Curahan Hati Ibu Bekerja Tentang Perjuangan Merawat Buah Hati yang Berkebutuhan Khusus

Meski tak terlahir sempurna, anak dari kedua ibu bekerja ini tetap sempurna di mata mereka. Simak pengakuannya, bagaimana perjuangan mereka merawat dan membesarkan buah hati tercinta.

Penuturan dari dua ibu bekerja dengan anak berkebutuhan khusus ini, mengingatkan saya betapa semua anak terlahir sempurna. Kalaupun mereka terlahir dengan kelainan tertentu, mereka tetap spesial di mata orangtuanya. Seperti kisah Mommies Olivia, yang pernah saya tulis beberapa bulan lalu, ia menangkap hikmah dan harapan di balik kisah putrinya yang mengidap down syndrome. Karena menurut dirinya, di mata Tuhan tidak ada produk gagal, Tuhan justru menitipkan anak spesial ini, untuk orangtua yang spesial.

Setiap ibu pasti punya kisah perjuangan sendiri membesarkan anak-anak mereka, terlebih anak dengan berkebutuhan khusus. Energi, waktu dan materi yang dikeluarkan tentu akan berbeda. Seperti penuturan dua ibu bekerja berikut ini. Pengakuan dari hati, akan besarnya cinta mereka, meski lelah sering kali mereka alami.

Adalah Neneng (40), ibu dari Dany (2), mengetahui anak ke-4nya mengalami kelainan pada usia 6 bulan kehamilan. Saat itu, dokter mengidentifikasi Dany dari hasil USG yang memperlihatkan kelainaan pada ketebalan cairan di bagian bekalang leher Dany, tapi belum tahu kelainan jenis apa yang ia alami. Meski dari awal sudah mengetahui keadaan anak bungsunya, Neneng mengaku tetap nge-drop saat melahirkan Dany dan melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana tampilan fisik Dany. Dan ternyata Dany dinyatakan anak dengan down syndrome.

Curahan Hati Ibu Bekerja Tentang Perjuangan Merawat Buah Hati yang Berkebutuhan Khusus

Tak ada waktu untuk menyesali yang sudah terjadi, meski sempat Neneng bertanya-tanya pada dirinya sendiri “Kadang-kadang saya merasa, kok saya diberi ujian seperti ini lagi sama Tuhan? Dan kenapa harus saya?.” Terlebih anak pertama Neneng, Anisa (18), juga anak dengan berkebutuhan khusus. Ia mengalami epilepsi, berulang kali mengalami kejang, dan sudah 18 tahun lamanya hanya bisa berbaring di tempat tidur.

Walau suami Neneng juga bekerja, tapi ia memutuskan untuk turut membantu perekonomian keluarga, Neneng memilih berjualan kue basah dan kue kering. Mengingat akan ada rangkaian terapi yang harus dijalankan Dany dan Anisa sepanjang hidupnya, dan menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Hebatnya, ia tidak memiliki pengasuh atau ART, untuk membantu tugas-tugasnya. Semua ia lakukan sendiri, walau ada Nabila (17) dan Chayla (9) yang terlahir normal. Secara teknis pengerjaan membuat macam-macam kue tetap Neneng lakukan seorang diri.

Curahan Hati Ibu Bekerja Tentang Perjuangan Merawat Buah Hati yang Berkebutuhan Khusus

Lelah sudah pasti, terlebih Neneng mengakui sering didera lelah fisik dan psikis, “Di titik tertentu, rasanya ingin mengakhiri hidup saya sendiri. Karena seperti nggak ada habis-habisnya, sudah jenuh banget,” tutur Neneng. Namun ia bangkit lagi dengan rutin mengingat Allah SWT lewat lafadz dzikir yang diucapkan dan mengingat momen-momen lucu ketika mereka bayi. Selain itu, Neneng kembali semangat saat menoleh kembali ke wajah dua anaknya yang berkebutuhan khusus, “Kan mereka juga nggak mau dan tidak minta dilahirkan seperti itu.”

