Tips untuk Ibu Bekerja yang Memiliki Anak SD

Kalau ditanya apa rasanya menjadi working mom dari dua anak laki-laki yang semua duduk di bangku Sekolah Dasar? Tentu saja jawabannya seru!

Ya… ya… ya, saya tahu, di mana-mana motherhood world itu pasti rasanya nggak jauh beda. Mau berarapun jumlah anak kita atau mau apapun jenis kelaminnya. Di dalamnya sudah pasti ada rasa bahagia, khawatir, takut, bingung hingga marah akan campur aduk menjadi satu.

Kalau saya sekarang menulis mengenai apa yang saya alami dengan dua anak laki-laki, bukan karena saya merasa kondisi saya lebih istimewa dari mommies-mommies lain. Belum tentu juga apa yang saya alami juga dialami oleh working mom lain yang juga memiliki dua anak laki-laki. Ini sekadar berbagi cerita mengenai apa yang saya alami dan apa yang saya lakukan agar bisa tetap ‘waras’ menjalani peran ini, hahaha.

Tips untuk ibu bekerja yanga memiliki anak SD

  1. Harus gesit mencari barang-barang keperluan sekolah beberapa jam sebelum barang-barang itu akan digunakan

Nggak jarang, saya bisa menerima kabar dari ART saya yang mengirimkan WA bahwa si adik besok harus membawa kertas minyak untuk praktik membuat layang-layang dan si kakak harus membawa papan serta paku untuk praktik membuat bangun datar, hanya 13 jam sebelum barang-barang itu akan digunakan. Antara mereka yang lupa menginfokan, atau saya yang alpa mengecek buku penghubung, hohoho.

Jadi di sinilah saya kudu memiliki relationship yang baik dengan para mama-mama teman sekelas anak-anak saya, dengan guru mereka dan dengan ART di rumah. Karena mereka yang akan membantu saya dan membuat hidup saya menjadi lebih mudah :D.

  1. Harus menyiapkan hati kalau di tengah-tengah meeting menerima telepon dari wali kelas

Saya nggak tahu dengan Anda, tapi setiap kali nama wali kelas anak saya nongol di layar ponsel, pada saat jam sekolah masih berlangsung dan saya tahu anak-anak saya lagi berada di sekolah, jantung saya biasanya suka berdetak lima kali lebih cepat :D. Aselik deg-degan. Yang ada di otak saya saat itu adalah: Ada apa sama anak saya? Kenapa mereka? Dan berjuta kekhawatiran lain.

Biasanya saya memiliki nada dering khusus untuk nomor telepon wali kelas mereka agar ketika mendengar bunyinya, saya langsung ngeh kalau itu yang menelepon adalah wali kelasnya. Maka, saya bisa secepat mungkin mengangkat.

  1. Harus rajin hunting buku-buku soal yang ada di toko buku

Sebagai working mom, salah satu keterbatasan saya adalah saya tidak bisa setiap saat menemani anak belajar. Dan, berhubung kedua anak saya model murid yang lebih baik berlatih dengan soal dibanding harus menghapal berlembar-lembar, jadi memberikan mereka soal latihan adalah solusi yang saya lakukan. Maka, membeli buku soal benar-benar membantu saya. Sistem belajar harian mereka saat ini ya dengan mengerjakan latihan yang ada di dalam buku tersebut. Buku soal membuat mereka terbiasa berlatih.

Pengecualian saya lakukan untuk UTS, UAS dan UKK. Untuk tiga waktu itu saya khusus membuat soal sendiri berdasarkan buku paket yang mereka pelajari di sekolah.

  1. Sesekali mengajak si kecil ‘membolos’

Ada saatnya saya membiarkan mereka tidak bersekolah dan mengajak mereka melakukan kegiatan lain, karena kebetulan hari itu saya bisa cuti. (eeerrrr…….. siap-siap dilirik sinis oleh para tiger mom :D). Satu hari membolos di saat tidak ada ulangan dalam jangka waktu per 3 bulan atau 6 bulan. Bukan saya menganggap sepele pendidikan, namun buat saya pribadi, mangkir dari sekolah satu hari agar kami bisa berkumpul, pergi ke sebuah tempat dan melakukan aktivitas tanpa harus berdesak-desakan jika kami pergi saat weekend, juga bisa membuat mereka mendapat pelajaran kok.

Pendidikan itu nggak hanya diperoleh di sekolah kan. Di lingkungan sekitar pun juga banyak hal yang dapat dipelajari oleh kedua anak saya. Namun, hal ini hanya berlaku selama mereka masih duduk di kelas 1 – 3 SD.

  1. Harus bersiap dengan pertanyaan “Kenapa adik lebih pintar dari aku?” atau “Kenapa kakak lebih banyak teman dari aku?”

Menempatkan mereka di satu sekolah yang sama saya harus siap mendengarkan bagaimana mereka saling membandingkan diri mereka sendiri. Awalnya, saya sempat tidak siap menghadapi situasi ini. Karena selama ini saya mengira, orang lain yang akan membanding-bandingkan dan saya sudah siap untuk ‘menegur’ orang-orang model semacam itu. Jadi, saat si anaklah yang melakukan perbandingan, saya sempat terkejut. Dan, saat satu pertanyaan muncul, akan muncul pertanyaan-pertanyaan berikut.

Ini menjadi kesempatan bagi saya untuk terus mengulik kelebihan-kelebihan yang mereka miliki. Menerangkan, bahwa setiap orang itu ada kelebihan dan kekurangan, dan itu adalah hal yang wajar.

  1. Harus siap ketika mereka mulai minta dibelikan produk-produk kid’s grooming

Tahukah Mommies kalau beberapa hari lalu kedua anak saya meminta saya membelikan mereka POMADE???! Duh, waktu mendengar itu, saya sempat deg-degan kalau jangan-jangan mereka sudah taksir-taksiran (tidaaaaaaak). Tapi, dengan gaya sok cool saya bertanya kenapa mereka ingin memakai pomade, saya bisa sedikit lega. Nggak ada urusannya sama cewek, tapi karena mereka melihat teman mereka menggunakan pomade.

Ini di dunia saya, bagaimana dengan dunia Mommies?


2 Comments - Write a Comment

Post Comment