Agar si Kecil Belajar Minta Maaf dengan Sungguh-sungguh

Ditulis oleh: Nayu Novita

Si kecil mudah meminta maaf bukan berarti dia paham lho mengapa dia harus meminta maaf. Si kecil juga perlu belajar mengerti arti maaf dengan sungguh-sungguh. Bagaimana mengajarkannya?

Pernah, suatu kali saya tergopoh-gopoh menghampiri si adik (6) yang tiba-tiba menjerit dengan hebohnya ketika sedang bermain di dalam kamar karena ternyata . tangannya dicubit si kakak (10) yang gemas lantaran adiknya tak mau berhenti menirukan kata-kata dan gerakannya.

Berhubung di keluarga kami ada peraturan “pakai mulut, bukan tangan”, si kakaklah yang diwajibkan meminta maaf kepada adiknya—meskipun kemudian si adik juga kena tegur karena usil, sih. Yang terjadi selanjutnya membuat saya bengong. Si kakak minta maaf secepat kilat dengan tampang jutek, melengos, lalu melenggang masuk ke kamarnya. Sudah minta maaf, sih, tapi kan… #helanapaspanjangin sabar

Familiar nggak mom dengan ‘penderitaan’ saya? Hahahaha. Kayaknya memang banyak ya anak-anak yang menganggap permintaan maaf sebagai “penunaian kewajiban” tanpa mengerti makna sebenarnya. Yang penting mama senang dan persoalan cepat selesai (supaya bisa main lagi!).

Mengajarkan anak meminta maaf

Membangun empati
Sebenarnya untuk membuat anak-anah mengerti makna di balik permintaan maaf, menurut Sal Severe, Ph.D., seorang konselor keluarga yang juga penulis buku How to Behave So Your Preschooler Will Too!, mesti dilakukan sesuai tahapan usia. Sebelum bisa meminta maaf, si kecil harus menyadari dulu bahwa ia telah melakukan perbuatan yang tidak baik. Pada batita—bahkan juga terkadang balita, konsep benar-salah ini masih belum begitu jelas, sehingga orangtua perlu membantu menunjukkan tindakan apa yang disebut tidak benar dan perlu diperbaiki dengan permintaan maaf.

Setelahnya, berikan pengertian tentang mengapa anak perlu minta maaf. Penjelasan sederhana seperti “Kita perlu minta maaf jika melakukan sesuatu yang menyakiti orang lain,” akan membuat si kecil mengembangkan pemahamannya. Bangun empati anak dengan mengajaknya memosisikan diri. Misalnya, Anda bisa bilang, “Lihat itu adik menangis. Menurut kakak, mengapa adik menangis? Kira-kira, kalau kakak dicubit, kakak akan merasa bagaimana?”

Di atas usia 6 tahun, umumnya anak sudah punya pemahaman yang jelas tentang konsep benar-salah. Ia juga sudah mampu memahami apa yang dirasakan orang lain ketika dirinya melakukan perbuatan yang merugikan. Tapi bukan berarti permintaan maaf akan lebih mudah diucapkan, lho. Anak seusia ini sudah mulai perduli akan citra dirinya di hadapan orang lain, sehingga terkadang malu atau gengsi untuk minta maaf. Sikap tenang dan positif dari orangtua akan menyemangati si kecil untuk berbesar hati dan mau mengoreksi kesalahannya.

Orangtua perlu beri dukungan
Sama seperti jenis kebiasaan baik lainnya, mengajari si kecil untuk mengembangkan empati dan tak berat meminta maaf kala diperlukan, perlu dimulai sejak dini. Untuk itu, dukungan semangat dari orangtua amat mempengaruhi keberhasilannya.

- Dampingi jika perlu. Biarkan si kecil tahu bahwa Anda memahami kesulitan yang dihadapinya kala meminta maaf. Pada anak yang masih kecil, Anda bisa mendampingi anak dan mengucapkan “maaf” bersama-sama dengannya. Anak yang lebih besar mungkin perlu waktu untuk meredakan emosi terlebih dahulu. Permintaan maaf juga tak mesti diungkapkan secara lisan, bisa melalui gambar, tulisan, atau gestur seperti pelukan.

- Jangan paksa anak minta maaf. Mendorong anak untuk meminta maaf tidak sama dengan memaksanya. Permintaan maaf karena paksaan malah bisa membuat situasi tambah runyam. Daripada memaksa, lebih baik beri waktu kepada si kecil untuk memikirkan akibat dari perbuatannya dan meminta maaf jika ia sudah siap.

- Tetap netral. Orangtua perlu mengambil sikap netral, tidak memihak. Katakan bahwa minta maaf itu tidak menandakan orang tersebut yang mulai duluan. Mereka berdua bisa sama-sama meminta maaf karena telah bertengkar.

- Beri contoh. Dalam kondisi si kecil menolak minta maaf, Anda bisa memberi contoh dengan mewakilinya meminta maaf kepada pihak yang tersakiti. Ini akan membantu meredakan rasa marah dan sedih yang dialami anak tersebut. Katakan, Anda minta maaf karena mainannya rusak atau tangannya luka. Biarkan pula ia tahu bahwa Anda akan membicarakan hal ini dengan si kecil di rumah. Berikan pula contoh baik dengan tidak berat meminta maaf ketika Anda berbuat salah. Tunjuk secara spesifik kesalahan apa yang Anda maksud, dan jangan terlalu banyak memberikan alasan.


Post Comment