Saat Mertua Merongrong Jatah Bulanan, Harus Bagaimana?

Kayaknya topik tentang menantu dengan mertua nggak pernah ada habisnya ya :D.  Untuk kali ini saya mau bahas mengenai masalah sensitif – keuangan. Bagaimana menghadapi mertua  yang merongrong jatah bulanan?

“Heran, deh, mertua gue itu kok, kayanya nggak sensitif amat, ya. Nggak paham dengan kondisi keuangan keluarga anaknya. Masa selalu minta jatah melulu. Lama-lama kan ‘gerah’ juga.”

Familiar dengan keluhan semacam ini? Atau jangan-jangan Mommies yang berada di dalam kondisi seperti ini?! Serba salah ya kayaknya. Mau diberikan terus menerus, tapi pos keuangan keluarga sudah mepet. Kalau dipaksakan otomatis  akan mengganggu cash flow.  Dan paling bikin gregetan kalau melihat suami kayaknya santai-santai aja dan malah cenderung selalu mengiyakan apa saja yang diminta oleh ibunya.

mertua

Lalu harus bagaimana, dong?

Pengalaman saya dengan ibu mertua memang nol besar lantaran saya memang tidak punya kesempatan untuk mengenal  perempuan yang melahirkan lelaki yang kini menjadi suami dan bapak dari anak saya, Bumi. Jadi, untuk masalah konflik khususnya persoalan ibu mertua yang gemar meminta uang atau jatah bulanan, saya sama sekali tidak pernah merasakannya.

Berdasarkan cerita teman-teman, termasuk curhatan para Mommies di thread forum, saya cukup paham kalau tidak sedikit  yang merasa terbebani dan hanya bisa pasrah (tapi ngedumel). Bisa dimaklumi, sih, kalau untuk memenuhi kebutuhan keluarga inti saja, kita sulit. Saat mertua merongrong meminta jatah bulanan di luar kemampuan tentu bisa jadi masalah besar. Mau protes,  nggak enak sama suami karena bisa berujung pertengkaran bahkan ada yang sampai bercerai. Duh…

Hal ini pun diakui oleh Psikolog Keluarga, Ayank Irma Gustiana Andriani. “Memang benar, kok, Mbak… masalah seperti ini memang banyak dialami, teman saya juga sempat mengalaminya bahkan sampai bercerai”. Agar permintaan mertua tidak sampai ‘berbuntut’ panjang hingga membuat terjadinya perceraian, Psikolog yang sering saya sapa dengan pangilan Mbak Irma ini pun memberikan beberapa kiat yang bisa diterapkan.

1. Berdamai dengan perasaan. Mungkin hal ini sekilas tampak klise, tapi memang perlu dipelajari, lho. Seperti yang dibilang Mbak Irma, kalau kita benar menyayangi dan mencintai pasangan kita, artinya kita pun perlu belajar memahami kehadiran mertua yang mungkin tidak seindah apa yang kita harapkan. Misalnya saja tuntutan-tuntutan yang berlebihan atau intervensi di berbagai aspek perkawinan termasuk masalah financial. “Sebel pastinya, ya! Tapi coba deh untuk menyelami perasaannya, karena bagaimana pun Ibu mertua adalah orang yang paling penting dalam hidup suami.”

2. Belajar menyukai Ibu mertua dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dimiliki. Mungkin akan butuh usaha untuk bisa menarik perhatian Ibu mertua, tapi dengan menunjukkan usaha untuk menjalin hubungan yang baik maka akan membuat suami merasa dihargai.

3. Apapun kondisinya, tetap berperilaku sopan di hadapan mertua. Mulut sudah nggak tahan untuk protes dan bilang tidak setuju dengan apa yang dikatakan mertua? Eeets…. Tunggu dulu! Menurut Mbak Irma, sekesal-kesalnya kita dengan Ibu mertua, hindari mengkritik sikap mertua. Apalagi di hadapan suami karena akan membuat suami merasa dihadapkan pada situasi yang sulit. Bukankah kita, istrinya juga sama berharganya dengan perempuan yang sudah melahirkannya?

4. Tetap bersikap baik dan mencoba mengenal nya lebih dalam. Sebagai menantu, nggak ada salahnya lho, mencari tahu hal-hal yang pernah mertua lewati, baik hal yang ia suka  dan tidak suka. Soalnya, bisa saja karena merasa tidak nyaman atau merasa kehilangan sesuatu, yang membuat ibu mertua menunjukkan sikap ingin selalu intervensi terhadap perkawinan anaknya.“Jadi, hal itu semacam kompensasi rasa yang tidak nyaman. Mungkin saja sebenarnya ia tidak selalu membutuhkan jatah bulanan dari anaknya, tetapi lebih di karenakan ingin diperhatikan anaknya. Untuk tahu banyak tentang dirinya, coba untuk bertanya hal-hal sederhana. Misalnya saja resep masakan kesukaan anaknya atau suami salah satunya atau cara mengelola keuangan keluarga

5. Berikan ia kesempatan untuk memiliki waktu hanya berdua saja dengan anaknya atau suami Mommies. Misalnya dua minggu sekali atau sesuai kesepakatan bersama.

6. Bersikap asertif, hal ini untuk membuat masalah menjadi lebih jelas sehingga bisa diklarifikasi. Bisa juga pakai teknik broken record yaitu mengulang kembali sebagai reminder, bahwa apa yang dikatakannya tidak benar. Misalnya “Maaf ma, untuk masalah uang bulanan sudah dibahas kemarin ya, Ma.”

7. Bicarakan dengan pasangan kalau merasa tidak nyaman. Apalagi masalah pemberian uang bulanan biasanya menjadi hak suami sebagai anaknya untuk memberikan jumlah tertentu. Point ini bisa dijadikan alternatif terakhir yang digunakan, sehingga suami bisa memahami kondisi yang terjadi. Bicarakan fakta dengan memberikan contoh apa yang terjadi, jangan hanya berdasarkan opini saja. Jangan lupa, saat membicarakannya cari momen berdua dan dalam keadaan yang tenang.

Ada yang ingin share pengalaman, atau memberikan tips lain?  Saya tunggu ya…


One Comment - Write a Comment

  1. Kasus kaya gini mentok kalau saya. Berapapun yg diminta oleh si ibu, ga akan ditolak oleh suami sekalipun kondisinya kami harus berhutang. Karena ibu selalu bilang “punya ga punya uang harus kasih supaya rejeki kamu lancar”
    Jadinya ya pasrah.
    Susah
    Mentok
    Berdoa saja smga Allah kasih banyak rejeki utk kami.

Post Comment