Rinitis Alergi, Bisakah Ditangani?

Ditulis oleh: Dewi Warsito

Sebenarnya, apa itu Rinitis alergi dan bagaimana cara menanganinya?

Sudah sejak sebelum Lebaran tahun 2016, hidung Rimba (5 tahun) nggak pernah kering, alias selalu berlendir. Saya pikir tadinya hanya flu biasa, karena sempat diiringi batuk. Tapi, kok, lama banget, ya, nggak sembuh-sembuh. Sudah hampir sebulan akhirnya saya bawa ke dokter spesialis anak yang biasa menangani Rimba. Ia pun dikasih obat pilek biasa, dan karena ada riwayat alergi, sebaiknya diinhalasi. Berhubung kami punya alatnya di rumah, jadilah kami hanya diresepkan NACL, dan ventolin.

Seminggu, dua minggu, masih juga nggak kelar-kelar pileknya, walaupun Rimba sudah nggak batuk lagi. Di waktu-waktu tertentu, napas Rimba pendek-pendek dan melalui mulut. Kasihan. Akhirnya kami putuskan ke dokter spesialis anak back-up di rumah sakit Bunda, Depok. Iya, kami punya pegangan 2 dokter anak, just in case, dokter yang dekat rumah sedang nggak available, atau kayak sekarang ini, nggak bisa menangani. Diagnosa hampir sama, hanya kali ini ditambah cetirizine, yaitu antihistamin, alias anti alergi.

Tunggu punya tunggu, pileknya Rimba masih saja ada. Saya sering mengintip lubang hidungnya, dan lendirnya menutupi kedua lubang yang menurut saya membuatnya sulit bernapas normal. Bagaimana, ya, ini sudah ke 2 dokter masih saja hasilnya sama. Ketika akhirnya saya browsing mengenai gejala ini, saya mendapatkan hasil tentang anak alergi. Cuma karena saya butuh penjelasan yang lebih lengkap dan jelas, saya memutuskan untuk berkonsultasi dengan ahlinya. Setelah browsing beberapa nama, saya mendapatkan nama Dr.dr. Zakiudin Munasir, Sp.A(K), dokter spesialis anak konsultan alergi-imunologi. Prakteknya di RSCM Kencana. Jauh, ya, dari Depok, tapi ya sudahlah.

Rinitis Alergi

*Image dari www.healthxchange.com

Tes Alergi

Begitu saya menceritakan kronologis dari pileknya Rimba, dokter Zakiudin sudah merasa bahwa yang diderita oleh Rimba ini sebenarnya adalah alergi. Tapi, alergi yang bagaimana? Untuk mengetahui pencetusnya, Rimba disarankan untuk melakukan tes alergi di klinik Pramita, untuk 52 jenis alergen, yang di dalamnya termasuk tes alergi makanan seperti kacang-kacangan, telur, susu sapi, dan makanan sumber alergen lainnya. Selain itu tungau, debu, juga kecoa termasuk pencetus yang dites. Untuk itu, diperlukan bukan tes kulit, tapi tes darah. Selain lebih mudah bagi anak seusia Rimba, tes darah menurut dokter Zakiudin lebih efektif dan praktis dalam menentukan pencetus alerginya.

Rinitis Alergi

Dari 52 jenis alergen yang dites, keseluruhannya negatif buat Rimba, bahkan terhadap tungau, dan kecoa. Yang pada akhirnya kesimpulannya hanya satu, Rimba alergi terhadap cuaca yang lembap, dan perubahan suhu yang tak menentu. Hadeuuuh…bukan apa-apa, cuaca yang nggak jelas ini entah kapan berakhirnya, kan? Tahun ini aja, musim panas nyaris nggak ada.

Jika dilihat dari gejalanya, alergi yang dimiliki Rimba bisa dikategorikan pada Rinitis Alergi. Alergi ini merupakan salah satu manifestasi alergi yang mengenai hidung. Seperti yang kita tahu, fungsi utama hidung adalah untuk saluran udara, penciuman, melembapkan udara yang dihirup, melindungi saluran napas bawah dengan cara menyaring partikel, membunuh kuman yang masuk, antivirus, kekebalan saluran napas, dan resonan suara. Nah, reaksi selaput lendir hidung akan menimbulkan gejala penyumbatan aliran udara, pengeluaran lendir, bersin, dan rasa gatal jika ada alergen (pencetus alergi). Jika tidak terdapat gangguan bentuk tulang hidung, maka sumbatan hidung disebabkan oleh pembengkakan selaput lendir, dan lendir yang kental.

Penanganan Rinitis Alergi

Kalau alergennya adalah makanan, sebenarnya jauh lebih mudah, tinggal hindari saja makanan tersebut, kan, demikian kata dokter Zakiudin. Sayangnya cuaca negara tropis macam Indonesia ini, nggak mudah dihindari, kecuali mungkin pindah rumah ke pinggir pantai yang udaranya kering (ehem, ada yang mau sponsorin?:))

Dokter Zakiudin pun melakukan tata laksana rhinitis alergik pada Rimba dengan memberikan antihistamin oral. Tadinya mau dikasih obat yang dihirup, seperti obat asma itu, lho. Tapi khawatir Rimbanya belum optimal saat menghirupnya, akhirnya diputuskan untuk memberi antihistamin yang diminum. Pencegahan ini berlangsung selama 2-3 bulan. Saat ini hidung Rimba mulai sedikit lega, walau masih tetap ada lendirnya, terutama di waktu-waktu tertentu seperti jelang subuh yang udaranya termasuk lembap. Mudah-mudahan terapi oral ini ada hasilnya, deh. Kita lihat 3 bulan ke depan, ya.


Post Comment