Mind Mapping, Cara Belajar Efektif untuk Si Kecil?

Konon mind mapping merupakan cara belajar efektif yang perlu dikenalkan pada anak. Benarkah? Berikut penjelasan Najeela Shihab, founder Keluarga Kita.

Ngajarin anak belajar untuk bisa memahami pelajaran di sekolah itu gampang-gampang susah, ya?! Ini yang saya rasakan begitu Bumi memasuki kelas 1 SD. Begitu belajar untuk UTS, aseliiik, urat sabar saya harus dipupuk banyak-banyak (lap keringet….). Untuk itulah saya pun akhirnya berusaha untuk mencari tahu beragam cara yang bisa dikenalkan pada anak agar belajarnya menjadi maksimal. Metode belajar seperti apa sih yang kira-kira cocok untuk saya terapkan ke Bumi?

Salah satu yang saya temukan adalah soal mind mapping. Yuk, cari tahu lebih jelas mengenai mind mapping ini lewat pemaparan Najeela Shihab.

Apa yang dimaksud dengan mind mapping?

Mind maping itu sebenarnya teknik untuk memvisualisasikan proses berpikir. Jadi kalau kita berpikir itu seolah-olah tidak kelihatan, nggak ada bentuknya, tidak visible, sehingga terkadang tidak terstruktur dan kita pun sebenarnya terkadang belum tahu apakah proses kerangka pemikiran kita sudah cukup dalam apa belum. Tidak tahu apakah ide pemikiran yang satu dengan yang lainnya sudah jelas apa belum. Kemudian dari sana para ahli banyak yang mengembangkan tools-tools untuk memvisualisasikan proses berpikir tersebut. Sehingga jadi kelihatan jelas bagi orang yang sedang berpikir termasuk orang yang sedang mencoba untuk memahami proses berpikir orang lain. Nah, salah satu alat proses berpikir itu adalah mind mapping, tapi sebenarnya banyak ‘alat’ lain selain mind mapping yang bisa digunakan.

mind maping

Contoh lainnya seperti apa?

Banyak kok, visual organizer lain yang bisa digunakan seperti flow chart, diagram, dan bentuk visual lainya.

Kapan sebaiknya mind maping ini digunakan atau dikenalkan pada anak?

Biasanya mind mapping ini memang digunakan untuk tahapan awal dalam sebuah proses belajar. Misalnya bagaimana kita berusaha untuk mengidentifikasi sebenarnya idenya apa saja, sih. Terus hubungannya satu ide dengan ide yang lain itu seperti apa? Bagaimana pengelompokannya?  Tapi untuk proses pemikiran yang lain dan bisa digunakan ada juga yang bisa dipakai.

Tapi apa benar mind mapping ini merupakan cara yang efektif untuk mengajarkan anak belajar?

Betul sekali, tapi balik lagi kalau mind mapping itu sebenarnya bukan satu-satunya cara alat bantu berpikir yang lain. Dan efektif atau tidak sebenarnya tentu akan kembali lagi pada penggunanya. Jadi, kalau anak-anak hanya dibilang bikin mind maping saja, tanpa dijelaskan bagaimana caranya, terus ttidak diajarkan tools yang lain, pada akhirnya belum tentu jadi cara efektif belajar buat anak. Malah jangan sampai mind mapping ini seperti tugas baru  buat anak. Mind mapping itu kan tools, maka anak-anak perlu tahu tools mana yang paling efektif buat mereka belajar.

Apakah mind mapping ini bisa cocok buat semua anak-anak, apapun gaya belajar mereka?

Sebenarnya semua orang butuh tools, tapi ada orang yang sudah cukup dengan membuat list saja, tapi ada orang yang butuh lebih divisualisasikan dalam sebuah bentuk gambar. Ada juga yang cocok dengan dibuatkan pertanyaan, itu semua harus dikenalkan pada anak, lho, karena bagian dari cara mereka mengembangkan skill belajar anak hingga anak bisa mandiri dalam belajar.

Jadi, jangan menganggap mind mapping ini harus dipakai semua anak, atau jangan juga melihat kalau mind mapping ini harus dikuasai oleh anak-anak. Jadi kita harus melihatnya, bagaimana anak bisa belajar secara mandiri, untuk anak bisa mengorganisir proses belajar dan beperpikir. Yang saya lihat, kadang kala orangtua berpikir kalau mind mapping itu adalah tujuannya, padahal mind mapping ini merupakan tools.

Untuk cocok tidaknya dengan gaya belajar anak, sebenarnya perlu dipahami soal gaya belajar. Gaya belajar itu sebenarnya sangat terbatas pada alat sensosir indera apa yang paling banyak digunakan oleh anak ketika menerima informasi. Tapi sebenarnya tidak ada orang yang hanya punya satu gaya belajar, lho. Tidak ada anak yang 100% auditori, sebenarnya anak-anak bisa dilatih dan menggunakan gaya belajar lainnya karena kan semua indera sensosoris kita itu semua bekerja. Tugas kita sebagai orangtua adalah melatih dan menstimulasi semua inderanya. Sebenarnya gaya belajar anak itu hanya relevan untuk anak usia maksimal 6 tahun, setelah itu anak idealnya bisa belajar semua gaya belajar sehingga mereka bisa belajar dengan optimal.

Sebenarnya selain melihat gaya belajar anak dan perlu tools, apa saja unsur yang perlu diperhatikan?

Ada profil belajar anak, contohnya dengan melihat indera sensoris yang sensitif itu juga memang perlu, tapi ada hal lain apakah anak ini lebih senang belajar sendiri atau berkelompok, situasinya juga perlu dilihat. Apakah anak lebih senang belajarnya pagi atau malam, sebenarnya banyak hal yang perlu diperhatikan.

Baiklah, dari sini saya pun jadi punya gambaran tentang mind mapping.

 


Post Comment