Jangan Senang Dulu Kalau Anak Selalu Menurut

Yakin, senang anak selalu menurut? Mengikuti apa yang Mommies katakan? Ups, jangan senang dulu, ah! Ketahui alasannya lewat penjelasan Orissa Anggita Rinjani M. Psi, Psi.

Kemarin, ada teman yang ngeluh. Sebel karena anaknya doyan ngelawan. Menurutnya, setiap kali teman saya memberitahukan sesuatu atau menasihati, sang anak selalu membantah. Saya sampai penasaran, membantah seperti apa, sih?

“Iya, pokoknya kalau gue lagi ajak ngomong, kasih tahu sesuai hal, ada saja jawabannya. Kok, anak gue nurut, deh. Gimana, sih, bikin anak nurut sama kita?”

Begitu mendengar keluh kesahnya, saya cuma bisa nyengir. Bukan apa-apa, soalnya saya jadi ingat dengan anak saya sendiri, Bumi. Di usianya sekarang, 6 tahun, anak saya juga lagi jago banget berargumen. Kadang, saya suka pusing sendiri, hahahha.

menjadi ibu yang lebih baik setelah bercerai

Tapi mendengar harapan teman saya yang ingin anaknya jadi penurut, saya kok, agak kurang setuju, ya. Bukan apa-apa, menurut saya, ‘perlawanan’ anak seperti ini justru bagus, kok. Setidaknya menurut saya, anak sudah bisa menunjukan kalau ia bisa mengeluarkan pendapatnya sendiri.

Saya pun akhirnya sempat ‘konsultasi’ dadakan dengan Orissa Anggita Rinjani M. Psi, Psi, psikolog anak dari Rumah Dandelion. Saya penasaran bagaimana pandangannya sebagai psikolog tentang hal ini. Apa benar anak yang selalu menurut itu baik? Nggak bisa dipungkiri kan, kalau memang kita, sebagai orangtua sering kali punya harapan seperti ini.

Kalau menurut saya, sih, sebelum puas karena anak terlihat selalu, ada baiknya lebih dulu mencermati apa yang menyebabkan anak penurut. Bisa jadi kan karena anak terlalu takut dengan kita, para orangtuanya? Atau, kemampuan berpikirnya yang perlu kita pertanyakan.

“Biasanya, anak usia 3- 4 tahun anak-anak itu memang masa pembangkangan, orangtua banyak yang menganggap anaknya bendel dan nggak nurut. Padahal masa-masa ini anak memang sudah punya kemauan sendiri, pembentukan identitas dan belajar tahapan emosi yang baik. Di sini, anak-anak mulai mengeksplorasi lingkungannya dan mau tahu segalanya. Sementara kemampuan berkomunikasi dan fisiknya sebenarnya belum memadai. Makanya di sini timbul istilah terible two, masa anak lagi testing dunianya,” ungkap Orissa.

Lebih lanjut Orissa mengatakan, di sinilah tugas kita sebagai orangtua untuk bisa mengarahkan dan memberikan pilihan pada anak. Artinya, berikan kesempatan anak untuk memilih, jangan apa-apa kita yang menentukan sementara anak hanya ‘mengekor’. Contoh sederhananya, bisa dimulai dengan memberikan pilihan baju pada anak. Berikan kesempatan anak untuk memilih. Dari sini, anak pun akan bisa mengembangkan proses berpikir.

Sarannya, ketika memang anak sedang nggak menurut atau membantah idealnya orangtua jangan langsung antipati dan mengatakan tidak. Dengarkan lebih dulu apa yang ingin diungkapkan anak. Bukankah dari sini anak juga bisa belajar mengeluarkan pendapat dan berkomunikasi yang baik dengan orangtua?

“Kalau ada orangtua yang mengeluh ke saya soal anaknya yang nggak nurut, saya malah akan tanya, memang yakin mau anaknya nurut terus? Mau sampai kapan anaknya menurut? Soalnya anak yang selalu menurut juga nggak baik ke depannya. Terutama ketika mereka sudah tumbuh remaja. Anak-anak yang nggak terbiasa mengeluarkan pendapatnya, tidak mampu berargumen malah lebih rentan dengan peer preasure karena memang tidak dilatih untuk berpendapat.

Ah, sudah kebayang, ya, bagaimana dampaknya kalau anak diharapkan bisa menurut terus? Seperti yang diungkapkan psikolog Unique Growing Mind Montessori Preschool and Daycare, anak tentu akan tumbuh menjadi pribadi yang pasif karena sudah terbiasa melakukan sesuatu karena keinginan oranglain, bukan dirinya sendiri.  Pola berpikir kritisnya juga akan tidak berkembang sehingga setiap kali ada issue ia tidak mampu menanggapi dengan baik. “Anak juga jadi tidak punya sense of purpose.”

Jadi, masih saja ingin anak selalu menurut? Ah, kalau saya mah, nggak mau.


Post Comment