Berfantasi Seks Bukan dengan Pasangan?

Sebuah riset yang diterbitkan dalam Journal of Sex Research menunjukkan kalau 98% pria beristri dan 80% wanita bersuami sering kali membayangkan orang lain saat sedang bercinta dengan pasangannya.

Ngomongin masalah seks memang nggak akan ada habisnya, ya? Hal ini pun berlaku ketika saya sedang ngumpul dengan beberapa teman. Selain masalah pola asuh anak, biaya hidup yang kian melonjak, masalah seks juga jadi salah satu ‘menu’ yang nggak ada habisnya buat dibahas.

Suatu hari, ketika sedang ngumpul ada seorang teman yang nyeletuk, “Eh, kalian pernah merasa bosan nggak, sih, dengan kehidupan seks? Rasanya flat aja gitu? Gue kok, belakangan ini jadi sering jadi berfantasi seks bukan dengan suami. Berfantasi seks dengan orang lain salah nggak, sih?”. Kami yang mendengar pun langsung koor bersama, “Nggak salah, doooong…”

Eh, benar nggak, ya, kalau berfantasi seks dengan orang lain selain pasangan tidak salah? Sejauh mana batasan fantasi seks ini dikatakan wajar?

Ngomongin soal fantasi seks, buat saya sih, rasanya wajar saja, ya, jika kita punya fantasi seks. Sesekali berimajinasi seks bersama Channing Tatum atau Adam Levine, boleh juga kan, ya? Setidaknya, buat saya pribadi fantasi seks mampu meningkatkan mood. Kalau lagi mumet dan banyak pikiran. dengan berfantasi seks, adrenalin saya seakan terpompa.

Pakar seks Ian Kerner juga mengatakan kalau fantasi seks merupakan salah satu kunci menuju kehidupan seks yang memuaskan, walaupun tokoh dalam imajinasinya bukanlah pasangan sendiri. Umh, benarkah begitu?

fantasi seks

Dalam hal ini Zoya Amirin, seksolog yang berlatar psikologi ini mengatakan jika seseorang memiliki fantasi seksual dengan orang lain yang bukan suaminya memang sering dialami perempuan. Namun, untuk mengukur apakah hal ini sebenarnya wajar atau tidak akan kembali lagi dilihat pada kemampuan diri sendiri, artinya jika memang hubungan seksual baru bisa dilakukan dengan cara berfantasi dengan orang lain lebih dulu, jelas hal ini tidak wajar dan normal.

“Idealnya ketika kita berhubungan seksual tentu saja harus ada hubungan  ettachment dengan pasangan karena tanpa disadari semakin jauh hubungan emosi dengan pasangan akan cenderung membuat kita melupakan pasangan. Artinya, semula normal lama-lama bisa nggak normal.”

Benar juga, sih, ya… yang namanya ‘kelekatan’ dengan pasangan itu kan memang perlu dibangun. Masalah bosan dengan pasangan bisa saja terjadi, tinggal bagaimana kita menyikapi dan mengatasi rasa bosan tersebut. Apalagi buat pasangan yang sudah sudah melewati beberapa fase pernikahan. Kalau katanya Zoya Amirin, jika melakukan seksual harus lebih dulu membayangkan berfantasi seks dengan orang lain, dampaknya hampir sama dengan pasangan yang kecanduan nonton film porno.

Katanya, ketika berhubungan seksual  harus lebih dulu dipancing dengan nonton film porno atau berfantasi seks dengan orang lain, artinya kita tidak mindfull. Maksudnya, idealnya ketika melakukan hubungan seksual, secara holistik kita bisa berada di tempat yang sama. Badan, hati dan pikiran harus ada di satu tempat.

Jika hal ini terjadi, di mana saat bercinta pikiran melayang ke mana-mana, alias nggak fokus, ujung-ujungnya proses hubungan seksual tidak bisa dinikmati. “Makanya tidak sedikit pasangan yang akhirnya melakukannya hanya sebentar, karena memang tidak menikmatinya,” ungkap Zoya.

Jadi, fantasi seks bisa jadi berhaya bahkan mengancam perkawinan kalau memang sudah membuat terobsesi atau menjebak. Akibatnya, apa pun yang dilakukan pasangan nggak mampu memuaskan. Kalau bisa saya simpulkan, sebenarnya dalam kehidupan pernikahan, fantasi seksual memang ada sisi plus dan minus. Kalau memang nggak mau menimbulkan masalah, lebih baik ungkapkan saja mengenai fantasi seks yang kita miliki. Ya, namanya fantasi, sama saja dengan imajinasi yang tanpa batas. Kalau memang nggak bisa diwujudkan, ya, sebenarnya nggak menimbulkan masalah juga kan?

Malah menurut saya, jika imajinasi ini bisa  di-share sama suami, malah bisa menimbulkan kedekatan. Atau mungkin bisa jadi bahan obrolan ringan yang bisa menimbulkan gelak tawa? Berdasarkan pengalaman pribadi, saya pernah mengungkapkan imajinasi seksual pada suami. Bukannya berusaha untuk mewujdukannya,  ujung-ujungnya kami malah jadi tertawa membayangkan kalau memang fantasi seks tersebut. Lagi pula, lewat obrolan seperti ini bisa saja menciptakan fantasi seks bersama, jadi bukan fantasi seks secara individual. Rasanya kalau punya fantasi seks bersama jadi jauh lebih menyenangkan, ya?

Seperti yang diungkapkan Zoya Amirin, bahwa fantasi seks yang dimiliki sebenarnya belum tentu harus diwujudkan. “Namanya juga fantasi,  imajinasi liar yang bisa saja sulit diaplikasikan pada kehidupan. Intinya dari fantasi seksual ini justru pasangan suami istri bisa berbagi rahasia dan mengetahui apa keingingan dari pasangan. Fantasi seks, selama tidak dipaksakan, tidak mengganggu dan merugikan orang lain tentu saja bisa saja diwujudkan”.

Jadi gimana? Masih mau berimajinasi seks dengan bukan pasangan?


Post Comment