5 Kebutuhan Istri, Sudahkah Terpenuhi Oleh Suami?

Sebagai istri, ada 5 kebutuhan yang ingin saya dapatkan dari suami. Kebutuhan apa saja?

Belum lama ini, saat lagi pillow talk bersama suami, tiba-tiba saja kami membahas soal kebutuhan masing-masing. Awalnya, suami saya cerita kalau ada salah satu temannya yang merasa kehilangan kebebasan setelah menikah dan punya anak.

Soalnya begini, suami saya bilang kalau setelah menikah, temannya mengaku jadi nggak bebas untuk bergaul. Apa-apa dibatasi, bahkan katanya, untuk bemain Play Station saja sudah sulit. Begitu mendengarnya, saya kok, cukup miris dan iba, ya. Saya pun langsung bilang ke suami, “Duh, aku, sih, nggak mau ya, sampai kaya begitu.”

Memang, sih, yang namanya sudah berkeluarga apalagi sudah punya anak, mau nggak mau pasti akan membawa perubahan besar. Termasuk perubahan ruang gerak. Susah nongkrong bareng temen-temen lagi, kalau mau nyalon harus pintar ngatur waktu. Eh, jangankan mau kongkow bareng temen, lha wong mau baca novel aja sekarang sudah ribet karena urusannya banyak banget!

Tapi bukan berarti membuat hidup kita jadi terpenjara, dong?

kebutuhan istri-mommiesdaily

Meskipun nggak ada peraturan atau kesepakatan secara tertulis, sejak awal menikah saya dan suami sudah sama-sama sepakat kalau sebenarnya status pernikahan tidak membuat kami terkurung dan membuat kami sulit bergerak. Sudah cukup, deh, sebelum menikah saya ngerasain punya pacar yang posesesifnya bukan main. Dan rasanya benar-benar nggak enak *curcol :D

Gara-gara obrolan ini akhirnya saya dan suami pun kepikiran untuk membuat list, sebenarnya apa saja, sih, kebutuhan kami yang sebenarnya? Sebagai istri saya pun akhirnya menuliskan 5 kebutuhan yang ingin saya dapatkan dari suami. Sebaliknya, suami pun menuliskan hal yanh serupa. Harapannya, dari sini kami sama-sama bisa belajar dan mengingat kembali akan kebutuhan masing-masing.

Saya butuh partner hidup

Iya, ini adalah list pertama yang saya tulis. Ketika pacaran dan akhirnya yakin untuk melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan, semuanya nggak lain karena saya  yakin kalau suami saya ini bisa dijadikan partner hidup. Lelaki yang bisa saya ajak kerja sama. Lelaki yang selalu bersedia mengulurkan tanggannya untuk pijetin kaki dan punggung saya ketika merasa pegal, terutama ketika saat hamil dulu. Lelaki yang rela bangun dini hari dan rela ngebantu saya menghangatkan ASIP dan mengendong anak ketika sedang nagis tiada henti. Suami yang rela jaga anaknya ketika saya dapat tugas di akhir pekan. Pada dasarnya, saya dan suami sama-sama sadar dan paham kalau rumah tangga itu adalah sebuah tim yang perlu saling mendukung satu sama lain.

Saya butuh untuk dihargai

Saya paham, kalau sebagai istri saya harus mendengar kata suami. Kalau kalau orang tua, ridho istri sekarang itu ada di tangan suami. Bahkan, kalau menurut ajaran agama Islam, sebagai istri kalau ke mau ke luar rumah harus pamit dulu dengan suami. Kalau nggak diizinkan, ya, nggak bisa keluar. Walaupun begitu, bukan berati kita jadi nggak punya suara untuk menentukan hal yang kita inginkan dan percayai, sih. Sebagai istri, jelas kita berhak mengeluarkan pendapat. Jadi, kebutuhan lain yang nggak kalah penting adalah saling menghargai. Kalau memang beda pendapat dan saya keliru dalam memandang suatu hal, saya berharap suami bisa langsung mengingatkan saya. Jangan sampai, deh, saling menjatuhkan di depan orang lain, termasuk di depan anak. Terlebih menegur dengan menggunakan kekerasan, atau KDRT.

Saya butuh kehidupan seksual terpenuhi

Hahahaa…. saya kok, jadi merasa geli sendiri yang menulis poin yang satu ini. Tapi, memang bener, sih, sebagai perempuan, saya ingin kebutuhan seksual bisa didapatkan. Banyak yang bilang, kalau porsi terbesar otak laki-laki adalah memikirkan tentang seks. Makanya banyak yang bilang kalau seks menjadi kebutuhan dasar lelaki. Tapi, ini juga berlaku buat perempuan, kok. Meskipun pernah kehilangan selera untuk melakukan hubungan seksual karena capek bukan main, tapi bukan berarti kehidupan seks dilupakan. Ada kalanya saya menantikan ‘pancingan’ suami untuk melakukan hubungan seksual. Kalau suami ternyata nggak ‘mancing-mancing’ juga, ya, mulai saja duluan. Nggak ada salahnya kan? Lah wong, sama suami sendiri ini.

Saya butuh privacy

Umh, mungkin ada yang nggak setuju dengan poin saya yang ini. Tapi buat saya, sih, meskipun sudah menikah dan jadi suami istri bukan berarti di antara saya dan suami jadi nggak punya privacy lagi. Maksud privacy di sini juga sebenarnya nggak jauh-jauh dari melakukan hobi, atau menikmati me time. Termasuk belanja tas dan sepatu, hahahhaa…. Artinya, privacy di sini bukan jadi merahasiakan password handphone, atau membatasi akses sosial media, lho, ya. Kalau hal ini terjadi, sih, malah perlu dicurigai. Tapi, bukan juga lantas membuat saya kepo dan selalu melihat isi sosial media atau email suami, sih. Saya paham, cemburu yang berlebihan juga menyebalkan.

Saya butuh memelihara identitas pribadi

Ayo ngaku… siapa di antara Mommies yang setelah menikah dan punya anak sepertinya kehilangan jati diri? Sering lupa untuk membahas apa yang saya suka dengan suami. Obrolan nggak jauh-jauh seputar masalah anak. Diskusi soal anak tentu saja nggak salah, namun sayangnya ketika menikah saya kok merasa jadi jarang membahas apa yang saya dan suami suka. Meskipun saya nggak paham soal bola, nggak ada salahnya, sih, sesekali membahas atau bertanya soal ini ke suami. Sebaliknya, saya pun suami tetap ingat hal-hal yang menjadi passion saya. Rasanya, tentu sangat menyedihkan kalau pada suatu titik, saya dan suami tersadar kalau sudah seperti orang lain yang tidak saling kenal lagi. Untuk itulah, sesekali nge-date berdua suami tetap perlu dilakukan.

—-

Syukurnya, setelah membuat list ini dan sama-sama me-review, saya merasa suami sudah bisa memenuhinya. Walaupun begitu, sebagai pasangan suami istri kami berdua masih perlu banyak belajar lagi. Bagaimana dengan Mommies yang lainnya?


Post Comment