Jadwal Menstruasi Bisa Menular, Mitos atau Fakta, Sih?

Pernah nggak mendengar kalau menstruasi ‘menular’? Atau malah sudah merasakannya karena siklus menstruasi berdekatan dengan saudara perempuan atau temen dekat di kantor. Yuk, cari tahu kebenarannya.

Entah ini faktor kebetulan atau nggak, tapi biasanya siklus menstruasi saya dan teman-teman dekat khususnya di kantor selalu nggak beda jauh. Misalnya, nih, saat ini siklus menstruasi antara saya, Fia, dan Thatha hanya berjarak beberapa hari. Padahal dulunya nggak begitu, lho. Entah bagaimana awalnya, periode menstruasi kami mendadak berdekatan. Biasanya, sih, Thatha yang jadi pelopor menstruasi setiap bulannya. Setelah Thatha, saya menyusul, dan barulah Fia yang ikutan ‘tertular’.

Kami pun sempat ngobrol masalah ini. Kenapa, sih, ada kecendrungan waktu menstruasi berdekatan? Soalnya, Fia pun punya pengalaman, saat bekerja di media sebelum Mommies Daily, siklus menstruasi dengan teman-teman sekantor selalu dekat. Pun, saya dan kedua kakak perempuan  yang sering kali kedatangan tamu bulanan dengan waktu bersamaan waktu kami masih tinggak serumah.

yakin, menstruasi menular_mommiesdaily

Saya pun akhirnya sempat browsing, dan menemukan sebuah teori yang dicetuskan oleh peneliti asal Amerika, Martha McClintock. Memang, sih, penelitiannya sudah cukup lawas karena dilakukan tahun 1971 dan sudah diterbitkan di jurnal medis Nature. Psikolog University of Chicago ini berspekulasi kalau kontak regular antara perempuan dapat memengaruhi siklus menstruasi. Setidaknya hal ini dia buktukan dari kelompok teman dekat yang tinggal satu asrama memiliki periode haid yang sama. Fenomena ini pun akhirnya dikenal sebagai ‘efek McClintock’. Tapi teori ini masih menuai kontroversi.

Kalau  Martha melihat dari kacamata psikolog, bagaimana dengan dokter kandungan? Jadi, apa benar menstruasi menular?

“Ah… masa menstruasi itu menular? Kata siapa? Saya kok, baru mendengarnya, nih,” ungkap dr. Yusfa Rasyid SpOG ketika saya hubungi,

Jadi mitos, dong, dok? Persepsi yang salah?

“Iya tentu saja. Tapi memang masyarakat memang masih banyak yang kurang paham atau salah persepsi soal menstruasi,” ujarnya lagi. Dokter kandungan yang berpraktik di RS YPK ini pun mengingatkan, bahwa menstruasi merupakan proses keluarnya darah dari dalam rahim yang terjadi karena luruhnya lapisan dinding rahim bagian dalam yang banyak mengandung pembuluh darah dan sel telur yang tidak dibuahi. Menstruasi pasti akan terjadi pada semua wanita yang normal.

Menstruasi itu kan dipengaruhi oleh kematangan sel telur lebih dulu, baru dua minggu kemudian seorang perempuan bisa haid. Nah, pematangan sel telur seorang perempuan itu kan pasti berbeda-beda, jadi ya, mana menular. Kalau pun memang waktunya bisa berdekatan itu kemungkinan hanya kebetulan saja. Probabilitasnya kecil,” terangnya lagi.

Dalam hal ini, dr Yusfa kembali menjelaskan kalau perempuan perlu memahami bahwa menstruasi atau haid itu tidak sama dengan sel telur. Soalnya, dr. Yusfa bilang sampai sekarang dirinya masih menemukan pasien yang punya tanggapan yang salah soal hal ini.

Biasanya, terjadi pada kasus perempuan yang disarankan untuk melakukan steril setelah memiliki tiga orang anak atau lebih. Menurut dr. Yusfa, kekhawatiran perempuan distreril adalah mempertanyaakan bagaimana dengan kondisi sel telurnya? “Kalau saya distreril, sel telur saya kemana? Mereka masih banyak yang menganggap kalau darah yang keluar pada menstrusi adalah sel telur. Padahal jelas ini salah.

Lebih lanjut, ia juga menjelaskan pada siklus menstruasi biasanya akan terjadi komunikasi hormonal dari otak  atau hipotalamus dengan kandung telur (ovarium) dengan target organnya adalah rahim. Prosesnya berjalan secara siklik, oleh sebab itu wajar jika ada interval antar haid. Namun, tentu saja siklus haid ini tidaklah menular.

Gimana, Mommies? Sudah makin jelas, yaaa? Atau punya pengalaman soal hal ini, bagi-bagi ilmu dan pengalamannya, dong, ke saya.

 

 


Post Comment