Level Baru Belajar Ikhlas: Rumahku, Barang Bekasku

Katanya belajar ikhlas bisa membuat hidup lebih bahagia. Katanya lagi, belajar ikhlas bisa bikin kita lebih dekat dengan Tuhan.

Yang saya tahu (dan sudah terbukti), belajar ikhlas itu susahnya bukan main. Bukan, bukan, saya bukan sedang membicarakan ikhlas dalam kaitannya dengan agama, atau hubungan dengan Tuhan. Nggak ‘seberat’ itu, kok. Ikhlas yang saya maksud di sini masih kelas pemula :D

Cuma soal tas-tas kesayangan. Tas-tas yang selalu saya bersihin sekali seminggu, tas-tas yang kalau saya selfie selalu disiapkan pose khusus, tas-tas yang yang selalu saya sayang dan bahkan selalu saya lindungi lebih dulu ketika sedang turun hujan ketimbang kepala sendiri.

Jadi, ya, belum lama ini saya memang harus rela melepaskan tas-tas kesayangan saya demi melancarkan proses renovasi rumah. Lantaran biaya renovasi yang kian membengkak, saya dan suami harus memutar otak mencari tambahan dana untuk menutupi kekurangan.

Awalnya saya belum kepikiran untuk menjual tas-tas saya, tas yang memang selama ini lebih banyak ‘menghuni’ lemari ketimbang saya pakai. Hingga suatu hari, suami saya tanya, “Dis, tabungan sudah mepet banget, nih. Tapi masih banyak yang perlu dibeli untuk biaya rumah. Gimana, ya?”

bekas jadi apapun

Terus terang saja, begitu mendengar pertanyaan suami seperti ini bikin saya migren. Mengingat tabungan yang kami miliki memang sudah ludes, investasi seperti Logam Mulia pun sudah habis dijual demi memenuhi dana RAB atau rancangan biaya bangunan. Meskipun begitu, tetap saja dananya kurang karena yang terjadi RAB kian melibihi dana yang kami siapkan. Jauh meleset dari perkiraan. Pertanyaan soal bagaimana cara mendapatkan tambahan uang pun langsung muncul.

“Aku jual PS aku saja, deh, sama ada tablet lama kita yang bisa dijual. Lumayan kan hasilnya buat tambahan,” ujar suami saya tiba-tiba. Mendengar ide suami saya ini, saya seperti mendapatkan oase di padang gurun. Seketika itu juga saya pun menyetujui idenya. Sampai akhirnya suami bertanya, apakah ada barang-barang yang saya miliki yang bisa dijual.

“Uuumh, aku ada beberapa tas Fossil, sih, Mas. Jarang dipakai. Tapi kan sayang kalau dijual. Belinya juga pakai nabung dulu, dan setiap tas history-nya.” jawab saya jujur.

Mendengar jawaban saya ini, suami pun hanya tersenyum sambil menjawab singkat, “Ya, sudah kita cari barang lain saja yang bisa kita jual buat nutupin biaya yang masih kita butuhkan.”

Kalau suami sudah rela menjual PS miliknya, kenapa saya nggak bisa? Padahal bisa dibilang PS merupakan ‘pacar’nya karena setiap ada waktu luang pasti suami saya melarikan diri dengan bermain PS. Tablet yang dimaksud pun sebenarnya kami belikan untuk Bumi main games dan melihat You Tube kalau akhir pekan. Sementara saya, kok, malah terjebak dengan kenangan di balik sebuah tas.  Tiba-tiba saya merasa jadi perempuan paling egois sedunia.

Ada yang pernah merasakan hal serupa dengan saya? Seringkali ‘terjebak’ dengan kenangan di dalam sebuah barang yang kita miliki? Entah kenapa saya masih sering mengalaminya. Dan ternyata dalam psikologi konsumen, kondisi yang saya alami ini masuk dalam the extended self. Kondisi di mana seseorang sering kali membagi-bagi kenangan dalam hidupnya dalam sebuah produk yang dimilikinya. Itulah kenapa saya nggak ikhlas melepaskan tas kesayangan saya untuk dijiual.

Namun, saya harus realistis dengan kondisi sekarang, di mana saya memang perlu dana tambahan untuk membangun rumah impian kami. Untuk itulah saya akhirnya membulatkan hati untuk menjual beberapa tas kesayangan. Dan percaya nggak, setelah saya berhasil menjualnya, mengetahui ada seseorang yang benar-benar membutuhkan dan menginginkan tas tersebut, ada perasaan  lega yang menjalar ke seluruh tubuh. Sejak saat itu, saya tambah yakin kalau sebenarnya barang bekas bisa jadi apapun juga—termasuk tas jadi rumah!

Ngomongin masalah barang bekas jadi apapun juga, saya teringat dengan satu buah e-commerce yang menjadi sumbernya barang-barang bekas berkualitas, OLX. Saat saya berkunjung ke sana, saya melihat ada program baru yang namanya #BekasJadiApapun. Nah, program ini mengajak kita untuk nggak terjebak dengan ‘kenangan’ yang ada di dalam sebuah produk. Karena, sesungguhnya kenangan itu ada di dalam kepala kita, bukan produk!

Ada yang sudah mendengar program OLX yang satu ini? Atau jangan-jangan sudah ikutan? Soalnya program #BekasJadiLiburan ini memang sudah dimulai bulan ini. Bagi Mommies yang belum ikutan, langsung saja gabung. Caranya mudah, kok. Mommies hanya perlu mendaftar dan menuliskan apa, sih, impian atau keinginan Mommies saat ini. Setelah itu jangan  lupa tulis barang-barang yang bisa Mommies jual di OLX. Selain bisa mendapatkan barang impian setelah menjual barang nggak sudah tidak digunakan lagi, Mommies juga bisa memenangkan ragam hadiah menarik yang ditawarkan. Untuk informasi yang lebih lengkap, bisa langsung dilihat di website Bekas Jadi Liburan.

Mengingatkan kembali pada saya kalau banyak barang di rumah yang bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Jadi, nggak perlu pusing lagi kan? Ah, saya nggak sabar mau ikutan program ini, siapa tahu bisa memenangkan salah satu hadiahnya.

Jadi, melepaskan barang-barang bekas di rumah yang mungkin saja punya sejuta kenangan memang tidak akan merugi bukan?

 

 


Post Comment