Drama Anak Sakit? Ya Udah, Dijalanin Aja

Ditulis oleh: Dewi Warsito

Selalu ada drama di balik sakitnya anak yang sukses membuat saya sakit kepala. Yah, nikmati sajalah ya :D. Ini 5 drama yang selalu saya alami saat anak sakit.

Kadang sakitnya (cuma) batuk dan pilek, yang sebenarnya dengan istirahat cukup, banyak konsumsi cairan, dan mungkin sesendok madu setiap hari, nggak lama bakalan sembuh. Cuma, ya, namanya anak-anak, kan? Bersin sedikit, yang dipanggil mama. Kesal nggak bisa tidur karena hidung mampet, yang dipanggil mama juga. Belum jerit-jerit nggak mau makan, semacam mau dikasih racun.

Ya, udahlah, ya, dijalanin aja, yang penting anak bisa nyaman dan mau makan. Jangan lupa juga, kita sendiri jaga kesehatan karena seringkali ‘dramanya’ bikin mental dan fisik kita terpengaruh. Nggak lebay, kok, ini. Berikut adalah bentuk-bentuk drama saat anak sakit, yang mungkin akan Anda alami. Beberapa di antaranya, sih, saya sudah khatam :D.

drama anak sakit

Sejuta Topan ‘Mama’

“Mama…aku pusing.”

“Mama…aku ngantuk.”

“Mama…aku nggak bisa napas.”

“Mama…aku bosan.”

Dan sejuta “mama” mungkin akan masuk ke telinga sepanjang hari. Iya, sih, yang namanya mama juga manusia. Bisa cepat emosi, apalagi kalau ada kerjaan lain belum kelar, dia sudah manggil-manggil lagi. Tapi, sebelum emosi, harus kita sadari juga, bahwa anak sedang merasa nggak nyaman. Kalau sudah tidak ada lagi yang bisa saya lakukan, memeluknya adalah cara yang paling ampuh.

Konser “Baby Metallica”

Siapkan kuping untuk mini konser ala Metallica. Ya, akan banyak tangisan dan jeritan terdengar ketika anak merasa nggak nyaman karena hidung mampet, nggak mau makan, atau karena si kakak nggak sengaja menendang kakinya (sementara si kakak berkeras cuma menyentuh jempol kakinya). Hmm…siapkan hati juga, sih. Soalnya kita bakal jadi sering emosian.

Semua Serba Salah

Apa pun yang kita bikin, atau lakukan bisa jadi bakal salah semua. Entah tisue buat bersinnya yang salah, sup ayamnya kepanasan, nasinya keras (padahal yang dikasih nasi tim). Hayo, siapa yang senasib sama saya soal ini? :)

Sekolah…Nggak…Sekolah…Nggak…

Ada kalanya anak berkeras untuk tetap pergi ke sekolah, sampai dia jerit-jerit gegoleran di lantai, nggak mau berhenti kalau belum pakai seragam. Padahal, kita tahu, kita bakal dapat slepetan ibu-ibu di sekolah, karena tega membiarkan anak tetap masuk padahal hidungnya lagi ingusan. Kalau sudah begini, saya harus pintar-pintar cari akal, bagaimana dia tetap nyaman di rumah, dan nggak banyak ‘ulah’ supaya istirahatnya cukup. Sampai detik ini, buat saya cara ampuh, ya, sediain kertas kosong banyak-banyak sama pensil warna, dan umpetin mainan yang bikin dia kebanyakan gerak.

Gunungan Cucian

Yang namanya lagi sakit, udah pasti anak bakal sering ganti baju. Bisa karena sering berkeringat, terkena muntahan, atau sesederhana dia merasa nggak nyaman, lalu minta ganti baju. Biar nggak numpuk, dan mengontaminasi cucian yang lain, biasanya saya pisahkan embernya. Begitu ada waktu langsung saya rendam air hangat dicampur deterjen. Baru kemudian dicuci di mesin cuci. Cuci pakai tangan? Duh, nggak sempat. Hahaha…

‘Anak Paling Gede’ Ikut Sakit

Wah, paling bahaya kalau ini, sih. Kalau anak yang paling besar alias suami ikut sakit, dramanya mungkin ngalah-ngalahin yang kecil-kecil. Sarannya cuma satu, tabahkan hati, karena artinya, mulai detik ia memproklamirkan dirinya sakit, saat itu kita berjuang ‘sendiri’. Hahaha…


Post Comment