Jangan Ngompol Terus Dong, Nak….

Ditulis oleh: Lariza Puteri

Kali ini saya mau berbagi ilmu mengenai cara saya dulu menangani Dhia agar tidak ngompol lagi :D.

Ngompol sepertinya menjadi satu kata yang dekat dengan anak-anak. Tapi sampai kapan, sih, sebenarnya kita boleh menoleransi anak ngompol? Dulu, lumayan susah-susah gampang melatih Dhia untuk berhenti ngompol. Saya suka penasaran, Dhia itu ngompol karena memang belum mengenali rasa mau pipis atau karena dia memang malas aja ke toilet?

Kok masih ngompol

*Image dari babycenter.com

Sebetulnya anak-anak sudah bisa mengontrol otot kandung kemihnya saat mereka berusia 18 bulan. Nggak heran kan usia segini dibilang menjadi usia yang pas untuk mengajarkan anak toilet training. Lalu, saat anak berusia 2 tahun, harusnya sudah lepas popok. Ini idealnya, yaaaa. Tapi kan yang udah-udah ideal suka nggak kompak sama realita kehidupan (duuuuh), jadi sampai mau masuk playgroup Dhia masih sekali dua kali ngompol. Sehingga proses belajar pipis di toilet ini berlangsung hingga Dhia berusia 3 tahun.

Baca juga:

9 Tip Potty Training

Kalau saya perhatikan sih, saat Dhia masih mengompol biasanya karena ia sedang merasa cemas atau khawatir, malas pergi ke toilet karena sedang nanggung bermain atau karena sedang marah.

Dari sini juga saya jadi belajar bahwa toilet training itu nggak sekadar melatih agar anak bisa pipis di kamar mandi, tapi juga mengajarkan anak untuk melatih olah emosinya. Sehingga saat Dhia mengompol karena sedang marah, saya bilang berkali-kali bahwa ‘Nggak apa-apa nak kamu marah, tapi kamu harus tetap pipis di toilet ya.” Saya juga menerapkan beberapa langkah untuk melatih Dhia berhenti ngompol:

1. Toilet time
Saya pernah menerapkan ajakan ke toilet setiap 2-3 jam seperti yang disarankan banyak orang. Hasilnya? Dhia bete setiap kali saya ajak ke toilet dan berakhir pada tangisan serta berujung pada ngompol! Akhirnya saya lupakanlah teori ini dan beralih ke usaha mengenali ciri-ciri Dhia yang ingin pipis. Yaitu, lari-larian ke sana kemari, goyang-goyang dan menatap saya penuh arti. Saat itulah saya segera membawa Dhia ke toilet. Saya juga menerapkan toilet time saat kami akan pergi, dan sebelum tidur.

2. Membangunkan anak saat tidurnya gelisah
Meski sudah pipis sebelum tidur, kadang Dhia suka tetap ingin pipis di malam hari. Begitu Dhia tidurnya gelisah, itu pasti tandanya dia mau pipis.

3. Jangan pelit pujian
Saya masih ingat betul, pagi pertama Dhia tidak ngompol. Saat itu saking senangnya, saya banjiri Dhia dengan pujian dan senyum lebar. Saya rasa itu salah satu pencapaian terbesar saya sebagai ibu deh, hahaha. Pujian ini katanya memang akan membuat anak menjadi semakin enggan untuk ngompol. Karena menginginkan pujian terus, Dhia akhirnya terbiasa untuk tidak mengompol.

4. Jangan marah
Sebelum berhasil membuat Dhia berhenti ngompol, saya juga pernah merasa kecewa dan gemas saat Dhia tetap ngompol meski sudah diajari potty training. Tapi saya kena tegur sama pak suami :D. Akhirnya saya coba mengajak Dhia ngobrol dan tanya kenapa dia ngompol. Memang di mana-mana kalau ngobrol dari hati ke hati jadi lebih jelas ya, bahkan untuk urusan ngompol, hahaha.

5. Konsisten
Meski gagal, bukan berarti saya menyerah. Saya tetap biarkan Dhia hanya pakai celana agar dia merasa tidak nyaman kalau ngompol. Harapannya sih waktu itu, ini menjadi cara efektif untuk membuat Dhia berhenti ngompol.

Lima cara ini memang berhasil saya terapkan pada Dhia, tapi sekali lagi, mengajarkan toilet training itu caranya beda-beda ya masing-masing anak mom. Kalau Mommies punya trik lain boleh dong bagi-bagi di sini biar mommies lainnya tahu dan saya juga nih untuk anak kedua :D.

Baca juga:

Toilet Training Pressure


Post Comment