Manajemen ASIP untuk Ibu Bekerja

Ketahui kiat seputar memerah ASI selama di kantor, supaya stok ASIP tercukupi untuk si kecil dan kesehatan Anda pun tetap terjaga.

Manajemen ASIP untuk Ibu Bekerja

Kegiatan memerah ASI di tengah kegiatan kantor saya lakoni kira-kira 2 tahun lalu. Bersyukur kantor di tempat saya bekerja sangat mendukung pemberian ASI eksklusif untuk Jordy anak pertama saya yang kini berusia dua tahun. Saat menjalani memerah ASI ini saya banyak mengalami hal-hal yang menakjubkan, sebut saja bagaimana saya terkagum-kagum melihat warna ASI bisa berubah sesuai denagan pertumbuhan bayi. Belum lagi dengan serangkaian kejutan yang saya rasakan selama menyusui, misalnya betapa malunya saya saat ASI merembes dan akhirnya membuat pola “pulau” di baju. Dan yang paling saya ingat adalah aroma tubuh selama menyusui, serius deh Mommies, lain dari pada yang lain.

Sebetulnya perkara memerah ASI di kantor ini menurut saya harus dipersiapkan jauh hari sebelum cuti bersalin usai, setidaknya ada 7 hal yang saya lakukan ketika cuti bersalin akan berakhir. Bukannya apa-apa Mommies, kurang lebih 3 bulan lamanya kita nggak masuk kantor lalu harus kembali dengan rutinitas kantor, plussss harus memerah ASI. Pastilah ada penyesuaian waktu dan mental untuk menghadapi ritme kehidupan Anda yang baru ini. Dan yang  penting adalah mengetahui bagaimana manajemen ASIP, apalagi untuk ibu bekerja yang hampir setengah hari waktunya dihabiskan di kantor. Bersama dengan dr. Meta Hanindita SpA dari  RSUD Dr Soetomo Surabaya mari kita bahas satu persatu.

Kapan mulai menyetok ASIP?

Kata dokter Meta lebih cepat lebih baik! atau paling lama sebulan sebelum cuti bersalin usai. Karena  supaya masih banyak waktu untuk mempersiapkan stok ASIP. “Jadi tidak merasa stress, kalau stress, ASI malah bisa jadi tak lancar,” dokter Meta mengingatkan.

Waktu perah

Menurut dr. Meta yang juga tergabung sebagai anggota Satgas ASI,  memerah ASI sebaiknya dilakukan 3-4 sekali, namun jika memungkinkan 2-3 jam sekali akan jauh lebih baik. Saya pernah nih, Mommies mencoba rumus waktu yang kedua, memang terbukti lho, produksi ASI saya jadi jauh lebih banyak. “Perlu diingat prinsip supply by demand. Pada intinya, produksi ASI akan sangat tergantung dengan pengeluarannya. Semakin sering ASI dikeluarkan (entah disusukan langsung atau diperah), semakin sering juga ASI diproduksi. Semakin banyak ASI dikeluarkan, semakin banyak juga ASI diproduksi,” begitu penjelasan dokter Meta. Selain di kantor, dokter Meta menyarankan rutin memerah pada malam hari karena di malam hari adalah saat-saat terbaik hormon-hormon menyusui sedang bekerja.

Perlengkapan “perang”

Untuk pemilihan breast pumping sebetulnya balik lagi kepada kenyamanan si ibu. Ada yang lebih suka yang manual, elektrik dan bahkan ada juga yang lebih suka memerah menggunakan tangan. Lalu mengenai wadah penyimpanan ASIP, dokter Meta menyarankan menggunakan botol kaca dibandingkan wadah dari kantong plastik khusus. “Sebaiknya memang menggunakan gelas kaca agar lemak tidak terbuang. Kalau pakai plastik biasanya lemak menempel pada permukaan plastik dan bisa terbuang.” Sayang kan, sudah capek-capek memerah, eeh lemak baik yang terkandung dalam ASI malah terbuang begitu saja. Lalu untuk tas penyimpanan ASIP tidak ada kategori khusus, yang penting ada lapisan thermo insulated untuk menjaga suhu ASIP selama perjalan pulang dari kantor ke rumah. Saya biasanya mengakalinya dengan memasukkan dua ice gel sekaligus, supaya suhu di dalam tas lebih dingin – mengaja kesegaran ASIP.

Jangan lupa beri tanggal kapan ASI diperah, berikut dengan jam-nya. Karena pada prinsipnya, ASIP yang lebih dulu diperah, itulah yang harus didahulukan diberikan kepada bayi.

Perlakuan ASIP

Manajemen ASIP untuk Ibu Bekerja

Image: Situs AIMI

Ketika sudah susah payah memerah ASI, Mommies harus memberitahukan aturan memberikan ASIP kepada bayi:

  1. Keluarkan ASI dari kulkas atau freezer berdasarkan waktu perah (ASI yang pertama diperah, adalah aSI yang diberikan lebih dahulu).
  2. Jika ASI dalam keadaan beku, carikan ASI yang masih berada di botol kaca ke dalam wadah cekung yang berisi air hangat. Jangan mencairkan nutrisi ASI tidak hilang dan rusak.
  3. Setelah itu goyangkan botol perlahan atau dibolak-balikan. Tes suhu ASI dengan meneteskan di punggun tangan, agar tidak terlalu panas saat diminum si kecil.

Seputar manajemen ASI perah ini juga sudah perah dibahas di Mommies Daily.

Bonusnya lainnya, adalah soal camilan! Saya ingat betul, setelah memerah ASI saya pernah gemetaran saking laparnya, hahaha. Karena itu, saya selalu menyediakan camilan di meja kerja sebelum kegiatan memerah dilakukan. Begitu selesai, tinggal hap, hap, hap :D Mengenai camilan ini, kata dokter Meta sih, bisa apa saja. Disarankan yang sifatnya Lactogogue atau ASI booster ini adalah makanan atau minuman yang dipercaya bisa membantu melancarkan ASI, seperti oatmeal atau daun katuk. Namun, tidak terbatas dengan itu, intinya makanan apa saja yang masih dalam batas normal dikonsumsi oleh busui.  Bahkan dokter Meta bilang selama ia memerah ASI ia suka minum bubble tea dan coklat, makanan dan minuman kesukaan dia. And voila! Karena dokter Meta senang setiap mau memompa ASI jadi hasilnya ASI pun lancar.

Happy breastfeeding, happy Mommies!


Post Comment