Anakku, Seperti Apa Kamu 20 Tahun Mendatang?

Ditulis oleh Doni Wahyudi

Kita sepakat bahwa cerita kehidupan tidak bisa ditebak. Sebaik apapun mempersiapkan (ke)hidup(an) anak kita, tidak ada yang bisa menjamin semua akan baik-baik saja.

Ada banyak hal menggembirakan yang saya rasakan dan syukuri setelah menjadi bapak. Harapan-harapan baru, semangat besar, dan antusiasme yang meletup-letup masih terus ada sampai kini — enam tahun setelah Bumi, anak saya, lahir.

Tapi saya bohong kalau mengatakan cuma ada semangat dan antusiasme. Bohong kalau sama sekali tidak ada rasa khawatir atau takut. Malah, saya pikir, rasa takut dan khawatir itu sering berjalan beriring dengan setiap perasaan-perasaan positif yang muncul.

???????????????????????????????

Sungguh, sebaik apapun saya mempersiapkan diri dan mempersiapkan anak saya untuk menghadapi masa depan, semuanya tetap penuh ketidakpastian. Masa depan tetap sebuah tanda tanya besar. Mungkin hal yang sama Anda rasakan, para ayah di luar sana.

1. Apa Profesi Anak Saya Nanti?

Berbicara soal masa depan anak, target saya sebenarnya nggak muluk-muluk amat kok. Saya berharap Bumi minimal bisa mendapat pendidikan yang lebih baik dari saya dan istri. Karena saya dan istri ‘cuma’ lulusan S1, saya maunya Bumi lebih dari itu. Saya katakan ‘cuma’ bukan berarti sombong. Tapi 20 tahun dari sekarang (saat Bumi mulai masuk dunia kerja) tingkat pendidikan itu jelas kurang punya daya saing.

Bukan. Bukannya saya memaksa anak sekolah tinggi-tinggi dan kemudian jadi karyawan. Saya akan mendukung kalau dia nanti punya minat ke hal-hal lain di luar dunia kerja yang formal. Dengan dunia yang kini seperti tanpa batas, persaingan di sektor apapun bakal makin sengit. Kompetitor anak saya bukan cuma dari Indonesia saja, tapi dari seluruh dunia.

2. Logika vs Agama

Di umurnya yang 6,5 tahun sekarang ini, Bumi menurut saya sudah sering berpikir logis. Ini membuat saya sering kewalahan untuk menerapkan aturan-aturan karena dia berulang kali punya argumen jika tidak sepakat dengan aturan-aturan yang kami buat. Bukan sekadar menolak, tapi menolak dengan argumen.

Banyak pertanyaan yang diajukan Bumi berkaitan dengan Agama. Hal-hal yang tentu saja sulit dicerna dengan akal. Sebagian besar pertanyaan Bumi soal agama dan ketuhanan bisa saya jawab dan cukup memuaskannya. Tapi tidak sedikit juga yang tak tuntas. Tapi setelah empat bulan Bumi masuk SD (bernuansa) Islam, kekhawatiran saya yang satu ini mulai tergerus. Dia sekarang sudah hapal lebih banyak doa dibanding saya hahaha…

3. Awas Ajaran Sesat

Tentu saja saya ingin Bumi jadi anak sholeh. Taat menjalankan kewajiban-kewajiban dan tahu apa larangan-larangan yang ditetapkan berdasarkan agama (Islam). Tapi di tengah harapan saya  muncul kekhawatiran kalau dia bisa terpapar hal-hal sesat yang kita tahu sudah tersebar dan banyak ditemui di Indonesia.

4. Social Life

“Gila, pergaulan zaman gue muda aja udah sebegitunya. Bagaimana saat anak-anak gue besar nanti?” Saya yakin mayoritas orang tua (baca: bapak-bapak) pernah diganggu oleh pertanyaan itu dalam hatinya. Pertanyaan yang (sayangnya) hanya akan bisa dijawab oleh waktu. Dijawab oleh anak-anak kita nanti. Entah apakah mereka akan membaginya pada kita atau tidak.

Anak-anak muda sekarang lebih berani mengungkapkan ekspresinya. Saya sih termasuk orang yang sangat percaya kalau LGBT dan segala jenis penyalagunaan narkoba berawal dari pergaulan dan kehidupan sosial yang tidak sehat. Pengaruh-pengaruh negatif itu saya tahu akan sulit dihindari. Yang perlu disiapkan adalah penyaring yang kuat, yang semoga saja akan dipunyai Bumi nanti.

5. Apakah Indonesia Akan Membaik?

Saya cukup beruntung sudah melakukan perjalanan ke banyak negara di dunia dan melihat bagaimana kehidupan (hukum, ekonomi, pendikan, jaminan sosial dan lain-lain dan lain-lain) berlangsung di sana. Kondisi yang membuat saya bertanya-tanya kapan Indonesia akan bisa seperti itu. Di suatu periode waktu saya pernah sangat khawatir membesarkan anak di negara dengan hukum tidak ditempatkan di atas segalanya.

Pada suatu ketika sebelum menjabat presiden, Barack Obama pernah ditanya seorang bocah kenapa dia ingin jadi presiden. Obama ketika itu menjawab kalau dia ingin menciptakan situasi yang lebih baik (di Amerika Serikat) bagi anak-anaknya saat besar nanti. Saya tentu saja tidak berniat jadi presiden, tapi kalau boleh punya keinginan saya ingin membantu sekecil apapun memperbaiki situasi yang ada kini supaya negara ini sudah jauh lebih baik saat Bumi besar nanti. Semoga.


Post Comment