Pentingnya Anak Memiliki Kemampuan Social and Emotional Thinking

‘Pekerjaan rumah’ orangtua dalam pendidikan anak itu banyak banget, apalagi kalau  mau anak siap jadi warga dunia yang punya kemampuan dan integritas tinggi. Itulah kenapa anak perlu belajar Social and Emotional Thinking (SET) atau yang sudah kita kenal sebagai revolusi mental.

Bukan… bukan… mentang-mentang ngomongin soal revolusi mental, berarti saya mau ngomongin soal politik, atau menegaskan saat pemilihan Presiden RI kemarin saya menjadi pendukung keras Pak Jokowi, kok. Walaupun saya memang kagum dengan gerakan revolusi mental yang digalakkan oleh beliau. Menurut saya, revolusi mental ini nggak hanya perlu dipahami anak-anak saja, tapi kita sebagai orangtua dan pendidik tentu harus paham dulu apa yang dimaksud dengan revolusi mental.

ANAK BERTERIAK KE TEMANNYA

Dan ternyata penilaian saya bahwa revolusi mental ini keren juga diakui oleh Australian Independent School (AIS)! Sudah dua tahun belakangan ini mereka punya program kurikulum pendidikan yang menurut saya keren banget! Sampai saya berharap semua sekolah di sini mempunyai program serupa. Dan program ini pada dasarnya punya tujuan yang sama dengan revolusi mental.

Jadi, nama programnya adalah Social and Emotional Thinking (SET) yang fokus pada keseimbangan emosi dan sosial siswa.  SET ini punya peranan penting terutama untuk anak-anak yang memasuki dunia remaja, masa ketika mereka seringkali dihadapkan beragam konflik sosial yang jauh lebih kompleks.

Dengan memiliki kemampuan SET, anak-anak dapat belajar meregulasi emosinya dengan baik, artinya mereka bisa paham bagaimana menghadapi masalah dalam kehidupan, termasuk mencegah terjadinya tindak bullying. Nggak cuma itu, program SET ini juga bisa mengajarkan anak bagaimana punya kemampuan problem solving, punya rasa pede yang tinggi dan punya rasa empati terhadap lingkungan.

Siapa juga, orangtua yang nggak ingin anaknya punya kemampuan seperti itu? Kalau saya, sih, jelas mau.

Menurut Linzi Band, Pengajar SET di AIS, program SET ini perlu melibatkan orangtua, karena guru sebagai pendidik nggak mungkin berjalan sendirian tanpa dukungan dan kerjasama dengan pihak orangtua.

Program ini berlapis dan kurikulumnya sudah jelas, dilakukan setiap dua kali dalam seminggu. Ketika mengajar Linzi tidak sendirian karena didampingi guru yang berasal dari Indonesia. Katanya, biar bagaimanapun kultur budaya setiap negara tentu saja berbeda dan perlu pendampingan orang yang memang sudah memahaminya.

Kurikulum yang diajarkan untuk anak kelas 7,8 dan 10 juga berbeda. Buat saya, sih, kurikulumnya sangat penting. Sebagai contoh, kurikulum kelas 7 dimulai dari sense of self, kemudian lanjut sense of other, friendship dan cyber safety. Saya menangkap, kalau inti dari kurikulum ini nggak terlepas dari bagaimana berkomunikasi yang baik.

Dengan belajar belajar komunikasi yang yang baik, mengenal emosi termasuk mengungkapkan apa yang dirasakan, diharapkan anak-anak mampu menghadapi peer pressure, termasuk bagaimana menghadapi masalah ‘cinta monyet’. “Anak-anak itu terbiasa untuk berbicara dan bercerita. Mereka butuh didengar dan paham bagaimana cara mendengar yang baik. Karena ilmu mendengar sebenarnya perlu dipelajari,” ungkap Linzi. Kurikulum yang nggak kalah penting adalah bagaimana seorang anak belajar menumbuhkan pikiran yang positif sehingga tidak perlu dibatasi. Membuat mereka belajar untuk terus punya pikiran positif.

AIS

Buat saya yang sudah dewasa, pelajaran ini tetap saja perlu terus dikembangkan. Beruntung, kemarin saya bersama teman-teman media yang hadir dapat kesempatan melakukan workshop kecil-kecilan, di mana kami diminta untuk memisahkan kartu, mana kartu-kartu yang berisi kalimat yang bisa mengembangkan pola pikir positif dan mana yang sebaliknya.

Dari sekian banyaknya kartu yang dibagikan, ternyata kelompok saya masih melakukan kesalahan. Terbukti, ya, kalau growth mindset ini memang nggak mudah? Yuk, ah, kita sama sama belajar lagi dan memberikan contoh yang tepat buat anak-anak kita.


2 Comments - Write a Comment

  1. Keren banget…
    Saya kewalahan menghadapi remaja putri saya yang SET nya masih belum baik.
    Apalagi dia boarding school sekarang, berat banget bagi dia untuk bersosialisai, menghadapi peer pressure sehingga prestasi belajarnya melorot jauh.
    Adakah program SET ini di salah satu sekolah di indo?
    Salam kenal Adis

    1. adiesty

      Hallo Mbak Luchee… Assalamualaikum, salam kenal :)

      Iya, Mbak… program ini menurut saya, juga keren banget. Kurikulum yang diajarin ke murid secara lengkap dan berkesinambungan. Kayanya, untuk sekolah di Indonesia belum ada, deh, kurikulum serupa. Kalau pun ada paling hanya sebatas BP/ BK gitu kan… wadah konsultasi dengan guru secara individu. Kalau program SET di AIS ini berlapis, kalau memang anak masih terus bermasalah dan dilihat nggak ada perkembangan dr perilaku, akan diarahkan ke psikolog. Usia anak Mbak Luchee brp sekarang? Masih SD atau sudah remaja? Mungkin nggak ada salahnya Mbak ngobrol dengan psikolog anak, siapa tahu bisa membantu problem yang mbak alami saat ini :)

Post Comment