banner-detik
PARENTING & KIDS

3 Alasan Mengapa Saya Melarang Orang Lain Mencium Anak Saya

author

adiesty03 Oct 2016

3 Alasan Mengapa Saya Melarang Orang Lain Mencium Anak Saya

Saya paham kalau mencium si kecil kadang-kadang dianggap sebagai cara untuk menununjukkan rasa sayang. Tapi maaf, karena saya keberatan dengan kebiasaan ini. Ini alasan mengapa saya melarang orang lain mencium anak saya.

Suka merasa kesal nggak sih kalau ada orang lain yang tiba-tiba main 'sosor' alias main mencium anak kita tanpa meminta izin? Seperti yang sudah saya tuliskan di atas, bisa jadi memang maksudnya untuk menunjukkan rasa sayang, tapiiiii ya, saya sebagai ibu merasa nggak nyaman dan nggak suka aja melihat hal ini.

Beberapa waktu lalu saat saya sedang jalan-jalan ke sebuah taman di pusat Jakarta, anak saya, Bumi, tertarik untuk membeli layangan yang dijajakan seorang ibu paruh baya. Saat kami membeli layangan tersebut, si ibu cerita kalau hari itu dagangannya belum laku karena cuaca memang tidak mendukung. Ketika saya dan Bumi membeli layangannya, si ibu girang bukan main. Yang bikin kaget, si ibu tahu-tahu langsung mencium pipi anak saya. Dan saya pun langsung dongkol.

menjadi ibu yang lebih baik setelah bercerai

Bisa menularkan penyakit

Bukan maksudnya sombong atau gimana, masalahnya saya nggak tahu kondisi kesehatan si ibu seperti apa. Kalau si ibu itu lagi flu atau batuk pilek terus nular ke anak saya, gimana??? Atau seperti sebuah artikel yang pernah saya baca, mengenai anak yang tertular herpes karena dicium oleh orang lain. Nah, kalau begini (knock on wood) yang kasian kan si anak!

Memang, sih, usia anak saya Bumi, sudah 6 tahun. Artinya, imunitas dirinya sudah terbentuk cukup baik, tapi tentu belum sekuat orang dewasa juga bukan? Meskipun begitu, bukan berarti orang lain bisa bebas mencium anak saya, dong. Namanya kuman atau virus, tentu bisa datang dari mana saja. Terlebih buat bayi yang baru lahir yang masih begitu rentan terhadap kuman penyakit.

Jadi, ini mungkin bisa jadi masukan juga deh untuk para orang dewasa agar jangan sembarangan mencium anak kecil, apalagi kalau kita sedang tidak fit. Memang diperlukan kesadaran sih dari kita semua.

Membuat anak tidak nyaman

Percayalah… ciuman yang semula dianggap sebagai bentuk kasih sayang ini ternyata bisa membuat anak merasa nggak nyaman. Buktinya si Bumi saat dicium oleh ibu penjual layang-layang secara spontan langsung mengelap pipinya. Saya sih nggak peduli kalau reaksi Bumi dinilai tidak sopan, lah si ibu aja juga nggak minta izin kok, hahaha.

Dan, jangan sampai karena kesal dicium oleh orang, ini membuat anak kita jadi merasa kalau dicium itu bukanlah wujud kasih sayang namun hanyalah tindakan yang menyebalkan. Awas aja kalau dampaknya ini membuat anak membatasi interaksi sosialnya, baik di lingkungan rumah, sekolah ataupun lingkungan lainnya.

Agar anak belajar bahwa tidak semua orang boleh menciumnya

Saya hanya nggak ingin kalau ini dibiarkan nanti Bumi berpikir kalau siapa saja boleh menciumnya, huaaaa, tidaaaaak. Iya kalau orang yang menciumnya murni hanya ingin menunjukkan rasa sayang (walaupun dengan cara yang menyebalkan menurut saya). Lha, bagaimana kalau ternyata orang tersebut ada maksud buruk, misalnya menjadi awal untuk tindakan kejahatan seksual?

Makanya, terserah deh orang mau mengatakan saya ibu yang berlebihan, over protective, namun sejak dini, saya selalu menekankan pada Bumi bahwa ada beberapa area tubuh yang bersifat pribadi, dan tidak boleh disentuh orang lain. Apalagi sampai dicium! Hal ini perlu ditekankan karena masuk ke dalam pendidikan seksual.

Kalau saya, sih, memang selalu berusaha untuk tahu diri dengan tidak sembarang mencium anak orang lain. Kecualiiii... kalau memang hubungannya sudah cukup dekat. Itupun harus memastikan kondisi kesehatan sedang fit. Kalau sedang batuk flu, ya lebih baik jaga jarak saya.

Oh, ya... menurut saya, nih... nggak ada salahnya juga, lho, memberitahukan pada pengasuh di rumah soal hal ini. Dengan begitu, pengasuh juga bisa ikut 'melarang' jika ada orang yang ingin mencium si kecil.

Atau mungkin mommies punya cara lain untuk mencegah terjadinya hal ini? Mau dong share di sini :D.

Share Article

author

adiesty

Biasa disapa Adis. Ibu dari anak lelaki bernama Bumi ini sudah bekerja di dunia media sejak tahun 2004. "Jadi orangtua nggak ada sekolahnya, jadi harus banyak belajar dan melewati trial and error. Saya tentu bukan ibu dan istri yang ideal, tapi setiap hari selalu berusaha memberikan cinta pada anak dan suami, karena merekalah 'rumah' saya. So, i promise to keep it," komentarnya mengenai dunia parenting,


COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan