Waspada Asfiksia Neonatorum, Bisa Sebabkan Gagal Napas pada Bayi

Mari kita cari tahu tentang Asfiksia Neonatorum yang kehadirannya membahayakan bayi baru lahir, karena bisa menyebabkan gagal napas.

Kalau ngomongin tentang penyakit pada anak-anak, saya suka malas sebenarnya. Nggak kuat dan jadi membuat saya paranoid. Masalahnya, di sisi lain, pengetahuan macam ini sebenarnya bisa menjadi alarm untuk saya sebagai orang tua, maupun orang-orang yang menjaga anak saya, Jordy. Apalagi jika si kecil masih bayi, yang rentan banget sama penyakit.

Nggak heran, di awal kelahiran Jordy, Papa selalu wanti-wanti agar saya lebih hati-hati. Bahkan sampai harus memerhatikan benda di sekitar Jordy yang bisa menghambat jalan napasnya, misalnya selimut yang bisa menutupi hidung Jordy.

Hati-hati Asfiksia Neonatrum, Bisa Sebabkan Gagal Napas pada Bayi

Wajar sih papa bawel, karena papa sempat mendengar mengenai istilah “gagal napas” yang biasanya dialami bayi baru lahir. Dalam dunia kedokteran, keadaan ini disebut dengan Asfiksia Neonatrum – Asfiksia Neonatorum adalah kegagalan napas secara spontan dan teratur pada saat lahir atau beberapa saat setelah lahir. Disebabkan oleh kurang tersedianya oksigen dan atau kurangnya aliran darah ke berbagai organ bayi.

Berhubung sekarang saya sudah kerja di Mommies Daily, makanya saya mau menulis tentang ini dan tentu saja bertanya ke ahlinya, yaitu dr. Meta Hanindita dari RSUD Dr Soetomo Surabaya. Menurut dr Meta, ada beberapa faktor risiko yang menyebabkan terjadinya Asfiksia Neonatorum pada bayi baru lahir. Yaitu:

  1. Faktor ibu: infeksi (korioamnionitis), toksemia atau eklampsia, penyakit kronik ibu (hipertensi,penyakit jantung, penyakit ginjal, penyakit paru dan diabetes melitus).
  2. Faktor janin: prematuritas, bayi KMK, gawat janin, bayi kembar, kelainan bawaan, inkompatibilitas golongan darah, dan depresi susunan saraf pusat oleh obat-obatan.
  3. Faktor persalinan kelahiran: polihidramnion, oligohidramnion, perdarahan pranatal (plasenta previa, solutio plasenta), kelainan his, dan kelainan tali pusat (tali pusat menumbung, lilitan tali pusat).

Jika bayi mengalami Asfiksia Neonatrum, namun berhasil distimulasi setelah beberapa menit, menurut penelitian, bayi tidak akan mengalami dampak serius di kemudian hari. “Anak yang mengalami  asfiksia namun setelah distimulasi bisa bernapas dalam beberapa menit menurut penelitian bisa normal-normal saja kok. Tapi, kalau lama, akan ada akibat bagi si anak,” papar dr. Meta, yang diterjemahkan dalam tabel berikut ini.

Hati-hati Asfiksia Neonatrum, Bisa Sebabkan Gagal Napas pada BayiPencegahan yang terbaik dan bisa dilakukan oleh mommies adalah antisipasi. “Penting banget untuk mengidentifikasi janin yang kemungkinan berisiko tinggi terjadi asfiksia, supaya bisa dimonitor ketat. Ibu yang punya risiko tinggi juga harus melahirkan di Rumah Sakit dengan dokter spesialis anak yang mempunyai unit perawatan intensif. Selama persalinan, tim medis harus siap juga,” tutup dr. Meta.


Post Comment