Anak dengan Kondisi Flat Foot, Berbahayakah?

Kaki dengan kondisi flat foot seringkali dianggap tidak ‘normal’. Benarkah demikian? Apakah kondisi flat foot pada anak perlu dikhawatirkan karena akan menghambat tumbuh kembangnya?

“Dis… kok, Bumi jalannya begitu, deh?”

“Dis… Bumi kakinya lagi sakit, ya?”

“Bumi habis jatuh, ya, Dis, kok jalannya seperti kesakitan?”

Pertanyaan semacam di atas sering banget mampir ke kuping saya. Bahkan ada salah satu teman dekat yang cukup ‘bawel’ hingga setiap ketemu atau menghubungi saya selalu bertanya mengenai kondisi kakinya Bumi… “Dis, loe nggak kasihan sama anak loe? Ke dokter orthopaedi, gih“.

flat foot

Setelah membaca judul tulisan yang saya buat, semua Mommies pasti sudah bisa menebak ke mana arah pertanyaan dan saran teman saya di atas, ya? Anak saya, Bumi, memang mengalami flat foot, sebuah kondisi di mana kedua telapak kakinya datar. Biasanya kan, telapak kaki kita akan melengkung  pada sisi sebelah dalam. Sementara lengkungan telapak kaki Bumi memang ‘hilang’ sehingga saat sedang jalan seluruh telapak kakinya terlihat akan bersentuhan dengan tanah.

Saya sendiri pernah mendengar pendapat yang mengatakan kalalu  flat foot  ini bisa menyebabkan anak jadi kurang lincah. Konon, anak yang mengalami flat foot disebabkan karena melewati salah satu tahapan penting di tahun pertama kehidupannya, yaitu merangkak. Begitu mendengar komentar yang satu ini saya pun mencoba me-rewind kembali saat Bumi berusia di bawah satu tahun.  Dan terus terang saja, memang saat itu Bumi hanya merangkak sebentar saja.

Jadi, apakah benar flat foot dipicu karena anak melewati tahapan merangkak? Sebenarnya flat foot ini bisa dicegah nggak, sih? Atau setidaknya ada terapi untuk membuat kaki anak yang flat foot tampak sama dengan kondisi kaki yang dianggap ‘normal’? Perlukah orang tua waspada dengan kondisi kaki anak yang flat foot?

Ragam pertanyaan ini pun akhirnya menggelayut di pikiran saya. Orang tua mana, sih, yang tidak ingin anaknya tumbuh sesuai perkembangan usia? Orang tua mana yang nggak khawatir jika ada sesuatu hal yang bisa menghambat tumbuh kembang anak?

Saya sendiri pernah membaca sebuah artikel kesehatan yang menyebutkan kalau ‘gangguan’  flat foot ini dialami sekitar 20 sampai 30% anak dari populasi di dunia. Untuk memprediksi apakah kaki anak mengalami flat foot atau tidak memang tidak bisa dilakukan secara terburu-buru. Maklum saja, kaki bayi itu kan masih sangat bervariasi dan akan mengalami perkembangan. Namun American Academy of Orthopedic Surgeon (AAOS), menyatakan bahwa pembentukan lengkung kaki masih bisa ditunggu hingga usia 4-5 tahun.

Mengingat usia Bumi sudah 6 tahun, ditambah melihat kondisi Bumi yang sering kali mengeluh cepat lelah kalau diajak jalan lama, beberapa waktu lalu saya pun akhirnya bertanya pada dr. Kiki Madia Permana Kustiman Samsi, SpA (K), Mkes mengenai kondisi kaki Bumi. Begitu saya ‘cuhat’ dan bilang kalau saya curiga Bumi alami flat foot, dr. Kiki meminta Bumi untuk berjalan tanpa alas kaki.

“Iya, Bu… Bumi memang flat foot, di kedua kakinya,” ujarnya.

Saat itu dr Kiki menjelaskan kalau sebenarnya kondisi flat foot memang tidak bisa dicegah. Ia mengibaratkan dengan kondisi anak yang menulis dengan tangan kidal. Begitu saya tanya, apakah saya perlu membawa Bumi ke dokter spesialis tulang dan melakukan fisioterapi, dr. Kiki menjawab, “Biasanya kalau fisioterapi memang akan disarankan untuk menggunakan sepatu khusus. Tapi sepatu itu akan membuat mental anak nggak nyaman karena menggunakan sepatu ‘khusus’ yang berbeda. Bentuknya  besar, dan tentu saja anak akan  jadi berbeda dari teman-temannya. Memang kalau untuk lari maraton, jadi mudah  capek. Tapi memang anak Ibu mau jadi pelari maraton? Olahraga kan bisa pilih yang lain, ada renang atau olahraga bela diri.”

Untuk mengurangi keluhan mudah lelah atau mencegah anak mudah terjatuh karena flat foot, dokter yang berpraktik di RS. Puri Cinere ini menyarankan untuk mencarikan sepatu olahraga yang nyaman dan ada lekukannya. “Sekarang sudah banyak, kok, yang menyediakan sepatu untuk flat foot,” katanya.

Akibatnya ke depan ada nggak, sih, dok. Khususnya untuk tumbuh kembangnya?

Ya hanya mudah capek saja. Ya kalau memang tubuhnya besar atau terlalu gendut, memang bisa membuatnya jadi lebih nggak nyaman lagi. Anak dengan flat foot biasa suka kesandung dan mudah lelah saja.

Jadi ini sebenarnya bukan masalah yang serius, ya, dok?

Sebenarnya iya, tapi zaman sekarang ini kan kebanyakan orang tua suka menyamaratakan anak. Mana, sih, yang dominan? Yang flat foot atau bukan? Karena dominan yang tidak flat foot, orang tua jadi mau anaknya juga seperti itu. Seperti anak kidal, orang tua juga sering maunya anak tidak kidal, dan justru ‘mematikannya’ supaya nggak kidal. Bagi saya ini sih bukan masalah yang besar, ya, karena saya pun sebenarnya juga mengalami flat foot pada salah satu kaki saja, dan saya masih bisa beraktivitas secara normal.

Entah mengapa, mendengar penjelasan dr. Kiki yang lugas seperti ini malah membuka mata dan mengingatkan saya kembali. Jadi orang tua memang ada baiknya nggak terlalu khawatir, dan tentunya nggak perlu menyamakan kondisi anak dengan orang lain. Penjelasan dr. Kiki ini membuat saya jadi jauh lebih lega.

Apalagi saat mendengar ia mengatakan bahwa anak dengan kondisi flat foot tetap bisa tumbuh secara optimal dengan performa fisik seorang  yang baik layaknya anak dengan kaki yang memiliki lekungan pada telapak kakinya.  Jadi, orang tua yang punya pengalaman serupa dengan saya nggak perlu khawatir lagi, dong, ya?


Post Comment