Berbagi Kamar Antara Bayi dan Balita

Ditulis oleh: Lariza Puteri

Sebelum siap dengan kegaduhan yang terjadi jika mengumpulkan bayi dan balita di kamar tidur yang sama, saya mau berbagi 6 tips ini terlebih dulu.

Berbagi Kamar Antara Bayi dan Balita - Mommies Daily

Punya dua anak memang idealnya itu harus siap dua kamar untuk masing-masing. Idealnya, ya kan :D. Cuma, ideal itu kan suka nggak sinkron sama fakta yang ada, hahaha. Seperti keluarga saya sekarang. Saya dan suami masih tidur bertiga dengan si bayi. Kakaknya yang berusia 5 tahun sudah berani tidur sendiri di kamar berbeda. Namun, ada masanya Dhia bertanya kenapa adiknya nggak tidur sama dia saja.

Mungkin nanti ya, kalau adiknya sudah lebih besar (saat ini usia Gia 10 bulan). Agak seram nih ibunya, menggabungkan si 5 tahun dengan si 10 bulan. Jangan sampai saat adik bangun tengah malam, kemudian menganggu ketenangan tidur kakaknya, kemudian kakak bête dan ngamuk *__*. Yang ada, ibu harus mengurus dua anak yang rewel.

Sebelum ini terjadi, saya mencari tahu apa saja yang harus diperhatikan kalau bayi dan balita tidur dalam satu ruangan.

1. Perhatikan jam tidur anak
Agar bayi dan balita bisa nyaman tidur bersama dalam satu ruangan, mereka perlu memiliki jam tidur yang sama. Bagi saya hal ini cukup mustahil. Bila Gia biasa tidur jam 8, kakaknya baru bisa benar-benar tidur di atas jam 9. Jadi, saya akan menidurkan bayi di kamar lain dulu, sambil menidurkan kakak di kamarnya (inilah quality time bersama kakak). Saat si balita sudah terlelap, pindahkan bayi 30 menit kemudian ke kamar. Bila sebaliknya, bayi bisa terbangun akibat suara kakak atau suara saya saat sedang membacakan dongeng.

2. Manfaatkan teknologi
Gunakan beberapa teknologi untuk memantau anak-anak yang tidur terpisah. Saya menggunakan baby monitor untuk mengetahui suara tangisan bayi bila ia terbangun tengah malam. Ini membuat saya bisa segera mungkin menenangkan si bayi dan menjaga si balita tidak ikut terbangun.

3. Gunakan lampu kecil
Suasana tenang dan nyaman diperlukan untuk membantu anak tetap tidur dengan nyenyak. Itulah sebabnya, meskipun hanya ada anak-anak di dalam kamar, tetap redupkan lampu. Saya menggunakan lampu kecil agar cahaya kamar tidak terlalu terang.

4. Mencoba saat tidur siang
Dua anak saya, Dhia dan Gia, selalu sukses tidur siang bersama. Hal ini bisa terjadi karena keteraturan yang kami terapkan. Malah, di satu kesempatan, Gia selalu terbangun saat harus tidur siang sendiri. Berbeda saat ia tidur di sebelah kakaknya. Tidur siangnya jadi awet! Hahaha. Saat kebiasaan ini sudah terbangun, maka jadwal tidur malam bersama dalam satu ruangan pun menjadi lebih mudah.

5. Mencegah segala gangguan tidur
Bagi kami, kamar tidur ya ruangan untuk tidur. Tidak ada kegiatan lain yang bisa dilakukan di kamar selain tidur. Itulah sebabnya, saya sering melarang anak untuk membawa mainan ke dalam kamar. Apalagi memasang televisi di kamar. Big no! Anak perlu memiliki kualitas tidur yang baik untuk tumbuh kembangnya.

Baca juga: Bisakah Anak Hidup Tanpa Televisi?

6. Bersabar
Meskipun tidur bersama adiknya adalah permintaan Dhia, namun hal ini adalah proses. Tak akan semudah yang dibayangkan. Bayi mungkin akan membutuhhkan waktu lebih cepat untuk beradaptasi. Namun, tidak demikian dengan balita. Ia bisa membutuhkan waktu 3 kali lebih lama untuk beradaptasi. Sehingga perlu bersabar dan konsisten dalam menerapkan kebiasaan ini.

Saat anak-anak sudah bisa tidur sendiri di kamarnya, kita pun bisa tidur lebih tenang, dan bisa puas sayang-sayangan sama suami, hehehe.

Baca juga: 5 Sebab Anak Sukses Tak Pernah Tidur Larut Malam


Post Comment