Single Working Mom, Yuk, Tetap Bahagia

Menjadi ibu bekerja plus tanpa pasangan, tantangannya pasti seru banget ya! Jadi, pastikan kita sendiri bahagia dulu agar bisa membesarkan anak dengan tenang.

Tahu nggak, kalau Indonesia masuk dalam kelompok negara dengan tingkat perceraian tertinggi di dunia? Pada tahun 2012 saja, ada 40 perceraian yang terjadi setiap jam di Indonesia, menurut Kasubdit Kepenghuluan Direktorat Urais dan Binsyar Kementerian Agama.

Sayangnya, tidak semua perempuan bercerai yang memiliki anak mendapatkan tunjangan untuk anak dari mantan suami. Maka bekerja menjadi satu-satunya pilihan agar hidup dapat terus berjalan.

Rentan stress? Rasanya sih iya. Padahal, untuk membesarkan anak dengan baik, kondisi emosi seorang ibu juga harus baik. Jauh-jauh dari stress (atau jangan terlalu stress).

Jadi, saya si Mrs kepo ini bertanya ke teman-teman single working mom saya, bagaimana cara mereka agar bisa tetap happy di tengah kondisi yang penuh tantangan ini? Ini jawaban mereka:

Single working mom bahagia

1. Saat akan memasukkan anak ke sekolah, sebisa mungkin saya mencari sekolah yang dekat dengan rumah, agar mudah diantar jemput oleh ART. Tidak pusing mikirin antar jemput anak membuat beban berkurang jauh, lho, hahaha.

2. Saya bersikap jujur dengan atasan dan rekan-rekan kerja mengenai kesulitan saya, sehingga mereka memahami kalau sewaktu-waktu saya perlu keluar kantor untuk urusan anak. Saya nggak perlu pusing mencari alasan. Jujur itu lebih enak.

3. Saya bergabung dengan komunitas ibu-ibu single. Komunitas ini menjadi tempat saya curhat dan meminta masukan, saat saya lagi lelah dengan semuanya. Mempunyai sahabat yang paham banget dengan apa yang saya rasakan, membuat semuanya terasa lebih mudah.

4. Saya memastikan hubungan saya dengan mantan suami tetap baik-baik saja. Saya nggak butuh drama tambahan jika hubungan dengan mantan suami buruk.

5. Saya memiliki kotak curhat. Tempat saya menyimpan semua lembaran kertas berisi tulisan saya saat saya stress. Setelah menulis dan menyimpannya di dalam kotak, saya jadi lebih lega dan yang utama tidak membawa stress saat sedang dekat dengan anak.

6. Meskipun senin-jumat anak bersama saya dan weekend waktunya bersama ayahnya, namun dalam sebulan, saya mengatur agar ada satu kali weekend saya bisa menghabiskan waktu bersama si kakak. Saatnya saya benar-benar bersamanya tanpa sibuk urusan pekerjaan dan urusan sekolah.

7. Ada waktu untuk saya sendiri tanpa anak. Sekadar traveling dua hari itu sudah cukup. Bukan bermaksud egois, namun itu membuat ‘baterai’ saya terisi kembali dan saya siap mengasuh si kecil.

8. Dari awal saya sudah jujur kepada anak-anak, bahwa ada penyesuaian yang harus dilakukan dengan kondisi saat ini, salah satunya urusan finansial. Beruntung, mereka mengerti dan tidak menuntut banyak. Saya jadi nggak ngoyo untuk menghasilkan lebih banyak uang ‘hanya’ untuk jalan atau jajan yang nggak penting.

9. Menerima kemampuan diri. Bahwa apa yang saya lakukan memang sudah yang terbaik untuk anak saya. Keyakinan itu selalu saya tanamkan di kepala saya :).

Baca juga:

Menjadi Ibu yang Lebih Baik Setelah Bercerai


4 Comments - Write a Comment

Post Comment