8 Tahapan Emosi Setelah Dipecat yang Saya Rasakan

Dipecat – kondisi yang tidak pernah saya bayangkan akan saya alami. Namun saya mampu menjalaninya. Dan ini 8 tahapan emosi setelah dipecat yang saya rasakan.

Sebagai ibu dari tiga orang anak yang sangat mencintai pekerjaannya, jujur saja, saya tidak pernah mengira bahwa dalam track record karier saya, saya akan mengalami pemecatan. Saya merasa kinerja saya sangat baik, saya cinta dengan kantor saya namun sebuah kesalahan membuat saya harus mengalami situasi yang tidak menyenangkan ini.

Saya tidak ingin curhat, namun lebih kepada sharing tahapan-tahapan emosi yang saya rasakan. Karena kondisi seperti ini bisa saja dialami oleh kita semua :).

dipecat bukan akhir dari segalanya

1. SHOCK
Kalau misalnya ada rekaman yang merekam ekspresi wajah saya saat menerima pemberitahuan ini, sudah pasti yang akan terlihat adalah tatapan tidak percaya, bengong dan hampa. Ibaratnya, saya ingin menampar diri sendiri untuk memastikan bahwa ini bukan mimpi. Ini benar-benar real. Dan saya hanya menggumamkan satu pertanyaan “Kenapa?”

2. PANIK
Tahu nggak apa yang langsung terlintas di dalam pikiran saya? Bagaimana dengan kondisi keuangan rumah tangga saya? Bagaimana kami menjalani hidup dengan hanya mengandalkan satu income dari suami? Apa saja yang perlu saya hemat agar ketiga anak saya masih tetap bisa mendapatkan fasilitas? Saya panik luar biasa sampai tangan saya gemetar. Namun ini juga membuat saya lebih cermat dalam mempelajari kompensasi apa yang saya peroleh dari perusahaan. Bagaimana pun, ada nominal yang harus saya siapkan hingga nanti saya mendapat pekerjaan baru.

3. SEDIH
Saya sedih menerima nasib saya. Saya sedih melihat tatapan mata ketiga anak saya. Saya sedih saat menyampaikan berita ini ke suami saya. Saya sedih dengan dampak yang akan keluarga kami rasakan pasca pemecatan saya. Saya tidak bisa berhenti menangis. Dan dukungan dari suami adalah pilar utama yang membuat saya bertahan.

4. MARAH
Saya marah pada perusahaan yang memecat saya. Saya marah karena saya merasa sudah terlalu setia pada perusahaan. Saya marah karena merasa tidak dihargai. Saya marah karena saya tidak punya feeling bahwa saya akan dipecat. Saya marah dengan teman-teman dekat di kantor karena melihat mereka masih bisa bahagia di sana. Saya merasa dunia tidak adil.

5. DENDAM
Saya ingin membalas perlakuan perusahaan. Saya ingin tunjukkan bahwa mereka rugi dan akan menyesal telah memecat saya. Saya sibuk mencari sekutu di luar sana. Menceritakan penderitaan saya dan menyampaikan hal-hal buruk tentang perusahaan, dengan harapan semua orang yang saya kenal ikut membenci bekas perusahaan tempat saya bekerja. Jujur saja, saya menyesal melakukannya. Mengapa? Karena tidak semua orang yang mendukung kita di depan melakukan hal yang sama di belakang kita :D. At the end, duka kita hanya menjadi bahan omongan di luar sana.

6. LELAH dan MENERIMA KENYATAAN
Emosi saya sudah terkuras, mulai dari sedih, marah, dendam hingga akhirnya lelah. Inilah momen ketika akhirnya saya mencoba untuk berpikir tenang. Mencari sisi baik dari hal yang terlihat buruk. Lebih pasrah menjalani masa depan dan pada akhirnya saya menerima kenyataan.

7. EUPHORIA
Euphoria dengan kondisi saya yang menjadi pengangguran. Saya mencoba menciptakan bahagia dari kondisi ini. Saya bisa berlama-lama dengan ketiga anak saya di rumah. Saya bisa lebih fokus menemani mereka bermain dan belajar. Saya jadi bisa mengurus rumah dan ngobrol panjang lebar bersama suami. Saya bisa lebih santai tanpa beban pekerjaan yang menumpuk. Saya sering bertemu dengan teman-teman sekaligus mencari networking baru.

8. MULAI MENATA HIDUP
Apa langkah saya selanjutnya? Saya mulai mencari-mencari pekerjaan baru. Catatan penting untuk Anda semua, kalau memang kondisi keuangan Anda tidak terlalu mendesak, jangan terburu-buru mencari pekerjaan baru. Karena hunting pekerjaan yang diikuti dengan perasaan terdesak atau marah, hanya membuat kita tidak cermat melihat paket remunerasi yang ditawarkan oleh perusahaan baru. Dan saat ini, saya sudah kembali bekerja setelah nyaris menganggur selama 7 bulan.

Dipecat memang bukanlah hal yang menyenangkan, namun, tetap itu bukan akhir dari segalanya. You (and your kids) will survive getting fired.


Post Comment