Perlukah Memberi Hukuman kepada Si Kecil?

Sudah gregetan dengan polah si kecil sehingga bawaannya ingin menghukumnya? Sabaaaar ya Moms. Karena menurut para pakar, lebih baik diberikan konsekuensi. Maksudnya?

Anak saya Jordy yang saat ini berusia 2 tahun 2 bulan lagi senang-senangnya membuat kadar sabar saya timbul tenggelam.  Suka-suka dia aja pokoknya. Misalnya menuang air ke dalam gelas untuk dia minum. Awalnya sih, beneran diminum, tapiiiii lama-lama dia tuang airnya ke lantai. Atau suatu ketika, saya sedang membereskan pakaiannya di lemari, Jordy malah mengambil beberapa baju dan dia bawa kabur. Iya saya paham, mungkin dia lagi caper sama bundanya, tapi kok ya….. kadang kalau lagi lelah saya suka merasa nggak bisa hal ini didiamkan. Takut kebablasan.

Perlukah Memberi Hukuman kepada Si Kecil?

Saya sampai sempat kepikiran untuk menghukum Jordy. Tapi di sisi lain, saya khawatir kalau di usianya sebenarnya dia belum pantas untuk di’hukum’. Lah saya harus bagaimana dong? Bunda pun galau :D.

Ternyata kalau menurut mbak Irma Gustiana A,M.Psi, Psi  (Psikolog Anak dan Keluarga) dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia dan Klinik Rumah Hati, sebaiknya orang tua memang harus meminimalisir hukuman-hukuman kepada anak  balita. Lebih baik kita memberikan penjelasan, kasih contoh dan kasih tahu juga kalau memang apa yang dia lakukan itu salah. Syaratnya tanpa kemarahan yang ekstrim atau bahkan kontak fisik seperti cubit (walau cubitnya nggak menyakiti, ibarat cubit-cubit semut, hihihihi). Dan, jangan gunakan kata hukuman ah, diubah aja menjadi konsekuensi, karena ada aspek belajar yang akan dijalani dan dipahami anak.

“Hukuman berupa bentakan, kemarahan atau kontak fisik hanya akan bertahan sesaat saja. Anak yang diberikan hukuman seperti itu, ia akan berhenti melakukan keisengannya atau kenakalannya tetapi kemudian akan melanjutkan lagi pelanggaran aturan yang sama atau yang lebih berat,” ujar Irma yang menyadarkan saya, kalau hukuman malah menambah masalah.

Selain itu Irma juga mengingatkan, bagi Mommies yang punya anak 2-3 tahun, perlu diingat, wajar banget, kalau di tataran usia tadi, mareka ada di fase “aku bisa”. Jadi reaksinya seperti Jordy tadi Mommies, semua ingin dikerjakan sendiri, atau semaunya sendiri. Dan nggak jarang jadi berbenturan dengan nasihat dan aturan kita orangtuanya.  

Aturan dan bentuk memberikan konsekuensi kepada anak

Konsekuensi ini tak sembarangan bisa diterapkan, kalau kata Irma ketika anak sudah ada di tahap perkembangan moralitas di tahap ketiga pascakonvensional. “Karena anak sudah mulai memahami aturan-aturan dan tata tertib yang lebih luas, misalnya jika salah maka ada konsekuensi yang harus ia jalani. Biasanya ini terjadi ketika anak berada di usia sekolah formal atau di atas usia 7 tahun.” Bentuk konsekuensi yang disarankan Irma misalnya ketika anak menolak mandi sore maka konsekuensinya waktu bermainnya mungkin dikurangi (karena sudah tersita dengan waktu yang lama untuk membujuknya mandi).

Balik sedikit ke kasus saya di atas, misalnya anak tetap mengulang hal yang sama dan malah bisa membahayakan dirinya. Irma menyarankan lebih baik memberikan media eksplorasi yang aman. Misalnya seperti Jordy yang gemar menuang air dari dispenser, bisa saya alihkan ke permainan sensorik yang menggunakan media air. Pengalihan semacam ini yang lebih mengedepankan kasih sayang jadi mengingatkan saya akan metode positive parenting. Daripada menghukum anak, kan takutnya malah jadi trauma – ya nggak, sih Mommies? Lagi pula positve parenting ini juga memiliki 4 manfaat berarti untuk anak dan orangtua, win-win solution, kan?

Lalu boleh nggak mendiamkan anak sebagai bentuk konsekuensi? Irma bilang boleh kok, Mommies, namun ada syarat yang menyertai. “Boleh saja mendiamkan anak, tapi tergantung pada keadaan, jika ia tantrum orangtua boleh saja meminimalisir stimulus berupa kata-kata tetapi tetap melakukan pengawasan. Orangtua diam, buat anak adalah sesuatu yang tidak menyenangkan dan hal tersebut bisa dianggap sebagai konsekuensi. Jangan lupa jelaskan kepada anak, “kalau kakak marah-marah seperti tadi, ibu lebih baik diam saja sampai kakak berhenti marah-marah,” jelas Irma.

Kalimat yang dipilih juga sebaiknya juga perlu diperhatikan saat memberikan pengertian kalau apa yang dia lakukan itu sebaiknya nggak dilakukan – misalnya ketika anak jatuh jangan langsung menyalahkan anak. Ganti dengan “Sakit kak? Mana yang luka?”. Atau ketika si kecil senang berlarian dan berpotensi melukai dirinya, Mommies bisa menggunakan kalimat “Berjalan ya kak, karena tempatnya banyak batu-batuan.” Kemudian dilanjutkan dengan memberikan feed back pada anak bahwa yang ia lakukan berbahaya dan tekankan juga kalau Ibunya peduli pada keselamatannya. Misalnya “Lain kali berhati-hati ya kak, karena bahaya kakak bisa terluka seperti ini,” ujar Irma lebih lanjut.

Kunci suskes lainnya sudah pasti adalah memanjangkan sumbu sabar, siapa yang setuju dengan saya? :D . Kalau Mommies punya kasus serupa, kami tunggu, lho ceritanya.


One Comment - Write a Comment

  1. saya sangat setuju ntuk meminimalisir hukuman terhadap anak, terlalu sering dimarahi dan dihukum membuat anak kehilangan rasa percaya diri dan pemberontak, lebih baik dibiasakan mencontoh perilaku baik misal dari ortunya dan juga memberitahu efek jelek/bahaya perbuatannya kemudian didiamkan

Post Comment