Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Menyiapkan Dana Pendidikan Anak

Siap menikah dan punya anak, artinya siap juga dengan dana pendidikannya. Sudah tahu, dong, kalau jumlahnya tak sedikit? Jadi, apa saja yang harus diperhatikan ketika menyiapkan dana pendidikan anak?

Tahun ini, Bumi—anak saya—sudah sah menjadi siswa Sekolah Dasar. Setelah melakukan survei ke beberapa sekolah yang letaknya tak jauh dari rumah, saya dan suami bersyukur bisa menemukan sekolah impian. Ya, setidaknya, selain saya dan suami merasa klop dengan sistem pendidikannya,  anak saya juga sangat senang tiap berangkat ke sekolah.

Harapannya, beberapa tahun mendatang, kami pun bisa memasukkan Bumi ke sekolah lanjutan yang tepat, sekolah yang bisa membimbingnya memaksimalkan kemampuan. Saat ini, “pekerjaan rumah” terbesarnya adalah mengumpulkan dana pendidikan terlebih dulu. Seperti yang kita ketahui, dana pendidikan jumlahnya tak sedikit. Karena itu, untuk memenuhi biaya pendidikan tersebut, saya dan suami perlu menyiapkannya sedini mungkin. Bahkan, idealnya dana pendidikan ini perlu dipersiapkan orangtua sejak anak lahir.

menyiapkan dana kuliah

Apabila dana pendidikan tak disiapkan sedini mungkin, maka ada kemungkinan orangtua belum siap memiliki dana saat tiba waktunya anak masuk sekolah.  Misalnya, nih, saat Bumi kemarin mau masuk SD, biaya uang pangkal yang harus dibayarkan lebih dari Rp20 juta. Bagi saya, sih, dana tersebut tidak bisa dikumpulkan dalam waktu singkat, belum lagi kenaikan biaya pendidikan anak mencapai 10% hingga 20% pertahun.

Memang, cara mengumpulkan dana pendidikan tidak bersifat baku karena tiap orangtua tentu memiliki pertimbangan dan cara yang berbeda. Namun dari pengalaman pribadi, beberapa hal ini perlu diperhatikan:

  • Berapa kira-kira biaya pendidikan untuk tahun ini?
  • Apa jenis sekolah yang dipilih—apakah negeri, swasta, atau internasional?
  • Apakah hanya menyiapkan uang pangkal, atau termasuk biaya bulanan hingga anak lulus?
  • Hingga jenjang apa dana pendidikan anak dipersiapkan?
  • Berapa kira-kira kenaikan biaya pendidikan tiap tahunnya?

Setelah mempertimbangan hal-hal di atas, saya pun berusaha memenuhi dana pendidikan anak dalam bentuk investasi maupun asuransi jiwa dan pendidikan. Idealnya, selama durasi persiapan dana pendidikan, orangtua yang masih berada dalam usia produktif memiliki proteksi keuangan dalam bentuk asuransi jiwa. Tujuannya agar dana pendidikan anak dapat terus dipersiapkan meskipun terjadi kendala atau musibah pada orang tua yang seharusnya mempersiapkan dananya.

Saat memilih asuransi pendidikan pun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Mulai dari besaran uang pertanggungan asuransi jiwa, kita perlu memastikan apakah uang tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan. Kemudian, besaran investasi apakah sudah sesuai dengan kenaikan harga rata-rata, dan jumlah premi yang akan dibayarkan apakah sudah sesuai dengan kemampuan finansial.

Saat menyiapkan dana pendidikan, saya pun akan memperhatikan kemampuan dan menyesuaikan kondisi finansial terlebih dulu. Para pakar bidang finansial menyarankan orangtua agar bisa menyisihkan dana pendidikan anak sebesar 10% dari penghasilan bulanan. Artinya, jika jumlah anak lebih dari satu, pos tersebut harus dibagi rata. Apabila orangtua mengambil alokasi yang lebih besar, misalnya 20% dari penghasilan, maka harus ada pos pengeluaran lain yang dikorbankan—tak lain adalah pos biaya hidup rutin dan gaya hidup.

Bagaimana dengan Mommies, sudah menyiapkan dana pendidikan anak belum, dan cara mana yang paling efektif menurut Mommies? Bagikan pengalamanmu, dong.

*Artikel ini merupakan hasil kolaborasi Mommies Daily dengan Sun Life Financial Indonesia

 


Post Comment