Amelia Virginia, “Bekerja Membantu Kesembuhan Saya dari Post Partum Depression”

“Perempuan harus menerima kodrat sebagai Ibu. Pelajaran inilah yang saya rasakan ketika mengalami Post Partum Depression”, Amelia Virginia.

Masih ingat beberapa waktu lalu dengan pemberitaan seorang ibu yang mengalami  Post Partum Psychosis (PPP). Pemberitaan ini sempat membuat geger semua orang. Selain PPP, kondisi perlu dikhawatirkan dapat dialami ibu baru adalah adalah Post Partum Depression (PPD).

Adalah Amelia Virginia, seorang perempuan yang sudah sempat bercerita bahwa dirinya mengalami PPD sebulan setelah melahirkan. Kondisi yang membuatnya merasa tidak bahagia menjadi seorang ibu, bahkan membuatnya ingin mati sesaat.

amalia_rev_2

Belum lama ini saya berkesempatan bertemu dengannya. Ditemani secangkir kopi, obralan kami begitu mengalir. Banyak cerita yang diungkapkan perempuan yang kini menjabat sebagai PR Manager OLX. Topiknya juga nggak hanya terbatas mengenai PPD. Yang jelas, waktu itu perempuan yang sering saya sapa dengan sebutan Amel ini mengatakan, kalau kesembuhannya dari PPD tidak hanya kerena keinginannya sendiri untuk bisa kembali ‘waras’, namun dikarenakan ia bisa kembali bekerja sehingga bonding dengan buah hatinya, Nay, bisa berjalan dengan maksimal.

Waktu itu Mbak Amel sempat mengalami Post Partu Deppresion. Awalnya bagaimana, sih, bisa menyadarinya?

Saya nggak merasa jadi diri saya, setiap hari saya marah, marah dengan diri sendiri, nggak suka dengan anak sendiri, dan sebal dengan Tuhan. Bahkan rasanya mau mati. Gue kok gini banget, sih? Kalau kata orang Jawa itu nelongso. Kok, kata orang punya anak itu enak? Tapi kenapa gue ngerasainnya kaya gini,? Boleh nggak gue mati sebentar saja? Kenapa sebentar? Karena saya tahu ada anak yang sebenarnya membutuhkan ibunya. Saat itu yang jelas, anak jadi beban, bukan rasa bahagia. Tapi, setiap merasa seperti itu, saya juga merasa, duh dosa amat ya kalau saya seperti ini.

Jadi masih ada perasaan seperti itu? Menyesal dan merasa dosa?

Iya, untungnya masih ada. Kalau nggak ada, nggak tahu deh seperti apa jadinya. Sebenarnya yang membuat stress itu adalah konflik batinnya.  Itu mulai muncul satu bulan setelah melahirkan, dan ini salah satu ciri-cirinya. Waktu di Rumah Sakit, saya sama sekali nggak mau gendong, waktu melahirkan hanya bisa ngerasa capek. Waktu itu saya memang PCOS, punya masalah dengan hormon.

Saat konsultasi dengan psikolog memang dijelaskan kalau PPD dikarenakan masalah hormon?

Sayangnya waktu itu psikolog yang saya temui nggak membahas soal itu, tapi memang katanya perempuan yang mengalami PPD adalah mereka yang mengalami masalah saat melahirkan, misalnya karena sesar, tapi saya melahirkan secara normal, saat hamil juga baik-baik saja. Support system juga sangat baik.

Pertama kali datang ke psikolog, waktu itu ada formulir yang harus saya isi. Waktu itu saya bilang kalau saya ingin mencintai anak dengan tulus dan ikhlas, tapi saya nggak bisa. Akhirnya waktu itu psikolog tanya bagaimana hubungan saya dengan ibu dan ayah. Menurutnya ada yang salah dengan pola asuh orang tua saya,

Memang benar ada masalah dengan orang tua?

Ada titik yang membuat saya merasa seperti itu. Jadi ada penelitian mengenai ghost in the nursery, kondisi di mana ada bonding antara ibu dan anak yang terganggu. Bisa dibilang, saat masih kecil saya ini anak yang baperan, cepet sedih. Perasaanya sangat halus, sementara ibu saya kurang peka dengan hal ini. Dulu saat SD saya pernah mengalami pusing dan mual kalau masuk kelas, waktu di-drop di sekolah, saat bapak saya pergi, saya sedih.

Kedua orang tua saya itu over protective. Mereka serba khawatir, jadi bisa dibilang saya ini selalu hidup enak. Ketika saya menemukan masalah, mereka yang selalu bantu. Sampai SMA. Sampai kuliah saja, saat saya belajar naik mobil mereka mengikuti dari belakang. Menurut saya, sih, PPD bisa terjadi memang karena bonding yang salah. Ketika saya ada masalah saya jadi gampang stress. Dari awal saya anaknya sudah baperan, ditambah  orangtua terlalu protektif. Bayangkan saja, saya baru bisa naik taksi tahun 2011 saat sudah kerja karena butuh mobilisasi yang tinggi.

