Mari Berhenti Menjadikan Anak Sebagai Investasi

Serius hari gini masih ada orang tua yang menganggap anak adalah investasi untuk masa tua nanti? Well, sorry, tapi saya tidak sejalan dengan pendapat ini!

Dalam sebuah acara kumpul keluarga besar saya, topik obrolan lagi seru membahas mengenai biasata pendidkan anak yang semakin mahal, yang sukses membuat keringat orang tua mengalir deras, hahaha. Tiba-tiba, saya mendengar celetukan yang cukup menganggu semacam ini  “Sekarang pendidikan anak mahal sekali, yaaa… uang pangkal anak SD saja sudah puluhan juta. Belum lagi uang bulanan dan yang lainnya. Bikin pusing. Tapi, nggak apa-apa, sih, tho, anak itu kan investasi orangtua, ya.” Kesal kan dengarnya? Eh, saya sih kesal ya.

Kelar urusan celetukan gengges ini, nggak berapa lama saya melihat postingan seorang teman di social media. Di caption foto anaknya, ia menulis ‘Investasi masa depan.’  Wait… dalam hitungan detik saya dibuat tertegun dan lantas berpikir, benarkah apabila kita- para orang tua-  menganggap anak sebagai investasi?

Setahu saya, investasi tuh logam mulai, properti atau tas branded yang harganya sama dengan uang muka kendaraan itu lho! Tapi saya nggak pernah dengar ada jenis investasi dalam wujud anak. Kenapa telinga atau mata saya gatal saat mendengar atau membaca tulisan seperti itu? Karena artinya dengan menganggap anak adalah investasi, kita berhitung untung rugi di dalamnya. Seriously?!

Dan SAYA TIDAK SETUJU!

anak investasi orangtua

Pertama, yang harus kita ingat sebagai orang tua, anak itu tidak meminta untuk kita lahirkan. Anak juga tidak bisa memilih siapa orang tua yang mereka inginkan. Jadi, kalau dengan kehendak Tuhan, kita yang membawa mereka ke dunia, kok miris ya kalau belum apa-apa kita sudah menjadikan anak sebagai investasi untuk masa tua kita nanti.

Kedua, kalau belum apa-apa kita sudah berpikir anak adalah investasi orangtua, takutnya ini akan membuat kita memiliki pola asuh yang keliru.  Namanya investasi kan di mana-mana harus menguntungkan ya, jadi dengan menganggap anak adalah investasi kita jadi cenderung ingin anak sukses sesuai standar kita, bukan sesuai keinginan mereka. Ujung-ujungnya bisa jadi kita memberikan dorongan yang mungkin membuat anak merasa tidak nyaman.

Apakah saya ingin Bumi, anak saya menjadi orang sukses? Tentu saja.

Apakah saya ingin Bumi menanggung masa tua saya? Insyallah nggak.

Tugas saya dan suami adalah membimbing dan mengarahkan anak menuju kesuksesan seperti yang mereka inginkan. Sesuai dengan keinginan sendiri. Bukan berdasarkan keinginan saya atau suami. Membiarkan Bumi meraih mimpi-mimpinya, bukan mimpi kami.

Bukankah apa yang menurut kita terbaik untuk anak, belum tentu benar-benar terbaik untuk anak? Setidaknya saya pernah menjadi anak. Pernah merasakan bagaimana tidak enaknya melakukan sesuatu yang tidak saya inginkan, hanya sekadar menuruti kemauan orang tua. Lalu, apakah hal ini mau saya ulangi ke anak saya? Tentu saja tidak.

Ketiga, saat saya dan suami sudah tua dan keriput nantinya, saya hanya ingin anak saya mencinta kami dengan tulus. Tanpa ada embel-embel membalas budi. Jike dia sukses, mapan dan bahagia, saya akan bahagia. Tapi bukan berarti saya lepas tangan dalam menyiapkan masa tua saya bersama suami kelak.

Bukankah memang idealnya cinta yang diberikan orangtua pada anaknya tidak memandang untung dan rugi?


2 Comments - Write a Comment

  1. Semoga yang posting di path bermaksud menulis “sekolahnya anak”, “lesnya anak”, “bermainnya anak” merupakan investasi masa depan untuk anak bukan untuk ortu.

    Lebih sedih kalau ortunya tidak mempersiapkan masa depan, masa pensiun sehingga menjadi anak sebagai aset yang kelak harus membiayai kita sebagai ortu. Ini jadinya anak sbg investasi. Yuk jadi ortu yang berdaya sekarang dan nanti.

Post Comment