Saat Karyawan Mengalami KDRT, Apa yang Bisa Dilakukan Perusahaan?

Tidak ada satu pun perempuan yang mau mengalami KDRT, tapi jika sampai ini terjadi dan berdampak serius untuk kinerja kerja seseorang, apa ya, yang bisa perusahaan atau atasan lakukan?

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) akhir-akhir ini menjadi isu yang cukup sering diperbincangkan. Dilansir dari Catatan Tahunan KomNas Perempuan tahun 2016, tercatat sudah 321.752 orang yang mengalami KDRT sepanjang tahun 2016. Bisa saja hal tersebut dialami oleh seseorang dalam lingkungan kerja Mommies.

Saat Karyawan Mengalami KDRT, Apa yang Bisa Dilakukan Perusahaan?

Banyak orang yang mungkin tidak menyukai atau tidak mau terlibat dalam kehidupan personal karyawan, akan tetapi dalam masyarakat saat ini, kehidupan personal seseorang dapat “mencampuri” pekerjaan. Hal ini seharusnya mulai menjadi isu yang harus diperhatikan pula oleh perusahaan. Berikut ini merupakan kiat yang dapat dilakukan oleh perusahaan dan/atau atasan apabila mendapati karyawannya mengalami KDRT:

Kenali dan sadari

Hal pertama yang tentunya menjadi dasar adalah mengenali dan menyadari bahwa karyawan tengah mengalami KDRT. Hal yang paling mudah dikenali apabila karyawan mengalami kekerasan fisik yang ditunjukkan dengan tanda-tanda fisik seperti memar atau terluka pada bagian-bagian tubuh yang dapat terlihat dengan jelas atau kalaupun tidak terlihat.

Mommies dapat memperhatikan perubahan pola berpakaian karyawan yang terlihat lebih tertutup dibanding sebelumnya tanpa alasan yang jelas. Hal ini mungkin saja mengindikasikan karyawan yang bersangkutan menutupi bekas-bekas tersebut. Akan tetapi terkadang KDRT tidak hanya kekerasan fisik yang meninggalkan bekas.

Mommies juga sebaiknya memperhatikan dari perubahan pola tingkah laku yang dia tampilkan dan/atau perubahan pada kualitas kerja dan kinerja karyawan, terutama apabila sebelumnya karyawan tersebut memberikan kinerja yang baik dan berbeda jauh dengan kinerjanya saat ini.

Menanggapi keluhan mengenai KDRT

Ketika Mommies mengetahui apabila karyawan mengalami KDRT, berikan empati pada karyawan dengan mengatakan pada karyawan tersebut bahwa Mommies memercayainya dan bahwa hal yang dialaminya merupakan tindakan yang tidak selayaknya ia dapatkan.

Usahakan untuk tidak terlalu banyak memberikan komentar dan rekomendasi personal, terutama yang justru menyudutkan korban. Ingatlah bahwa seringkali korban KDRT berada dalam kondisi pikiran yang tidak rasional atau “kacau”, sehingga komentar apapun akan dianggap serius dan dapat memengaruhi kondisi mental yang bersangkutan.

KDRT sangat memungkinkan akan memengaruhi kinerja karyawan, maka itu jika dibutuhkan dan memungkinkan, atasan atau perusahaan dapat mengatur kembali tugas-tugas dan jadwal yang diberikan kepada karyawan tersebut. Berikan karyawan tersebut kelonggaran waktu untuk menyelesaikan permasalahan ini, contohnya apabila ia meminta izin untuk mengunjungi dokter, pengadilan, atau menemui pengacara, dan hal-hal lainnya yang terkait dengan perihal ini.

Apabila Mommies adalah manager atau supervisor dari karyawan yang mengalami KDRT, usahakan tetap menempatkan diri Mommies sebagai atasan, bukan konselor. Mommies dapat memberikan coaching pada karyawan yang bersangkutan dengan komunikasi dua arah seputar apa yang selama ini Mommies perhatikan, ekspektasi-ekspektasi dari kedua belah pihak, dan bagaimana memberikan support kepada karyawan yang bersangkutan agar tetap memberikan kinerja yang baik dalam periode ini.

Berikan dukungan apabila terbawa ke lingkungan kantor

Jika kekerasan yang dialami berlarut-larut dan bahkan sampai ke lingkungan kantor, ada beberapa hal yang dapat Mommies lakukan untuk membantu karyawan tersebut. Apabila karyawan yang bersangkutan mulai mendapatkan teror dalam bentuk telepon, Mommies dapat mengalihkan telepon (ataupun email) tersebut dan mencoba untuk mengganti extension-nya.

Jika karyawan yang bersangkutan setuju untuk memberitahukan kepada rekan kerja lainnya, Mommies dan karyawan tersebut dapat menginformasikan bagaimana respon yang harus diberikan apabila mendapat telepon dari pelaku tindak kekerasan. Pastikan pula bahwa karyawan yang bersangkutan tidak bekerja sendirian atau bekerja di daerah terpencil sendirian (jika melakukan perjalanan dinas) dan usahakan ada karyawan lain yang dapat memantau keselamatan karyawan yang bersangkutan.

Apabila memungkinkan, Mommies dan karyawan yang bersangkutan dapat meminta tim IT untuk tetap menyimpan data-data rekaman telepon masuk dan email dari pelaku tindak kekerasan. Hal ini dapat dijadikan bukti apabila suatu saat permasalahan ini akan diperkarakan melalui jalur hukum. Konsultasikan pada konselor hukum atau legal pada kasus-kasus berat.

Penulis: Chalifatunnisa, perempuan yang menyukai seni dan budaya ini mulai bergabung kedalam dengan Tim Experd sejak tahun 2015 sebagai HR senior.

Baca juga:

Bertahan dalam Rumah Tangga KDRT

Jadi Korban KDRT Finansial, Harus Bagaimana?

3 Hal yang Tidak Bisa Saya Toleransi dalam Pernikahan


One Comment - Write a Comment

Post Comment