Saat Anak Bertanya Tentang Kaya dan Miskin

Ditulis oleh: Saskia Elizabeth

Saat anak saya pada akhirnya mulai sadar tentang perbedaan materi dan sosial di lingkungan sekitarnya, saya pun melakukan beberapa hal ini.

Saat anak saya memasuki usia sekitar 4-5 tahun, dia mulai kritis dan curious. Semua ditanya. Salah satu topik yang  menarik untuk Big S adalah seputar material, seperti:

“Kenapa si A selalu ganti-ganti sepatu sekolah, sedangkan ia hanya memiliki 2 sepatu sekolah?”

“Kenapa si B kalau liburan ke Disneyland terus mam? Aku baru satu kali, itu juga masih kecil sudah lupa.”

“Kenapa rumah si C seperti istana?”

“Kenapa mobilnya si D keren, pintunya bisa buka sendiri dan bisa keluarin kepala di atas mobil? Tapi si E selalu diantar naik motor ke sekolah?”

Jadi anak saya sudah bisa memerhatikan perbedaan materi dan sosial dari hal-hal kecil yang ada di lingkungan rumah dan sekolah.  Saya coba menjelaskan dengan bahasa yang paling sederhana:

saat anak bertanya tentang kaya dan miskin

1. Apapun yang orang lain miliki, tetap bersyukur dengan apa yang kita memiliki.

Membandingkan itu hal yang biasa, sisi positifnya si anak sudah peka akan perbedaan. Namun, jangan jadikan hal-hal yang dimiliki orang lain menjadi suatu keharusan untuk kita miliki juga. Daripada berpikir keras mengapa ia punya lebih, lebih baik anak memaksimalkan apa yang ia punya.

2. Akan ada orang yang memiliki lebih banyak uang dari kita, dan ada orang yang uangnya kurang dari kita.

Jangan jadikan ini sebagai patokan saat memilih teman terdekat. Karena uang bukan manners, attitude, and behavior. Perlakukan orang sama-sama baik. Karena kondisi orang tidak akan selamanya seperti itu. Bisa saja berubah.

3. Uang itu harus dicari, tidak akan datang sendiri.

Ia bisa hilang dan bisa bertambah tergantung seberapa rajin kita mencarinya. Gunakan sesuai kebutuhan, lalu ditabung, dan berbagi dengan yang kurang mampu. Tidak perlu dipamerkan, karena itu bukan hal yang baik. Dan, apabila ada temannya yang membanggakan uangnya, jangan melakukan hal yang sama. Uang tersebut bukan berasal dari diri sendiri melainkan milik orang tuanya.

4. Orang tua pun hindari membandingkan atau menggunakan tolak ukur dengan materi yang lebih tinggi.

Contoh, bilang ke anak “Kita tidak usah pipis di rumah si A karena jelek toiletnya,” “Jangan makan di rumah makan itu karena tampak tidak bagus.” Dengan begitu terbentuk di pikiran anak bahwa toilet di rumah kecil pasti jelek dan kalau makan jangan di tempat makan yang kecil dan sederhana tapi di mall atau di resto bagus saja.

5. Bangga dengan prestasi dan pekerjaan yang kita miliki.

Kalau kita saja malu, maka anak akan berpikir bahwa apa yang dimiliki sekarang itu memalukan. Jelaskan ada berbagai pekerjaan dan semuanya menyenangkan apabila memang suka sesuai minat. Bahwa kelebihan orang lain tidak semuanya sama dengan kelebihan yang kita miliki. Contoh sederhana, si A suka sepak bola, terlihat keren dan semua anak laki-laki di kelas memilih kegiatan itu, tapi kita sebagai orang tua tahu si anak memiliki bakat menggambar. Semangati terus, saat ia serius gambar maka ia akan berprestasi.

6. Jangan pernah hanya merasa bahagia saat memiliki materi yang berlebih saja, ajari mereka bahwa menghargai hal-hal kecil pun dapat membuat kita bahagia.

saat anak bertanya tentang kaya dan miskin

Saat liburan sekolah jangan langsung menetapkan standar kalau liburan harus menginap di hotel. Bangun siang dan tidur sampai malam, dapat menginap di rumah oma, tidak perlu membereskan mainan sampai keesokan harinya, boleh makan cake cokelat yang lezat sebanyak 2 potong, atau banyak hal sederhana lain yang bisa membuat kita happy saat liburan datang.

