Ina Thomas, Bicara Soal Membesarkan Anak Remaja dan Tattoo

“Keluarga kami bukan keluarga perfect tapi kami selalu mencoba saling melengkapi,” – Ina Thomas.

Beberapa waktu lalu, Ina Thomas sempat mampir ke kantor Female Daily Network. Awalnya, sih, memang ada keperluan syuting dengan tim creative dan editorial Female Daily. Tapi, mengingat Ina Thomas merupakan sosok Ibu yang memiliki anak remaja, plus mompreneur yang memiliki usaha di bidang fashion dan beauty, saya jadi kepikiran untuk melakukan wawancara dengannya. Buat Mommies yang senang membaca forum dan artikel Female Daily, tentu sudah cukup familiar dengan kefir Medina dong?

IMG_9823

Di sela-sela proses syuting dengan tim Female Daily, saya pun akhirnya sempat ‘menangkap’ Ina Thomas dan bertanya seputar kesibukannya, dan tentu saja soal parenting. Mengingat kedua anaknya, Matthew dan Valerie kini sudah beranjak dewasa, pasti banyak insight menarik yang bisa saya pelajari.

Mau tahu bagaimana cerita Ina Thomas membesarkan kedua anaknya di era yang kian modern ini? Berikut kutipan obrolan saya dengannya…

Hallo Mbak Ina… kalau biasanya sama Female Daily ngobrolin soal skincare, saya mau ngobrol soal parenting, ya. Menurut, Mbak Ina…. apa saja, sih, tantanganya membesarkan anak remaja saat ini?

Wah, tantangan banyak sekali, ya.. .. apalagi setiap anak itu kan tipenya beda. Contohnya Val, dia itu gampang dikasih contoh dan dikasih tahu, tapi harus benar-benar melihat contoh nyata dan ada case yang bisa dia lihat lebih dulu. Kalau cuma kasih tahu aja, biasanya Val cuma ok-ok saja dan kurang aware. Di pendidikan, Val juga nggak perlu repot saya arahkan, dia sudah tahu ke depannya mau kaya gimana, apa yang harus dia lakukan.

Nah, sementara Mathew memang berbeda, jadi saya harus lebih ngemong. Dia itu tipe anak yang sweetheart. Sama teman itu sangat loyal, padahal kan ada teman yang benar-benar teman tapi ada teman yang hanya menggunakan dia untuk kepentingan sendiri. Akhirnya Mathew saya lihat suka dimanfaatkan oleh teman-temannya. Dari sini saya dan suami harus bersosialisasi dengan teman-temannya, tahu karakter teman-temannya. Saya pun ketika melihat ada temannya yang kurang baik atau melakukan sesuatu yang saya nilai kurang sopan, saya akan langsung mengomunikasikan ke anak saya.

Jadi tantangannya lebih kepada lingkungan pertemanan dan sosial, ya, Mbak?

Iya. Mendidik anak sekarang ini kan suka nggak sinkron antara di rumah dan lingkungan pergaulan di luar rumah. Makanya saya lebih hati-hati. saya harus masuk ke pergaulan anak-anak.  Kita  harus mempelajari anak-anak, membiarkan teman-teman anak yang lain ke rumah sehingga saya bisa screening secara langsung. Saya lebih suka teman-temannya yang kumpul  ke rumah.  Buat saya sebagai orangtua memang harus bisa melihat dan mengenal anak secara menyeluruh.

IMG_9825

Mbak  Ina tipe ibu seperti apa, sih?

Saya kayanya tipe ibu yang sering cemas tapi saya juga berusaha real. Saya juga tipe ibu yang kolot. Contohnya, saya nggak suka dengan lelaki yang tatoan. Saya nggak suka melihat laki-laki punya tato tapi belom punya karier yang jelas, nah ini sudah tumbuh dari diri saya sejak lama. Makanya, saat saya awal tahu Matthew tatoan, saya marah Tapi dari sana saya kemudian berpikir, buat apa saya marah?

Toh, anaknya sudah tatoan. Nanti,  malah bikin anak jadi bohong, nggak jujur ke orangtua. Ya sudah, meskipun saya nggak suka, saya akhirnya mengizinkan karena saya larang terus  bisa saja di belakang saya dia bohong.  Saya nggak mau anak sampai takut ke orangtuanya. Sehingga untuk menutupinya bikin dia jadi berbohong. dan nggak apa adanya di depan orangtua. Pada akhirnya untuk melancarkan komunikasi dengan anak, saya selalu bertanya, apa yang kalian mau?

Banyak yang bilang, komunikasi dengan anak remaja seperti Matthew dan Valerie tidak mudah. Selain bertanya, apa yang kalian mau? Hal apa lagi yang Mbak Ina terapkan?

Saya selalu bilang ke Matthew dan Valerie, kami mungkin bukan keluarga yang perfect tapi kami selalu mencoba saling melengkapi.  Saya selalu bilang ke anak-anak, kalau  hidup ini nggak usah munafik. Buat saya percuma juga kalau selalu berteori tanpa melakukan sesuatu. Tapi sampai anak-anak besar, saya selalu berusaha menerapkan untuk nggak bohong soal apapun.  Karena saya ingin ingin anak-anak jadi teman, dan nggak mau mereka punya batasan ke saya, saya pun selalu berusaha terbuka.

Karena anak-anak juga sudah besar, bisa menentukan pilihan mereka sendiri saya pun memberikan peluang ke anak. Dan selalu bertanya apa yang mereka inginkan? Misalnya, nggak mau sekolah, mau cuti kuliah dulu. Ya, silakan saja. Tapi lalu mau ngapain? Harus ada tujuannya. Saya berusaha memberikan gambaran ke anak-anak bahwa hidup itu nggak gampang, yang bisa menolong untuk maju dan berkembang adalah diri sendiri.

Mengingat Mbak Ina dan suami serta anak-anak pasti banyak kesibukan, masih sempat nggak, sih, melakukan ritual keluarga?

Biasanya, sih, kita pagi selalu ngumpul ya. Saat makan kita akan ngobrol segala macam, termasuk ngomongin jadwal apa saja yang akan dilakukan hari itu. Kalau mau pergi malam, juga harus bilang dulu. Biar gimana kita kan masih punya kultur budaya.

Menurut Mbak Ina, orangtua sukses, orangtua seperti apa?

Pasti dalam bayangan banyak orangtua, sukses tidaknya orangtua bisa dilihat dari kemapuan menyekolahkan anak sampai pendidikan tinggi dengan nilai yang tinggi. Tapi kenyataan bisa saja nggak begitu. Buat saya orang tua yang sukses adalah orangtua yang bisa masuk ke dunia anak-anaknya, di mana ada take and give ke anak dan si anak bisa paham kalau tujuan orangtuanya itu memang baik, dengan tujuan mengontruksi anak dengan benar.


Post Comment