3 Tips Mengatur Anggaran untuk Kebutuhan Pribadi

Ditulis oleh Prita Hapsari Ghozie, SE, Mcom, GCertFP,CFP®, QWP – Chief Financial Planner ZAP Finance.

Tentu kita perlu bijak menyikapi belanja kebutuhan pribadi agar tidak menimbulkan masalah keuangan di masa depan. Jadi, apa saja yang perlu diperhatikan?

Setiap perempuan pasti ingin terlihat cantik dan gaya, tak terkecuali para ibu. Sebagai hot mommies, kita merasa perlu menunjang diri dengan berbagai kebutuhan pribadi seperti pakaian, makeup dan perawatan tubuh. Sehingga tidak mengherankan jika selalu saja ada alasan bagi wanita untuk membelanjakan uangnya membeli kebutuhan pribadi. Namun, apakah dengan adanya kebutuhan untuk tampil cantik dan menawan, kita diperbolehkan untuk belanja tanpa batasan?

  1. Alokasikan Belanja Kebutuhan Pribadi

Untuk menghindari khilaf belanja, ada baiknya mommies menentukan alokasi belanja kebutuhan pribadi sedari awal. Persentase ideal yang disarankan untuk belanja kebutuhan pribadi adalah 5% dari penghasilan rutin. Jadi, mommies ada alokasi bujet sebesar Rp500 ribu setiap bulan untuk belanja kebutuhan pribadi jika menerima penghasilan rutin Rp10 juta setiap bulan.

Alokasi tersebut bukan berarti harus habis dibelanjakan setiap bulannya. Anda bisa mengumpulkannya terlebih dahulu untuk dibelanjakan di kemudian hari. Sehingga, sebaiknya dana belanja kebutuhan pribadi dibuatkan rekening terpisah atau saya sebut dengan istilah “shopping account” dan pembayaran dilakukan dengan kartu debit.

  1. Manfaatkan Fasilitas Diskon dan Potongan Lainnya

Group of coupon

Dengan jumlah dana yang sama, bisa jadi mommies mendapatkan produk yang lebih banyak atau lebih berkualitas. Hal ini memungkinkan jika mommies pandai memanfaatkan fasilitas diskon atau potongan lain yang diberikan oleh penjual. Jangan lupa juga untuk menjadi anggota program loyalitas, agar pengumpulan poin hasil belanja dapat difungsikan sebagai tambahan diskon di kemudian hari.

  1. Usahakan untuk Belanja secara Rasional

Impulsif merupakan salah satu alasan yang mendorong seseorang kalap berbelanja. Studi Nielsen menemukan bahwa lebih dari 40% orang di Asia membeli barang yang tidak dibutuhkan karena dorongan impulsif. Penelitian lain juga membuktikan bahwa tidak semua produk yang dibeli akan terpakai. Sebagai contoh, sebuah studi yang dilakukan oleh perusahaan kosmetik menemukan fakta bahwa setiap wanita hanya menggunakan 10 produk kosmetik secara reguler . Sehingga produk- produk kosmetik lain yang terbeli hanya dipakai sesekali dan berfungsi sebagai penghias meja rias. Untuk menghindari dorongan impulsif, usahakan untuk berpikir ulang sebelum membeli suatu produk dengan tenang. Alternatifnya adalah membeli produk dengan ukuran terkecil.

Live a beautiful life!

Prita Hapsari Ghozie adalah seorang perencana keuangan independen, penulis buku laris “Cantik, Gaya, & Tetap Kaya” serta “Make It Happen,” pembicara, dosen dan ibu dari 2 orang anak. Sebagai Founder dan Chief Financial Planner di ZAP Finance – sebuah konsultan perencanaan keuangan independen di Indonesia. Berpengalaman lebih dari 8 tahun sebagai perencana keuangan dan didukung latar belakang edukasi di bidang keuangan, Prita memiliki kompetensi untuk memberikan saran dan rekomendasi dalam hal keuangan.


Post Comment