Sophie Navita, Ibu Sayur yang Ingin Menularkan Cara Memproduksi Bahagia yang Tidak Palsu

Sophie Navita adalah sosok perempuan dan ibu yang sudah lama dikenal menerapkan pola hidup sehat secara natural. Tahukah Mommies kalau dirinya juga punya keinginan untuk menularkan cara memproduksi rasa bahagia yang sebenarnya, bahagia yang tidak palsu?

Sudah sejak dulu saya mengidolakan sosok selebriti yang satu ini. Bahkan saya cukup sering mengikuti dan ‘mengintip’ akun intstagramnya. Senang rasanya melihat segala potret aktivitas yang ia lakukan bersama keluarganya. Cara mereka hidup sehat, cara mereka menghabiskan waktu dengan melakukan kegiatan out door, termasuk soal hubungan dengan sang suami , Pongki Barata, yang saya anggap romantis dan cukup bisa digambarkan lewat foto dan video berdurasi pendek.

Beneran, deh, melihat video mereka yang sering nyanyi bersama di area rumah, dan disoroti cahaya matahatahi bikin saya baper, ahahahahaa. Senang aja, melihatnya. Selain itu, begitu melihat postingan foto-fotonya, saya juga sering diingatkan kembali betapa pentingnya work out dan menjalankan hidup sehat.

Nah, beberapa waktu lalu saya sempat berbincang dengannya di sebuah acara. Ternyata banyak sekali mimpi dan goals yang tengah ia rencanakan. Bagaimana ceritanya? Berikut kutipan obrolan saya dengannya waktu itu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kenapa akhirnya memutuskan untuk sekolah lagi?

Iya, saya memang mau sekolah di Endeavour College of Natural Health di Australia. Itu passion saya, ya. Selain public speaking. Saya rasa semua orang sudah cukup tahu kalau memang selama ini saya termasuk orang yang peduli dengan gaya hidup sehat, banyak bergerak di kesehatan natural, mulai dari Duta ASI, jadi konselor laktasi, lalu saya sempat kuliah di Amerika untuk belajar raw food, nah, mungkin ini nggak akan berbeda jauh masih ada garis merahnya.

Goal setelah sekolah?

Setelah sekolah ini saya berharap bisa punya ruang untuk mengekspresikan dan tempat saya menuangkan kekhawatiran saya terhadap masalah kesehatan, tapi bukan dengan cara bagaimana saya bisa mengobati, ya, karena saya ini bukan dokter. Tapi lebih ke sisi nutrisi dari awal, mulai dari ibu hamil diberikan nutrisi yang baik, sampai akhirnya lahir seorang anak jadi manusia baru yang bisa tumbuh sehat juga.

Apakah nantinya juga akan menjadi profesi baru?

Iya saya rasa arahnya begitu, ya. Tapi tentunya nggak akan meninggalkan passion saya dan bakat saya yang sudah diberikan Tuhan, yaitu public speaking. Saya tahu bahwa saya sudah punya bakat bagaimana bisa berbicara secara runut.

Oh, ya, Mbak kan belum lama meluncurkan buku, ceritain dong sedikit mengenai buku tersebut?

Iya, buku saya judulnya ‘Hati yang Gembira Adalah Obat’. Ini buku soal self growth. Kalau selama ini saya dikenal sebagai bu sayur yang sering ngomongin soal sayur-sayuran dan kesehatan terus, di sini saya menceritakan kalau sebenarnya percuma kalau kita selalu menstresskan diri untuk terus makan makanan yang sehat, tapi ujung-ujungnya sakit juga. Soalnya ada kan ya, tuh, orang yang menganggap ‘Oh, saya sudah rajin makan sayur, makan buah ini itu, sudah rajin olahraga, main futsal atau olahraga lainnya, tapi kok sakit juga’.

Padahal, inti adalah sebenarnya harus holistik, nggak cuma asupan makanan aja yang diperhatikan. Nggak cukup dengan pola istrirahat dan olahraga yang kadang saya melihatnya malah suka seperti dipaksakan. Menurut saya, semua itu kembali lagi pada hati yang gembira, gembira yang secara genuine, yang asli. Bukan gembira karena punya handphone baru, gembira punya pacar baru, tapi gembira yang bisa diproduksi diri sendiri dalam diri kita. Rasanya untuk abad sekarang ini, khususnya perempuan memang lebih sulit untuk men-generate karena perempuan hidupnya lebih ruwet. Karena bisa lebih multitasking.

Bagaimana kiat memproduksi rasa bahagia yang tidak palsu?

Buku saya ini sebenarnya tidak mengajarkan orang, tapi lebih ke catatan kecil yang semoga saja bisa menginspirasi. Tapi kalau diminta untuk memberikan intisari bagaimana, sih, bisa membuat bahagia dari diri sendiri, bukan bahagia yang palsu karena dibeliin tas baru, atau barang baru lainnya, bagaimana?

Kalau saya memberikan tips ada yang perlu diperhatikan, pertama adalah kenali diri sendiri dulu, siapakah Anda? Kalau tidak perlu menyerahkan name card, tidak perlu menyerahkan ID Pers. Coba tanya ke diri sendiri, kamu itu siapa? Misalnya saya ini adalah Sophie yang tugasnya  membuat hati saya gembira lebih dulu agar anaka-anak saya paham kalau hidup di dunia yang berat ini bisa, kok, bahagia. Apa fungsi kami di dunia ini. Fungsi itu dengan pekerjaan beda, lho, ya. Kedua, memaafkan. Apapun itu kita perlu mudah memafkan dan melupakan, kalau terus-terus marah malah kita sendiri yang akan susah, kemudian adalah bersyukur. Ini tampaknya mudah tapi susah banget banget ketika menjalaninya. Kita sebagai manusia kan sering banget lupa bersyukur. Sering merasa kurang.

—–

Aaah, saya kok setuju banget, ya, dengan apa yang dikatakan Shopie, bahwa dalam hidup ini ini memang perlu kemampuan untuk bisa memproduksi rasa bahagia yang seutuhnya. Bukankah, anak akan merasa bahagia apabila orangtuanya sudah merasa bahagia lebih dulu?


One Comment - Write a Comment

Post Comment