Bisakah Anak Hidup Tanpa Televisi?

Ditulis oleh: Ficky Yusrini

Ah, rasanya sudah lama sekali keluarga kami telah lepas candu dari benda satu ini. Seperti apa, sih, rasanya hidup tanpa televisi?

Hidup berubah sejak punya anak. Itu bener banget. Salah satu perubahan nyata yang telah saya terapkan hingga sekarang adalah keberadaan televisi di rumah. Sejak beberapa bulan lalu, saya sukses berhenti berlangganan dari sebuah provider televisi kabel. Alasannya? Ya, memang sudah semakin jarang ditonton, jadi buat apa saya harus bayar biaya langganan bulanan? Alasan kedua, memang pesawat televisi saya rusak. Malas beli lagi.

Sewaktu masih langganan, praktis, hanya anak saja yang menonton. Itupun jamnya terbatas. Suami? Hanya butuh televisi untuk siaran pertandingan bola. Saya? Rasanya sudah lama sekali saya telah lepas candu dari benda satu ini. Seperti apa, sih, rasanya hidup tanpa televisi?

Bisakah Anak Hidup Tanpa Televisi?  - Mommies Daily

Efek berita kriminal lebih minimal

Setiap kali ada siaran berita yang menayangkan kriminalitas, orangtua saya yang tinggal di luar kota, selalu menelepon. Mereka cemas bukan main. Mereka kepikiran cucu. “Aduh, serem, ya, hidup di Jakarta,” gumam mereka. Saya, sih, bukannya enggak mengikuti berita. Kan, ada Twitter. Cuma, rasanya efeknya tidak separah kalau tahu infonya dari televisi.

Ternyata memang ada hubungan antara tontonan televisi dengan psikologis kita. Terlalu sering menonton pemberitaan yang negatif hanya akan membuat kita menjadi paranoid. Melansir dari Psychology Today, mereka yang menonton tayangan berita negatif punya kecemasan lebih tinggi dan pembawaannya lebih sedih, ketimbang mereka yang menonton tayangan berita positif.

Belajar hidup hening

Terbiasa hidup di kota besar, saya sudah kenyang dengan deru mesin kendaraan, sahut-sahutan klakson, toa rumah ibadah, pengamen, dan pedagang keliling. Karenanya, buat saya, rumah adalah oasis, tempat saya butuh hening. Dan, suara-suara celotehan anggota keluarga, adalah surga.

Waktu produktif lebih banyak

Menurut survei Nielsen, rata-rata waktu di depan layar (maksudnya gadget) orang Amerika Serikat adalah 11 jam dalam sehari. Ini terbagi antara layar komputer, smartphone, radio, televisi, DVD, dan sebagainya. Waktu di depan televisi, rata-ratanya adalah 4-5 jam.

Menurut Douglas Gentile, psikolog dari Iowa State University, ia menghitung, jika dalam seminggu, 24 jam x 7 adalah 168 jam, kita sudah menghabiskan 50 jam sendiri di depan layar gadget. “Katakanlah, waktu untuk bekerja adalah 40 jam, waktu tidur malam 7 jam, menjadi total 49 jam. Belum termasuk waktu untuk kegiatan sehari-hari, seperti makan, mandi, berpakaian, memasak, sekitar 3 jam. Maka, kita punya sisa waktu 58 jam.

“Sisa waktu inilah yang dimanfaatkan untuk hobi, olahraga, membaca, ibadah, beres-beres rumah, waktu untuk anak, pasangan, dan teman-teman, dan sebagainya. Nah, kalau 50 jamnya dihabiskan di depan layar hanya untuk kepentingan entertainment, maka tidak ada lagi waktu untuk yang lain,” jelas Douglas.

Kalau menurut saya, kendali ada di tangan kita. Bukan hidup kita yang dikendalikan oleh televisi. Menyingkirkan televisi adalah cara saya memegang kendali. Mungkin, tiap orang punya cara berbeda untuk mendapatkan kendali ini.

Selektif memilih tontonan

Ketika saya ‘meninggalkan’ televisi, tidak membuat saya menjadi manusia goa. Saya bisa mendapatkan apa pun yang saya butuhkan di internet. Kalau kata rapper Young Lex, “Youtube Youtube lebih dari televisi, boom!” Yup, itu betul sekali. Saya bahkan tetap bisa menonton serial televisi dan film favorit saya di Netflix ataupun Iflix, di laptop ataupun smartphone. Gini-gini, saya gemar banget nonton serial The Big Bang Theories, Mr. Robot, Penny Dreadfull, House of Cards, The Affair, dan yang terbaru, Billions.

Siaran langsung yang sifatnya breaking news malah sekarang sudah Live di Twitter. Kelebihannya, saya bisa menyeleksi tayangan-tayangan yang tidak perlu, seperti iklan komersial, berita gosip, ataupun tayangan yang memang tidak ingin saya tonton.

Ketinggalan gosip? Itu memang bumbu yang bikin kita kecanduan. Saya juga. Ah, tapi sekarang di internet setiap hari suguhan gosip juga tidak habis-habis. Saya juga update, lho, soal pernikahan Steffan William dan Celine Evangelista.

Pembiasaan positif untuk anak

Sekeras apa pun usaha saya, tetap saja sulit menerapkannya ke anak. Selama bertahun-tahun, televisi ibarat baby sitter buat anak. Terlebih, karena ia ditinggal orang tuanya bekerja. Saya tak berdaya dalam hal ini. Ternyata, bukan saya saja yang mengalaminya. Anak-anak Indonesia –dalam skala ASEAN- menduduki peringkat pertama waktu paling lama menonton televisi, yakni 5 jam. Selain masalah kecanduan tontonan, televisi juga meningkatkan risiko diabetes dan obesitas, begitu menurut Centers for Disease Control and Prevention.

Setelah tak ada televisi, memang hidupnya jadi berpindah ke gadget (spesifiknya, Youtube). Satu hal yang ingin saya tekankan ke anak adalah ia bisa belajar untuk mengontrol aktivitasnya, when too much is too much and when is the right time to stop. Hopefully!


2 Comments - Write a Comment

  1. Pas banget ini, saat ini kira-kira tepat setahun kami menyingkirkan TV. Alhamdulillah suami memang nggak hobi nonton bola juga, jadi yang berasa kurang cenderung ke siaran-siaran berita, bisa lihat langsung tokoh-tokoh nasional diwawancara dll, tapi toh ya sering ada videonya di Youtube. Oh iya, sama kurang ngeh kalau ada iklan lucu atau kontroversial yang happening, hahaha…

  2. Setuju banget Mba Ficky, walaupun saya belum sampai tahap berani memutuskan langganan televisi kabel.
    Tapi, membatasi waktu menonton televisi dan memanfaatkan fitur password di remote tv, sudah cukup ampuh membatasi waktu menonton anak- anak.
    Kecuali weekend ya, kami memberikan kesempatan buat si Kakak istirahat dari belajarnya dan membolehkannnya menonton. Untungnya, dia tahu mana film yang bermanfaat dan mana yang tidak.
    Walaupun pengaruh teman -teman membuat dia penasaran juga sama sinetron seperti Putri Duyung, Anak Jalanan. Tapi, ujung-ujungnya dia tidak tertarik tuh.

Post Comment