Pikirkan 5 Hal Ini Sebelum Bercerai

Ditulis oleh: Waristi Amila

Saat sedang dalam masalah pelik dan dipenuhi rasa marah, tak jarang kita merasa perceraian adalah jalan keluar terbaik. Benarkah? Pikirkan 5 hal ini sebelum bercerai.

Saya melalui lebih dari satu kali perceraian, dengan segala drama yang rasanya nggak mungkin untuk saya jelaskan di sini. Kondisi ini tak jarang membuat beberapa teman dekat bertanya atau meminta pendapat pada saya, mengenai apa yang sebaiknya mereka lakukan ketika rasa ingin bercerai hadir di dalam pikiran mereka.

Saya tidak ingin pengalaman saya dirasakan oleh teman-teman saya tentu saja. Namun, saat mereka datang ke saya, umumnya saya justru akan memulai dengan lima hal ini.

hal yang perlu diperhatikan sebelum bercerai

1. Seburuk apa situasinya?

Bukan, ini bukan mempertanyakan apakah sudah yakin dengan keputusan bercerai. Karena saya percaya bahwa sebagai orang dewasa, kita seharusnya sudah memikirkan dengan matang dan menimbang banyak hal serta melakukan berbagai usaha sebelum akhirnya memutuskan berpisah. Yang saya tanyakan di sini apakah mommies dan pasangan masih bisa bicara baik-baik sehingga tidak perlu melibatkan pengacara perceraian, berlembar-lembar surat gugatan, pertengkaran harta gono gini, dan banyak hal lainnya.

Perceraian bisa diurus sendiri dan akan lebih mudah, lebih cepat, lebih tidak menguras energi, apabila dua belah pihak sudah setuju dengan hal-hal mendasar seperti pengurusan anak dan harta gono gini. Kemarahan akan membuat kita menulis banyak hal buruk tentang pasangan di surat gugatan, pertengkaran di ruang sidang, dan semua itu pada akhirnya akan membuat sidang menjadi melelahkan.

Tidak ada yang akan menang dalam sidang perceraian, ini tentang perpisahan, namun setidaknya kita tidak membuat situasi menjadi lebih buruk dan menakutkan.

2. Biaya

Apakah kita sudah tahu dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk mengurus perceraian? Biaya resmi perkara memang tidak sampai satu juta rupiah tapi ada biaya-biaya tak terduga yang bisa timbul, namun kembali lagi, apabila kita bisa berdiskusi dan menyetujui beberapa hal dengan pasangan sehingga tidak dibutuhkan pegacara dan proses sidang yang berbelit, ini akan lebih mudah.

3. Anak-anak

Ini biasanya menjadi pertengkaran dan perdebatan mendasar dan panjang dalam perceraian. Tak jarang kedua belah pihak saling menjelekkan agar bisa mendapat hak asuh anak. Sebagai orang tua, harusnya kita menyadari kalau anak bukan aset dan juga bukan alat pencitraan mengenai siapa yang lebih baik. Perpisahan sebagai pasangan bukan berarti berhenti menjadi orang tua. Anak-anak adalah pihak terakhir yang harus terkena imbas sakitnya perceraian. Jangan buat mereka mendengar hal buruk tentang orang tuanya dan memiliki persepsi berbeda tentang kita. Kita mungkin gagal sebagai pasangan suami isteri, jangan buat kita gagal menjadi orang tua.

4. Kesiapan mental

Harus bolak balik ke pengadilan, harus mengeluarkan biaya, itu cuma bagian kecil dari proses ini. Yang paling lelah adalah mental. Menerima bahwa pasangan yang biasanya menjadi bagian penting dari hidup kita harus hilang, menerima bahwa hal buruk sedang terjadi, menerima perpisahan, dan memberikan kenyamanan dan keamanan bagi anak-anak dalam waktu bersamaan bukan hal mudah. Ini adalah masa di mana tidur pun menjadi sangat sulit bahkan bernapas bisa sangat berat. Siapkan mental kita untuk hal ini.

5. Rencana ke depan

Setelah perceraian, lalu apa? Bagaimana pembagian waktu bertemu anak? Bagaimana mengurus administrasi kependudukan ataupun kepemilikan harta? Bagaimana mengurus biaya rumah tangga. Ini semua hendaknya sudah dipikirkan matang-matang dan kita siap bahwa ini akan jadi hal baru untuk hidup kita.

Mommies, perceraian bukan hal yang baik namun ini mungkin pilihan terbaik saat situasi terlalu buruk untuk semua pihak dalam rumah tangga, dan bukan berarti tidak akan ada hal baik sesudahnya. Proses perceraian adalah pintu keluar yang seharusnya bukan membuat situasi menjadi semakin buruk hingga setelah kita keluar pun, hidup kita tidak menjadi lebih baik karena kemarahan dan kekecewaan yang tidak bisa hilang. Kita memulai pernikahan dengan hal baik, kalaupun harus berakhir maka jangan akhiri dengan jalan yang tidak baik.


Post Comment