Neneng, tak sendiri. Ada Beti Anggraeni (41), Head of Marketing di PT Jaya Engineering Technology, ibu bekerja yang juga berjuang membesarkan Dika (11) seorang diri. Ia bercerai dengan suaminya 4 tahun yang lalu. Berbeda dengan Neneng, Beti mengetahui Dika berpotensi mengalami kelainan saat sudah dilahirkan. Di awal-awak kehadiran Dika, dan saat dokter menyatakan Dika mengidap down syndrome, Beti sempat merasa bersalah, “Kenapa saya melahirkan anak dengan down syndrome?.” Tapi, hal-hal semacam ini tidak berlangsung lama, karena Beti langsung sadar, inilah kenyataan yang harus ia hadapi dan menjaga kepercayaan yang Tuhan berikan.

Curahan Hati Ibu Bekerja Tentang Perjuangan Merawat Buah Hati yang Berkebutuhan Khusus

Semangat Beti mulai bangkit ketika tahu, Dika tidak mengalami komplikasi seperti kelainan jantung dan paru-paru. Jadi dari usia dua bulan, Dika sudah mulai bisa terapi, hingga usia 11 tahun sekarang. Secercah harapan yang lain muncul, ketika berpisah dari pasangan, tak lama Beti mendapatkan promosi dari tempat kerjanya yang terdahulu.

Mengingat pekerjaa Beti di bidang marketing dan bertemu dengan banyak orang, ia mengakui harus terus terlihat cerita. “Apapun kondisi saya, saya tidak boleh terlihat sedih, harus tetap terlihat ramah saat bertemu klien. Semua perjuangan ini ia lakukan demi Dika, dan beruntung semua usahanya berbanding lurus dengan perkembangan yang Dika alami. “Di usianya sekarang, ia sudah sudah bisa membaca, menulis, mengaji dan bermain sepeda.”

Sesekali sempat terbesit di benak Beti, kalau di usianya yang kini sudah berkepala 4 dan Dika yang masih muda, akankah ia sanggup mendampingi Dika sampi dewasa? Support system keluarga juga turut menguatkan Beti menjalani semua ini, jika ada tugas luar kota, seringkali ia meminta bantuan saudara kandungnya untuk menjaga Dika di rumah. Tapi Beti tak mau berlarut-larut ada di pemikiran semacam itu, ia yakin kalau Allah SWT Maha Baik dan akan memberikan kecukupan rezeki untuk masa depan Dika.

Curahan Hati Ibu Bekerja Tentang Perjuangan Merawat Buah Hati yang Berkebutuhan Khusus

Rasa lelah bekerja seolah sirna, karena Dika memiliki empati yang dalam terhadap Beti, sesekali ia akan memberikan perhatian dan semangat, sesaat Beti hendak berangkat kantor. Dari Dika, Beti belajar banyak hal. Contohnya, menghargai hal-hal sederhana dari kehidupan sehari-hari. Hal ini Beti dapatkan, ketika memerikan uang jajan kepada Dika yang tidak seberapa besarnya, namun Dika menghampiri dan memeluk Beti, sambil berujar “Mami, sayang ya, sama Dika”, “Betapa Dika menghargai hal-hal yang sangat sederhana,” jelas Beti.

Ada dua pesan berharga dari Neneng dan Beti untuk para Mommies yang juga mengalami hal yang sama, semoga bisa menularkan semangat supaya terus berjuang untuk buah hati tercinta.

Neneng…

“Jangan putus asa, tetap semangat. Yakin kalau kita bisa melalui semua ini. Dan juga yakin dengan kebesaran Tuhan dan nggak akan pernah meninggalkan kita. Jadi saya berbuat yang terbaik untuk anak-anak dengan keadaan ekonomi kami yang pas-pasan, tapi pasti ada jalannya.”

Beti…

“Tetap semangat, jaga quality time saat dengan anak, lakukan semuanya secara proporsional dan profesional. Berusaha dan berdoa, Insya Allah, semuanya dimudahkan.”

Baca juga:

5 Pilihan Mainan untuk Anak Down Syndrome

Olahraga untuk Anak Berkebutuhan Khusus

 


3 Comments - Write a Comment

  1. @Imel_IbuAlunLintang sama kalau saya di posisi beliau mungkin dunia berasa runtuh dan apalagi kalau suami tidak mendampingi dan support dari keluarga yang kurang, semoga Allah selalu memberikan kelapangan hati dan keikhlasan untuk para mommies dengan anak bekebutuhan khusus ya. karena mereka kuat jadi dipilih untuk mendapatkan ujian seperti itu :)

Post Comment