal. Normalnya lendir akan diproduksi saluran napas untuk ‘menangkap’ berbagai benda asing. Bila benda asing yang masuk volumenya cukup besar dan produksi lendir meningkat, maka reseptor akan membangkitkan mekanisme batuk.

Kalau begitu batuk sebetulnya tidak menyeramkan, dong, ya? Menurut dr. Ladylove Walakandou, SpA, dari Siloam Hospitals Manado, dalam beberapa keadaan batuk bisa menjadi alarm tubuh bila timbul terus menerus. Apalagi bila disertai dengan demam, sesak napas atau napas cepat.

Beberapa jenis batuk yang bisa dianggap bahaya karena kerap kali mengakibatkan sesak napas, antara lain:

Batuk Menggonggong

Batuk jenis ini bisa merupakan gejala croup atau sumbatan jalan napas bagian atas. Biasanya, batuk ini menyerang anak-anak usia 6 bulan hingga 3 tahun. Umumnya, batuk ini terjadi saat udara dingin pada malam hari. Tanda lainnya adalah batuk membaik saat siang hari, namun bertambah parah saat malam hari. Saat anak mengalami batuk ini, biasanya anak memiliki napas yang tinggi seperti bersiul dan tampak seperti kesulitan napas.

Pertolongan pertama: Saat anak batuk menggonggong ketika tidur, segera bangunkan dan matikan pendingin udara. Pastikan anak tidak mengalami sumbatan napa karena hal ini bisa berbahaya. Ada baiknya segera bawa anak ke dokter untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, apalagi bila disertai demam tinggi.

Batuk Rejan

Batuk ini termasuk batuk dengan intensitas hebat. Batuk rejan timbul terus menerus dan sambung menyambung dalam waktu yang cukup lama, sehingga anak kesulitan bernapas. Akan terdengar bunyi “whoop” saat anak menarik napas panjang setelah mengalami batuk terus menerus. Batuk rejan disebabkan oleh bakteri pertusis yang menyerang lapisan saluran pernapasan sehingga menghasilkan peradangan parah dan mempersempit saluran napas. Bakteri ini menular melalui cairan yang terinfeksi saat orang sekitar tertawa, batuk atau bersin. Batuk ini juga sangat mungkin mengakibatkan anak, terutama bayi (di bawah 2 bulan), terhenti napasnya dan menyebabkan kematian. Sehingga, usaha pencegahan pertusis dengan imunisasi sangat penting dilakukan.

Pertolongan pertama: Segera hubungi dokter bila anak terlihat kesulitan bernapas atau minum. Bayi di bawah 6 bulan harus dirawat di rumah sakit. Bila dirawat di rumah, anak perlu banyak istirahat.

Batuk Mengi

Batuk mengi biasanya terdapat pada anak yang mengalami asma. Batuk ini ditandai dengan bunyi mengi saat ia bernapas. Napasnya pun tampak lebih cepat dari biasanya. Saat anak mengalami batuk mengi, itu tandanya terjadi sumbatan di jalan napas bagian bawah yang disebabkan oleh infeksi pernapasan. Virus atau bakteri penyebab infeksi ini menyerang paru-paru hingga terisi cairan. Pada anak di bawah 2 tahun, batuk ini juga disebut dengan bronchiolitis, yaitu batuk akibat infeksi virus.

Pertolongan pertama: Anak yang mengalami batuk mengi harus segera dibawa ke rumah sakit. Ia harus mendapatkan pemeriksaan yang lebih lanjut dan mendapatkan terapi pengobatan.

Batuk disertai sesak napas dan demam

Apapun jenis batuknya, bila batuk terjadi sangat parah hingga menyebabkan sesak napas pada anak, maka batuk bisa dikatakan berbahaya. Apalagi bila batuk disertai dengan demam yang tinggi. Anak harus segera mendapatkan penanganan dari dokter. Batuk seperti ini tidak memandang siang dan malam, mengandung dahak atau batuk kering. Yang terpenting, jangan paksakan anak untuk minum saat anak terlihat sesak napas. Sebab hal ini bisa menyebabkan anak tersedak. Air minum bisa diberikan saat anak tidak sesak napas atau saat anak tidak batuk. Pada dasarnya, air minum atau cairan merupakan pengencer alami dahak.

Sementara itu, saya juga membiasakan Dhia untuk batuk dengan cara yang benar untuk mencegah penularan pada anggota keluarga lain. Saya mengajarkan Dhia untuk menutup mulutnya menggunakan lengan baju atau sikunya saat batuk. Bila Dhia terlanjur batuk, saya juga mengajarkannya untuk tetap menggunakan masker di dalam rumah, serta mencuci tangan sesering mungkin.


Post Comment