Berhentilah Bicara SARA dari Sisi Negatif di Depan Anak

Ditulis oleh: Saskia Elizabeth

Saat anak kita mengenal SARA dari sudut pandang yang salah.

Suatu hari, pulang sekolah, anak saya bercerita bahwa salah satu teman sekelasnya tiba-tiba berbicara pada teman sebangkunya seperti ini, “Kayaknya kita nggak bisa main lagi deh soalnya kata mama papaku agama kamu kasar.” JREENG. Saya yang sudah LELAH membaca timeline sosmed, dan berharap saat tidak melihat socmed dapat sejenak terbebas dari urusan SARA, ternyata harapan saya terlalu tinggi.

Ini menganggu buat saya sekaligus membuat saya parno. Bagaimana mungkin seorang anak berusia 6 tahun sudah dapat memilih teman berdasarkan SARA, tanpa ia paham SARA itu apa. Ketika ditanya mengapa ia bisa bilang begitu oleh teman sebangkunya, jawabnya adalah “Mama dan oma lagi nonton TV dan ngobrolin mengenai agama kamu, katanya mereka jahat karena suka rusuh.” OMG. Jadi hanya dari sebatas obrolan tanpa orangtua memberi pernyataan, seorang anak sudah dapat mengambil kesimpulan dan langsung mempraktikkan pada lingkungannya!

Bersama artikel ini yang saya ingin sampaikan simpel saja. Yuk, kita stop membicarakan hal tidak penting namun ternyata berdampak negatif pada anak seperti, bergosip kejelekan orang lain dan percakapan yang membuat orang lain atau suatu golongan tertentu terlihat buruk tanpa mengutarakan fakta yang ada. Terlebih di hadapan anak. Tanpa Anda sadari, Anda mendoktrin anak lewat gosip yang mungkin tidak ada faktanya, hanya berita dari mouth to mouth atau mencontek opini teman atau sumber yang tidak terpercaya.

Berhentilah Bicara SARA dari Sisi Negatif di Depan Anak

“Tau nggak sih si A pakai berlian baru, tambah kece ya coba kalau nggak pake berlian biasa ajaa dia.”

Apakah Anda tahu saat itu anak Anda berpikir, jadi hanya perhiasan yang membuat kita lebih cantik?! Jangan heranlah besok-besok dia minta dibeliin bando tiara, kalung Disney-lah dan lainnya. Secara tidak langsung kita membentuk kepercayaan diri dari tampak luar saja.

“Ih, paling sebel kalau makan di restoran XXX (menyebutkan salah satu ras), jorok!”

Hey, teman dekatnya anak Anda itu berasal dari ras itu lho. Anda tahukan ia dapat menyampaikan itu terhadap temannya, dan temannya akan berbicara pada orangtuanya yang merupakan teman Anda juga? Otomatis kita sudah menciptakan musuh.

Familiar? Selama ini pasti tidak sadar bahwa hanya dengan obrolan tidak penting dapat berdampak pada anak sejauh itu, kan?

Yuk ajar anak dengan kebaikan. Biarkan mulut kita menjadi gerbang perkataan yang penuh kebaikan serta info yang bermanfaat dan akurat. Melatih anak kita selalu melihat dan mencari tahu latar belakang dari suatu masalah, dengan selalu menjelaskan suatu keadaan beserta latar belakang terjadinya berdasarkan fakta. Dan, tanya opini mereka saat Anda sudah mengutarakan suatu info tersebut. Anda pasti akan takjub sendiri mendengar berbagai opini yang hadir di kepala mereka. Anak punya hak lho untuk memiliki opini sendiri!

Menyedihkan apabila yang melekat pada anak kita adalah ras XXX jorok, agama XX kasar, harta lebih penting daripada kebaikan. Anda melewatkan banyak hal besar yang dapat terjadi padanya apabila pikirannya tidak terkotak-kotak gara-gara opini yang terbentuk dari obrolan orangtuanya.

PR saya pribadi sekarang ini dimulai dari hal sederhana saja. Tidak keceplosan bergosip walaupun hanya membahas mengenai artis internasional macam Kim K dengan busananya yang “wah”, atau mobil dan rumah baru Justin Bieber bersama teman-teman saya saat playdate. Bisa-bisa anak saya berdandan selayaknya si Kim yang sangat sangat hot atau merengek minta dibelikan mobil sport hanya karena saya memuji kepedean Kim dan kekerenan barang-barang mewah Justin.

Orangtua yang bijak akan menumbuhkan anak-anak yang bijak. Yang mudah-mudahan suatu saat nanti generasi anak-anak kita merupakan generasi bijak yang dijauhi dari segala hal-hal negatif yang merugikan. Can I hear an AMIN, ladies and gentlemen?


One Comment - Write a Comment

Post Comment