Pelajaran Berharga dari Film Suicide Squad: Abusive Relationship

Hari Jumat, sedikit santai, saya mau menulis mengenai pelajaran berharga yang saya dapat dari film Suicide Squad: Abusive relationship.

Bagi yang sudah nonton film Deadpool dan Suicide Squad pasti setuju kalau adegan kekerasan di Suicide Squad nggak ‘seheboh’ film Deadpool. Nggak ada itu yang namanya kepala ditembak terus bolong segede gaban dan sebagainya. Bukan berarti Suicide Squad aman-aman aja sih, tetap ada unsur kekerasan, namun bukan itu yang menjadi concern saya :D.

Dari setiap adegan demi adegan yang saya nikmati, ada satu hal yang cukup mengganggu di pikiran saya, yaitu melihat hubungan antara Harley Quinn dengan Joker yang nyata-nyata menunjukkan sebuah abusive relationship. Bagaimana perubahan sosok Dr Harleen Quinzel, dari seorang psikiatris cerdas berubah menjadi psikopat cantik yang rela melakukan apa saja demi membuktikan cintanya pada Joker. Apa saja di sini termasuk mencemplungkan diri ke dalam cairan kimia saat Joker menyuruhnya.

Suicide-Squad-Production-Joker-Harley-Quinn

Duh, jangan terlalu serius lha Fi, nanggapin adegan film yang berasal dari komik! Nope, nope, saya nggak bermaksud sok serius, hanya tertarik aja membahas sedikit lebih banyak mengenai topik abusive relationship ini. Kenapa saya tertarik?

Karena saat saya melihat penonton lain di sebelah kanan, kiri, depan dan belakang saya yang sebagian besar didominasi oleh para abegeh, ketika adegan Harley Quinn disakiti oleh Joker, para abegeh ini mengeluarkan suara-suara semacam happy *__* dan terpesona. Seperti bisik-bisik pasangan abegeh di samping saya yang bilang “Mereka keren ya!” Hmmm…… serius dek, hubungan seperti itu disebut keren?

Suicide Squad

Mau tahu nggak, hal yang kalian bilang keren itu sebenarnya bagaimana? Saat sebuah abusive relationship terjadi, apa yang sebenarnya dialami oleh pihak yang disakiti atau disiksa macam Harley Quinn?

- Rasa takut: Kita tahu bahwa hubungan yang kita jalani tidak aman namun kita terlalu takut untuk keluar dari hubungan ini. Karena mereka merasa tidak aman. Kerenkah kalau kita hidup di bawah rasa takut dan tidak aman?

- Rasa malu: Malu mengakui kalau kita menjadi korban kekerasan. Malu mengakui kalau kita memang salah memilih pasangan. Mala karena kita diperApakah rasa malu ini membuat kita menjadi orang paling keren?

- Rasa percaya diri yang rendah: Saat kita terus-menerus menerima kekerasan, dilecehkan dan disakiti, pelan-pelan kita akan merasa kalau kita memang layak menerima ini semua. Kita jadi tidak percaya diri untuk bangkit dan melawan. Kita hidup sebagai manusia yang memiliki rasa percaya diri yang sangaaaat rendah dan ini sama sekali nggak keren.

- Emosi yang tidak stabil: Ibarat roller coaster, emosi kita bisa naik turun sesuka hati.

- Terisolasi: Gabungan antara rasa takut, percaya diri rendah dan emosi yang tidak stabil pada akhirnya membuat kita malas untuk bergaul. At the end, kita akan merasa sendirian. Dan sendirian dalam kesepian dan ketakutan nggak akan pernah terasa keren.

- Tidak berkuasa atas diri sendiri: Pihak korban dalam sebuah abusive relationship biasanya hidupnya dikontrol penuh oleh pasangannya. Seperti Joker yang mengontrol penuh setiap sisi kehidupan Harley Quinn. Yakin kita siap jika orang lain akan ‘berkuasa’ penuh dengan setiap aspek hidup kita? Kita nggak bisa melakukan keinginan kita, menyatakan pendapat kita, menyuarakan perasaan kita. Saya sih nggak siap dan nggak akan pernah siap.

Jadi, mari kita idolakan saja sosok di balik pemeran Harley Quinn dan Joker ini. Margot Robbie dan Jared Leto atas akting mereka yang keceh :).


Post Comment