Memberikan Uang Saku untuk Anak, Perhatikan 4 Hal Ini Dulu

Ditulis oleh Prita Hapsari Ghozie, SE, Mcom, GCertFP,CFP®, QWP – Chief Financial Planner ZAP Finance.

Tahu nggak mommies, kalau anak perlu diajarkan untuk membagi uang jajannya dalam tiga pos.

Metode uang saku bisa diterapkan ketika mommies merasa bahwa anak sudah memenuhi minimal salah satu dari 3 kondisi berikut ini.

  • Anak memiliki keinginan membeli barang atau mainan dengan nilai besar.
  • Anak menyadari kebutuhan untuk menyimpan uang, bukannya menghabiskan seluruh uang yang dimiliki.
  • Anak mampu untuk berhitung dan mampu untuk bertanggung jawab dalam penyimpanan uang saku.

Jika anak mommies memenuhi salah satu dari 3 point di atas, maka inilah hal-hal yang sebaiknya diperhatikan dalam pemberian uang jajan anak.

IMG_3032

  1. Mencatat dan mengevaluasi penggunaan

Mommies bisa mengajarkan untuk membagi uang saku menjadi 3 pos misalnya dengan persentase 50:40:10. Artinya setengah dari uang saku bebas dibelanjakan anak untuk jajan dan belanja, 40% dari uang saku sebaiknya ditabung untuk dana pembelian barang yang bernilai besar di kemudian hari dan 10% disisihkan untuk dana sosial seperti kotak amal maupun sumbangan.

  1. Frekuensi pemberian

Hingga anak berusia 10 tahun, uang saku biasanya diberikan secara harian. Namun, di atas usia tersebut, ada baiknya mulai diberikan secara mingguan. Dengan konsep tersebut, anak akan belajar untuk membagi uang sakunya agar cukup memenuhi kebutuhannya selama periode tersebut. Mommies sebaiknya tegas kepada anak ketika mereka meminta tambahan uang saku karena menghabiskan uang saku sebelum periode berakhir. Ajarkan anak untuk menghadapi konsekuensi atas perbuatan yang dilakukannya. Misalnya daripada memberikan uang saku tambahan untuk jajan, ajarkan anak untuk membuat sendiri barang yang diinginkan.

  1. Kapan memberi tambahan uang saku

Uang saku juga bisa menjadi metode yang tepat dalam mengajarkan konsep kewajiban dan hak. Misalnya, anak bisa mendapatkan uang saku tambahan ketika membantu pekerjaan rumah yang sesuai dengan usianya. Momen khusus seperti lebaran mau pun pembagian rapor sebagai insentif atas hasil usahanya. Misalnya, saat anak memperoleh prestasi gemilang di sekolah berkat ketekunannya belajar, maka ada tambahan uang saku yang diberikan.

  1. Bentuk uang saku

Uang saku berbentuk tunai akan lebih mudah untuk dibelanjakan, namun lebih sulit untuk dicatat dan dievaluasi penggunaannya. Sedangkan, uang saku berbentuk kartu elektronik akan memudahkan orang tua untuk melakukan pengawasan. Hingga anak berusia 15 tahun, ada baiknya uang saku diberikan dalam bentuk tunai. Tetapi, ajak anak membuka tabungan atas nama sendiri untuk keperluan menabung.

Hal terakhir dan paling utama yang perlu dipahami Mommies dalam menerapkan konsep di atas adalah peran aktif orang tua untuk memberikan contoh dan berkomitmen dengan peraturan yang telah disepakati bersama si kecil. Live a beautiful life!

 Prita Hapsari Ghozie adalah seorang perencana keuangan independen, penulis buku laris “Cantik, Gaya, & Tetap Kaya” serta “Make It Happen,” pembicara, dosen dan ibu dari 2 orang anak. Sebagai Founder dan Chief Financial Planner di ZAP Finance – sebuah konsultan perencanaan keuangan independen di Indonesia. Berpengalaman lebih dari 8 tahun sebagai perencana keuangan dan didukung latar belakang edukasi di bidang keuangan, Prita memiliki kompetensi untuk memberikan saran dan rekomendasi dalam hal keuangan.


Post Comment