Strategi Menghadapi Suami Introvert

Kesal nggak, sih, kalau suami sering memberikan respon ‘dingin’ atau nggak banyak bicara? Percaya, deh, dalam hubungan rumah tangga tidak selamanya ‘diam’ itu emas.

Sejak pacaran dengan suami, saya cukup paham kalau suami saya ini bukan tipe lelaki yang banyak omong. Dulu, sih, saya cukup bersyukur dengan kondisi ini karena jadi jarang dibawelin, hahaha. Lagi pula, saya juga paling ‘males’ dengan lelaki yang kebanyakan ngomong alias ceriwis. Bisa-bisa nanti saya kalah bawel dari pasangan :D

suami istri bertengkar-4

Bisa dibilang, sifat saya dan suami memang cukup bertolak belakang, kalau suami lebih cederung kalem, nggak banyak omong, dan banyak yang menganggap suami saya ini ‘dingin’, sedangkan saya pribadi blak-blakan dan ekspresif. Walaupun sebelum menikah, kami sudah pacaran 3 tahun lebih, ternyata saya perlu waktu untuk memahami dan beradaptasi dengannya.

Setelah menikah, di mana hubungan suami istri itu otomatis jadi intens karena hampir seharian ketemu, lama kelamaaan saya kok merindukan sosok lelaki yang mau banyak omong, ya? Alhasil, waktu awal menikah saya pun sempat komplain ke suami dengan bilang, “Mas… kamu, kok, diam banget, sih? Perasaan dari tadi aku aja yang bawel dan cerita ini itu, kamu kenapa nggak mau cerita macam-macam kayak aku, ya?”

Tapi saya pun mencoba memahami bahwa memang salah satu alasan saya mengapa memilih suami menjadi pasangan hidup karena memang saya butuh dilengkapi. Kalau kata para pakar psikologi, dalam memilih pasangan, seseorang memang kerap menerapkan dua cara, yaitu similarity, dan complimenter. Nah, kalau saya memang memilih yang ke-2, mencari pasangan yang bisa menjadi pelengkap saya, supaya bisa saling mengisi. Hahhaha…. kesannya ideal banget, ya?

Tapi untuk mendapatkan apa yang saya inginkan di atas memang nggak mudah. Butuh strategi yang tepat untuk mencapainya. Dan setelah melewati pernikahan selama 7 tahun, saya semakin paham kalau kuncinya memang terletak pada komunikasi yang efektif.

Atur strategi komunikasi

Saya jadi ingat dengan obrolan dengan Mbak Nina Teguh, selaku psikolog keluarga saat acara MDLunch mengenai keluarga yang sehat. Waktu itu Mbak Nina sempat menyinggung, adalah hal yang sulit untuk menuntut pasangan agar berubah, termasuk soal sifat ‘pendiam’nya ini. Soalnya, bisa saja ini memang merupakan sifat bawaan, bisa juga merupakan hasil dari pengalaman interaksi masa kecilnya.

Oleh karena itu, Mbak Nina menyarankan agar saya dan suami dapat merancang strategi komunikasi agar komunikasi di antara pasangan tetap berjalan baik. Harapannya, dengan strategi yang sudah disepakati ini, bisa mengurangi salah pengertian akibat ketidakmampuan menangkap pesan.

Lebih aktif

Mengingat suami memang bukan tipe lelaki yang banyak bicara, mau nggak mau sayalah yang harus lebih aktif. Lagian, nggak ada salahnya kok, kalau saya yang lebih dulu banyak cerita ini itu ke suami. Anggap saja sebagai pendekatan dan pancingan. Syukur-syukur kalau memang pancingannya kena dan membuatnya jadi mau bercerita. Soalnya, kalau belum apa-apa, suami sudah saya berondong dengan berbagai pertanyaan, pasti responnya juga akan kurang baik. Intinya, jangan putus asa.

Pahami bahasa tubuh

Salah satu hal yang menurut saya penting adalah bagaimana mengenali bahasa tubuhnya. Setidaknya, saya bisa belajar kalau ternyata punya pasangan yang nggak banyak omong, bahasa verbal saja tidak cukup untuk membuatnya lebih terbuka. Ada kalanya dengan memahami kondisi lewat bahasa tubuhnya bisa membuat saya tahu harus bersikap seperti apa.

Libatkan anak

Nah, ini adalah kuncian saya kalau mau ngobrol panjang lebar dengan suami. Memang benar, deh, kalau  anak bisa mendekatkan dan mencairkan kebekuan suami istri, hehehe.  Jadi, kalau suami susah diajak ngomong, nggak ada salahnya kok menjadikan anak sebagai pemancing. Gunakan saja momen saat santai dan bermain bersama si anak untuk membina komunikasi yang intens dengan suami.


Post Comment