Dengan berjalannya waktu, anak-anak saya tetap akan cerita mengenai kelebihan teman-temannya, tapi tidak dengan nada heran dan iri. Mereka paham kalau cara mama papa mereka beda dengan mama papa temannya.

Tapi deg-degan saya sepertinya tidak berhenti sampai di sini, saya tahu masih akan ada beribu pertanyaan yang saya akan hadapi sampai akhirnya ia cukup dewasa untuk mencari jawabannya sendiri.

Well, cheers for parenting life, where parent must be the smartest person in the world who can answer all the questions from the children!


3 Comments - Write a Comment

  1. Wuah, pas banget… baruuu aja kejadian masih fresh dengan yang dialami. Kebetulan lagi di Mall dan masuk ke sebuah store fashion si kecil, seperti biasa putri saya Aimee akan mengeksplor seluruh penjuru toko sendiri dengan mencoba ini-itu dan memadu padankan nya di cermin. Dan seperti biasa.. jika mungkin menurutnya barang tersebut keren dan ia ingin memilikinya, ia akan bertanya atau minta dibelikan kepada saya. Tetapi kali ini ada yang berbeda, saat saya tidak mengizinkannya memasukkan item yang diinginkan ke keranjang belanja, ia spontan mengeluarkan pertanyaan yang nyaris membuat saya keselek price tag :p
    “Kenapa ya Bun, kita kalau belanja itu harus lihat price tag dulu, dan pasti ada yang Bunda bilang gak perlu atau belinya nanti kalau gajian. Tapi tante yang itu yang “dijajal” pasti dimasukin ke keranjangnya (sambil berbisik dan menunjuk ke arah seseorang). Berarti kita lebih miskin dari si Tante itu ya Bun?”
    Saat itu rasanya pingin nyemil price tag aja deh dibanding ngejawab dengan sok wise. HAHAHAH…. akhirnya cuma mampu menjawab “Orang yang mampu belanja semua yang diinginkan dengan orang yang memilih barang yang dibeli dengan uang yang ia miliki untuk dihabiskan itu gak bisa langsung dibilang kaya atau miskin. Miskin itu saat kita sama sekali tidak mampu bersedekah atau berbagi apapun lagi kepada yang membutuhkan karena memang kita gak punya apa-apa lagi untuk dibagi dengan yang lain. Nah itu baru namanya miskin… Kalau Bunda selalu lihat price tag waktu belanja ya karena memang kita harus membeli yang bener-bener kita butuhkan. Jadi dengan uang yang kita punya, kita ga akan ngerasa kekurangan karena semua kita itung dulu.”
    Meskipun dalem hati sih menjerit “akuh juga mau ya Tuhan… belanja gak perlu ngintip price tag lagiiiiiii” HAHAHAHAHAHA

  2. Dari kecil aku sudah diajari untuk hidup sesederhana mungkin
    Kaya atau miskin bukan dilihat dari banyaknya materi yang dimiliki tapi bagaimana kita bisa syukuri materi yang kita miliki. Dari kecil ibuku mengajariku untuk selalu melihat harga barang yang akan dibeli. Bukan pelit atau apa tapi semua anak ibu diajari bagaimana kita bisa membatasi diri sesuai umur kita dan belajar untuk berpikir apakah barang yang mau dibeli benar2 penting untuk kebutuhan kita.. Jadi sampai sekarang kita sudah dewasa dan berumahtangga kita tidak pernah iri satu sama lain dan sudah terbiasa dengan ajaran ibu bahwa “materi bukanlah segalanya. Walau terkadang kita memang butuh. Kelak nanti kalau kamu sudah dewasa kamu akan mengerti nak, bahwa mencari uang itu tidak mudah dan apabila kamu memiliki sesuatu barang dengan cara yang halal apalagi kamu berusaha dengan maksimal maka kepuasan dari diri sendirilah yang akan kamu rasakan nantinya. Ingat! Jangan pernah mengemis atau meminta2 pada orang lain untuk mengingini barang milik orang lain. Berusahalah sendiri dan selalu ingat pedoman berhemat.”
    Aku akan selalu ingat ajaran ibuku dan akan kuajarkan juga kepada anak2ku demikian
    Selalu bersyukur dengan apa yang kita punya, jangan pernah sekalipun mengingini apa yang orang lain punya. dan berusahalah jangan menjadi orang yang malas kelak, karena malas pangkal kebodohan dan kemiskinan, uang tidak akan jatuh begitu saja dari langit, tapi kita harus menuai sesuai apa yang kita mau tabur.
    Ig @mrsstefunie

Post Comment