Akhirnya, Vaksin DBD Resmi Hadir di Indonesia

Yeay!! Ada kabar gembira dari dunia pengobatan di Indonesia. Mulai hari ini vaksin demam berdarah dengue sudah resmi tersedia di Indonesia, lho. Untuk sementara vaksin ini baru ditujukan bagi anak yang berusia 9-16 tahun. Kenapa, ya?

Akhir pekan kemarin, anak saya, Bumi, mengeluh mual. Begitu saya ukur suhu tubuhnya dengan termometer, angka menunjukan suhu 38. 6 derajar celcius. Dalam hati saya langsung membatin, “Duh, apa sakit apa lagi anak saya?”. Sambil berusaha tetap tenang, waktu itu saya hanya memberikan paracetamol untuk menurunkan suhu tubuhnya dengan harapan demamnya segera ‘hilang’.

Nggak tahunya, setelah tiga hari dipatau,  suhu tubuh anak saya masih saja naik turun, bahkan terakhir suhunya sudah menunjukan angka 39,2 derajat celcius.

“Langsung kita bawa ke Rumah Sakit saja, ya…. Cek darah. Aku khawatir Bumi DBD,” ucap suami.

Iya, setelah Bumi mengalami DBD sampai dua kali, dan yang terakhir sampai harus dirawat inap di ICU, saya dan suami memang jadi parnoan. Selalu khawatir kalau Bumi terekena DBD lagi. Seperti yang kita ketahui, setelah  sekali atau dua kali mengalami DBD, bukan berarti anak jadi kebal. Biar gimana DBD bisa menyerang kapan juga, dengan jumlah yang tidak terbatas.

dbd

Seperti yang sudah pernah saya tulis dalam artikel ‘DBD: Lebih Berbahaya Pada Anak Dibanding Pada Orang Dewasa?’, bahwa tingkat keparahan DBD tergantung pada beberapa hal, yaitu imun sistem tubuh, frekwensi serangan, dan jenis virus yang menyerang tubuh, di mana virus yang paling ganas adalah tipe 4. Tipe virus itu sendiri dipengaruhi daya tubuh yang kita miliki.

Kabar baiknya, saat ini di Indonesia sudah diresmikan vaksin dengue. Kabar baik ini saya dengar sendiri karena saya mewakili Mommies Daily datang ke acara peresmiannya di Hotel Borobudur, 25 Oktober 2016. Bisa dibilang proses perjalanan pembuatan vaksin ini sangat panjang, karena Vaksin Dengue dari Sanofi Pasteur ini sudah melalalui 20 tahun penelitian dan pengembangan. Dengan diresmikan vaksin dengue di Indonesia, diharapkan dapat mengurangi kasus dengue di Indonesia.

Perlu diketahui, Indonesia merupakan negara dengan jumlah kasus dengue tertinggi kedua setelah Brasil. Pada tahun 2015, jumlah kasus dengue yang dilaporkan lebih dari 129 ribu dan sebanyak 1.071 kasus berakhir dengan kematian. Bahkan  sampai akhir September 2016, sudah tercatat hampir 160.000 kasus DBD di Indonesia.

Oleh karena itulah, langkah pencegahan yang lebih efektif dalam menurunkan angka DBD di Indonesia sangat diperlukan. Seperti yang diungkapkan Prof Dr dr Sri Rezeki Hadinegoro SpA(K) sebagai Peneliti Utama  saat melakukan penelitian untuk mengembangkan vaksin DBD, telah membuktikan kalau vaksin ini efektif mengurangi risiko penularan DBD hingga 65,6 persen.   

Sayangnya, vaksin ini memang ditujukan untuk anak berusia 9 sampai 16 tahun, untuk pencegahan dengue yang disebabkan keempat serotype virus dengue. Dalam hal ini, Prof Dr dr Sri Rezeki Hadinegoro SpA(K) memaparkan kalau di dalam suatu penelitian  itu ada yang namanya risiko relative atau RR. Jadi dalam penelitian akan dihitung bagaimana mencari RR, risiko seseorang untuk menjadi sakit, dirawat, kondisinya menjadi berat, nah, RR-nya untuk anak yang usianya di bawah 9 tahun, ini masih tidak konsisten.

“Jadi ada gap yang cukup besar. Khususnya untuk angka perawatan, seharusnya kan kelompok anak yang diimunisasi akan lebih sedikit yang sakit dibandingkan dengan anak yang tidak diimunisasi, tetapi ini tidak. Pada tahun pertama bagus, tahun ke-2 bagus, tapi saat tahun ke-3 kembali. Nah ini kenapa? Kita melihat ini dikarenakan kondisi badan si anak itu sendiri. Jadi kita tahu, vaksin itu kan sangat berhubungan dengan reaksi imun, namun pada anak-anak di bawah 9 tahun belum mampu membuat respon inmun yang baik, seperti anak-anak yang usianya di atas 9 tahun,” jelasnya.

Oh, ya, pemberian vaksin ini sendiri diberikan sebanyak tiga kali, dengan jarak waktu selama 6 bulan. Lebih lanjut, Kepala Divisi Vaksin Sanofi Indonesia Joko Murdianto mengatakan kalau vaksin ini sudah tersedia di berbagai Rumah Sakit swasta di beberapa kota besar di Indonesia. Sayangnya, untuk kisaran harga, Joko Murdianto tidak bisa menyebut secara pasti karena terkait ketentuan dengan distributor.

Seandainya vaksin ini dijual di atas harga 1 juta rupiah, saya rasa harga tersebut masih masuk akal dan terbilang murah dibandingkan dengan risiko terburuk DBD yang bisa merenggut nyawa, termasuk biaya perawatan ketika masuk ICU yang sangat besar. Bagaimana menurut Mommies?

 


One Comment - Write a Comment

Post Comment