Anak Perfeksionis, Haruskah Merasa Khawatir?

Ditulis oleh: Saskia Elizabeth

Awalnya saya senang ketika mengetahui bahwa anak saya perfeksionis. Saya seperti menemukan my other half. Tapi rasa senang itu tidak berlangsung lama.

Sebagai ibu yang sangat perfeksionis dan OCD pula (kebayang kan ya anak-anak saya seperti apa stresnya punya ibu macam saya :D), saya cukup senang lho ketika melihat Little S, anak kedua saya, sedari kecil sudah menunjukkan perfeksionis. Tapiiii ya, setelah melihat beberapa tanda berikut ini, jujur saja, hati kecil saya mulai deg-deg ser:

• Sangat berhati-hati bahkan terlalu berhati-hati
• Lebih sering fokus pada kegagalan daripada keberhasilannya
• Selalu kecewa apabila sesuatu yang direncanakan tidak terwujud seperti yang ia mau.
• Bertanya mengenai banyak hal agar dia merasa aman dan nyaman dengan suatu kondisi
• Tidak fleksibel
• Hanya mau melakukan satu cara dalam melakukan sesuatu
• Tidak mudah masuk ke lingkungan baru, karena ia merasa insecure tidak mengenal tempatnya dan bukan rutinitasnya.
• Juga tidak mau mencoba hal baru karena takut salah.

Anak perfeksinois

*Image dari www.chunkofchange.com

Lama kelamaan saya agak tidak tenang, karena tumpah dikit nangis, gambarnya salah dikit harus ganti kertas nggak boleh hanya dihapus, atau kalau melenceng dari rencana awal ia akan marah.

Maka memasuki usia kedua, saya berusaha mengantisipasi dengan beberapa langkah di bawah ini:

• Memberikan kesempatan untuk gagal dan salah, dan meyakinkannya bahwa hal ini masih wajar, karena untuk berhasil harus melewati beberapa tahapan yang tidak mudah, dan ia sudah melakukan yang terbaik yang ia bisa. Tetap semangati sekaligus menenangkannya dalam kepanikannya.

• Mengajarkan ia agar lebih fokus pada prosesnya bukan pada hasilnya. Saat anak terlalu fokus pada hasilnya, maka ia kelak dapat menghalalkan berbagai cara. Tapi apabila Anda memuji dan menekankan pada proses yang ia lakukan, maka selain ia menjadi lebih tekun dan giat, iapun tidak terlalu ambisius menjadi no 1 dan tidak pernah salah.

• Rutin memberikan tantangan baru, mengunjungi tempat-tempat baru, berkenalan dengan banyak teman baru, jangan membuatnya terlalu nyaman di comfort zone-nya.

• Anak perfeksionis akan lebih sering ‘bersentuhan’ dengan emosi. Mereka bukan tipe yang akan cuek kalau sesuatu hal kecil terjadi pada mereka atau barang mereka. Maka tugas kita sebagai orang tua melatih menyalurkan emosinya. Ajarkan apa yang harus ia lakukan saat ia melihat atau merasakan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginnya, apapun itu jauhkan risiko dari merugikan atau menyakiti orang lain dan dirinya sendiri.

• Mengubah perspektifnya menjadi lebih luas sehingga akan selalu ada rencana cadangan apabila sesuatu tidak terjadi sesuai keinginannya. Misalnya dalam menggambar kereta, Little S ini selalu menggambar hal yang sama yaitu kereta berwarna biru beroda empat titik. Kalau ukuran rodanya tidak sama atau tiba-tiba tidak ada warna biru ia jadi stres dan cranky. Saya mencoba mengubah sudut pandangnya, kalau si rodanya cuman tiga, mungkin saat ini cerita di gambarnya si roda lagi lepas, lalu saya menggambar roda keempat di luar kereta, atau saat warna biru tidak ada maka saya menggantinya warna lain yang ada lalu mengubah sudut pandang cerita menjadi si kereta ketumpahan cat warna lain atau si tukang salah cat karena lupa memakai kacamata saat mencat. Saat itu terjadi anak saya malah ketawa dan semenjak itu ia menjadi lebih kreatif dalam membuat gambar, ada saja cerita konyol yang dibuatnya.

• Kita sebagai orang tua/panutannya harus mengubah beberapa hal; menghindari membandingkan dengan orang lain, set standard yang masuk akal sesuai dengan kemampuan anak saat itu, dan lebih tenang (maksudnya tidak terlalu perfeksionis juga di hadapannya mengingat saya nggak jauh beda sama dia). Saya mengurangi mengucapkan hal-hal yang mengintimidasi ia melakukan hal yang sama. Seperti berkata ke anak pertama, “Baru boleh keluar kamar kalau PR-nya sudah tidak ada yang salah yaa.” Atau, ke suami, “Kalau mencuci mobil sampai bersih tidak ada kotoran sama sekali ya.”

Sisi baiknya saya pasti jarang menegurnya, karena dia memang sangat taat peratutan dan melakukan semua hal berdasarkan instruksi. Namun, tantangan yang saya hadapi tentu tidak sedikit, yaitu menuntunnya agar dalam beberapa hal ada perubahan, kalau tidak ke depannya nanti ia akan sering mengalami stres, konsisten melakukan hal yang sama dan tidak berani mengambil risiko, serta sulit masuk atau beradaptasi di lingkungan baru. Jujur saja saya tidak takut dan malah semangat menerima tantangan saat saya tahu ternyata anak saya perfeksionis.

Karena saya tahu, my Little S will be doing a lot of great things perfectly, now and in the future!


One Comment - Write a Comment

Post Comment