Jadi selama ini nggak pernah naik bus umum, dong?

Nggak pernah, dan inilah yang saya nggak ingin terjadi dengan anak saya. Nggak mau membuat anak saya hidup terlalu nyaman. Karena itu semua, saya  juga tumbuh jadi orang yang nggak percaya diri.

Lho, mengingat saat ini profesi Mbak Amel adalah PR?

Tapi kalau untuk profesionalisme itu mau nggak mau harus, ya.  Tapi ketika profesionalisme itu ditanggalkan dan saya harus jadi diri sendiri, saya nggak bisa. Percaya nggak, bahkan sampai sekarang kalau lagi jalan-jalan sama suami, dan makan di tempat baru, saya harus berada di belakang suami. Nggak PD.

Oh, ya, ketika mengalami PPD, bagaimana dengan support suami?

Suami saya itu sangat suportif, tapi dia nggak tahu itu apa. Sejauh ini yang saya tahu suami saya nggak selingkuh, mana dulu saya jerawatan banyak banget, marah-marah melulu. Suami saya memang kurang sensitif. Dulu saya malah yang sempat mikir kalau kalau begini kita cerai saja, deh. Kalau dipikir sekarang setelah saya sudah waras, ya bagaimana suami mau support, dia kan juga kurang paham.

Selain konsultasi dengan psikolog, menurut Mbak Amel hal apa yang akhirnya membuat lepas dari PPD?

Saya sembuh karena kembali kerja. Jadi, dulu saat 3 bulan saya memang resign karena pekerjaan yang penuh tekanan, di waktu yang bersamaan dapat tawaran jadi dosen. Jadi saya pikir, enak ya jadi dosen seperti ini, apalagi jadi dosen itu  adalah impian saya. Saat itu berpikir untuk jadi freelancer saja.

Pelajaran yang Mbak Amel petik dari peristiwa PPD?

Perempuan itu harus menerima kodrat, waktu itu kan sebenarnya ada penolakan. Harusnya kan saya bisa bersyukur sudah dipercaya Tuhan, ada manusia yang hidup di dalam rahim dan harus dijaga. Kodrat saya ini jadi ibu, dari sini saya juga bisa belajar bagaimana bersikap dengan suami. Tadinya kan gontok-gontokan terus.Saya baru bisa ‘sembuh’ setelah balik kerja lagi.

Hingga saya  bertemu sekorang teman, beliau dosen yang sering memberikan tamparan buat saya, dan mengingatkan untuk bisa lebih bersyukur. Dia bilang, ‘Amel… hidup menjadi orangtua itu bukan hanya untuk membuat anak tinggi semampai dan cantik saja, jangan sampai rasa nggak PD kamu justru menghambat Nay tumbuh jadi anak yang bahagia’.

Saat itu yang bikin turning point buat saya. Kenapa fokusnya selama ini malah ke saya saja? Kenapa nggak fokus ke Nay? Dia happy, kok. Sampai pada satu titik saya pun bisa menerima dan keras kepala untuk bersyukur. Dulu kan yang ada penolakan aja semua.

Buat saya, sebagai orangtua tugas saya adalah pantau saja perkembangan anak, yang penting bukan kelainan yang perlu dikhawatirkan, yang penting anak aku sehat bahagia. Itu yang paling penting.

Bagaimana cara Mbak Amel membuat Nay bahagia?

Ada di sana, saat Nay membutuhkan. Anak itu kan sebenarnya nggak butuh mainan mahal dan bagus, yang mereka butuhkan adalah kita sebagai ibu ada di sampingnya saat dibutuhkan. Dan ini nggak bisa saya lakukan sebelum saya kembali bekerja. Saat saya selalu di rumah, bonding-nya malah salah. Setiap hari bertemu dengan Nay, kok, saya malah jadi marah-marah terus. Percaya atau nggak, nggak lama setelah saya bekerja, perkembangan Nay juga justru malah lebih cepat melesat.

Ngomong-ngomong, Mbak Amel itu tipe ibu yang seperti apa, sih?

Saya itu ibu yang kaku. Saya  juga tipe ibu pencemas, dan lama-lama rasa ini memang perlu saya kurangin. Karena sekarang yang paling penting adalah membahagiakan Nay, dengan cara sederhana, mulai saja dengan nemenin saja.

TFS, Mbak Amel! Perbincangan kita memberikan insight penting buat saya dan Mommies yang lainnya :)


Post Comment