Mengabarkan Kehamilan pada Perusahaan, Apa yang Harus Diperhatikan?

Perhatikan 3 hal ini saat Mommies hendak mengabarkan kehamilan pada perusahaan, demi kebaikan bersama.

Adakalanya Mommies pernah menemukan beberapa perushaan yang menginginkan karyawannya yang masih lajang atau bahkan ada yang mensyaratkan bahwa karyawannya tidak diperbolehkan hamil dalam kurun waktu tertentu. Hal ini dikarenakan pandangan bahwa pekerja yang masih lajang dianggap lebih bisa diandalkan untuk perjalanan dinas keluar kota, lebih mudah diminta lembur, dan cenderung lebih tidak rentan minta ijin tak masuk kerja karena alasan keluarga. Sedangkan seorang ibu, terutama ibu hamil, umumnya dinilai lebih rentan untuk bekerja, contohnya karena kondisi kehamilan yang membuat ibu hamil harus memperbanyak istirahat atau load kerja berkurang.

Mengabarkan Kehamilan Pada Perusahaan, Apa yang Harus Diperhatikan?

Tapi tenang kok, Mommies, hak pekerja perempuan dilindungi dalam undang-undang. Untuk kehamilan sendiri, tercantum pada Undang-Undang Ketenagakerjaan Pasal 153 ayat 1 huruf e UU No.13/2003 yang berbunyi: “Pengusaha dilarang melakukan pemutusan hubungan kerja dengan alasan pekerja/buruh perempuan hamil, melahirkan, gugur kandungan, atau menyusui bayinya.”

Walaupun demikian, ada baiknya Mommies memberitahukan langsung kepada atasan dan kalau perlu pada pihak HRD pada awal-awal kehamilan atau pada trimester pertama kehamilan. Berikut ini hal-hal yang dapat dinformasikan kepada atasan Mommies atau perusahaan:

Usia kehamilan, due date, dan rencana cuti melahirkan

Memberitahu usia kehamilan dan perkiraan waktu kelahiran erat kaitannya dengan rencana cuti melahirkan yang akan Mommies ambil. Lamanya cuti melahirkan pun sudah ditentukan dalam peraturan undang-undang, yakni 1,5 bulan sebelum melahirkan dan 1,5 bulan setelah melahirkan. Walaupun demikian tidak sedikit pekerja perempuan yang memilih untuk mengambil cuti mendekati due date agar dapat lebih lama untuk merawat bayi mereka secara intensif.

Kembali lagi, itu tergantung rencana Mommies dan juga kondisi kehamilan Mommies. Maka itu ada baiknya Mommies menginformasikan rencana cuti melahirkan kepada atasan Mommies, agar cuti melahirkan lancar untuk Anda dan atasan, misalnya supaya dapat mempersiapkan dan mengatur pekerjaan supaya kinerja tim tetap berjalan lancar walaupun Mommies tidak hadir selama masa cuti melahirkan.

Kondisi kehamilan

Setiap ibu tentunya mengharapkan kondisi kehamilannya tetap baik-baik saja selama masa kehamilan. Tapi tidak menutup kemungkinan di beberapa kasus, kondisi kehamilan membutuhkan perhatian yang ekstra. Karena itu, informasikan kepada atasan Mommies apabila memiliki keluhan-keluhan kehamilan yang Mommies rasa mungkin harus diwaspadai dan mempengaruhi kinerja di kantor. Semoga saja atasan Mommies dan perusahaan dapat bertoleransi dan memberikan kelonggaran terkait dengan kondisi-kondisi khusus ini.

Komitmen bekerja

Mengacu pada prasangka yang umumnya beredar mengenai ibu hamil yang bekerja, ada baiknya Mommies menunjukkan komitmen Mommies dalam bekerja. Tunjukkan bahwa walaupun sedang hamil, Mommies masih tetap dapat melakukan pekerjaan dengan baik. Tapi tentunya jangan sampai memaksakan diri untuk bekerja terlalu lelah dan membuat Mommies stres. Salah satu kiatnya selalu cari alasan yang membuat bahagia selama masa kehamilan.

Setelah melahirkan pun demikian, tanyakan dan pastikan kembali pada diri Anda sendiri mengenai rencana Mommies setelah memiliki Anak. Apakah Mommies akan tetap bekerja atau memilih untuk berhenti? Apabila masih ingin bekerja, maka Mommies harus menjaga profesionalitas ketika mulai kembali ke kantor. Akan tetapi, apabila Mommies memilih untuk mengundurkan dan merawat anak, sebaiknya Mommies segera menginformasikan kepada atasan agar atasan Mommies dapat mengatur kembali pembagian pekerjaan di kantor atau mungkin untuk mencari pengganti Mommies secepatnya.

Penulis: Chalifatunnisa, perempuan yang menyukai seni dan budaya ini mulai bergabung kedalam dengan Tim Experd sejak tahun 2014  sebagai HR senior.


One Comment - Write a Comment

  1. saya termasuk salah satu orang yang cukup beruntung karena perusahaan cukup memberikan keleluasaan untuk hamil, apalagi kehamilan kembar saya ini cukup beresiko.
    karena tingginya resiko kehamilan saya, sayapun direkomendasikan dokter untuk bedrest lebih awal yaitu 3 bulan sebelum kelahiran. dan puji Tuhan perusahaan dan atasan tidak menghalang-halangi rekomendasi dokter ini. hanya saja memang, selama saya masih sanggup, pekerjaan tetap dilakukan secara remote dari rumah.

Post Comment