Cara Melatih Anak Mandiri Saat Traveling

Saat traveling juga bisa menjadi ajang untuk saya melatih kemandirian kedua anak saya. Bagaimana cara melatih anak mandiri saat traveling?

Setengah tahun ini bisa dibilang tahun yang cukup menyenangkan sih untuk saya sekeluarga, karena kami bisa lumayan sering jalan-jalan, hahaha. Walaupun destinasi liburannya bukan yang ‘fancy’ macam ke luar negeri, tapi setidaknya hingga pertengahan tahun ini kami sekeluarga sudah berkunjung ke Bandung, Cirebon, Bali, Lombok dan Yogyakarta.

Bagi saya pribadi, saat traveling bersama anak-anak, banyak hal positif yang kami dapat. Mulai dari meningkatkan bonding antar anggota keluarga, mengenalkan anak-anak pada indahnya kota-kota di Indonesia, menjadi pelepas penat bagi saya si ibu bekerja (ini juga penting kan :D), hingga memberikan kesempatan pada anak-anak untuk belajar banyak hal di luar urusan akademis.

mengajarkan anak mandiri lewat traveling

Bicara tentang apa yang anak-anak pelajari dari traveling, salah satu yang sangat terasa bagi saya adalah anak-anak belajar untuk mandiri dengan cara yang menyenangkan. Bagaimana caranya?

1. Meminta mereka menyiapkan perlengkapan sendiri

Biasanya saya akan meminta mereka memilih sendiri pakaian dan peralatan mandi yang akan mereka bawa dan memasukkan sendiri ke dalam koper. Untuk memudahkan, saya akan memberi arahan, misalnya “Kakak dan adik, tolong bawa 7 kaos, 5 celana pendek, 2 celana panjang, sikat gigi dan odol serta lotion.” Saya juga mengingatkan mereka untuk membawa beberapa barang atau mainan untuk menghibur diri. Mereka pun belajar bertanggung jawab dengan barang-barang yang mereka miliki dan tidak bergantung pada orang lain.

Untuk memudahkan, saya akan menyediakan koper terpisah untuk mereka masing-masing. Makanya, saya harus mencari koper yang sesuai dengan usia mereka. Koper yang menarik untuk anak-anak, bisa memuat cukup banyak barang namun tetap kuat. Misalnya seperti Trunki Ride-on suitcase. Walaupun ini memang suitcase untuk anak-anak, namun kapasitasnya lumayan besar lho. Cukup kalau untuk bepergian 3 hari. Kalaupun akan bepergian cukup lama dan barang bawaan anak-anak harus digabung dalam koper saya, biasanya tetap ada beberapa barang bawaan pribadi mereka yang saya simpan di Trunki Ride-on suitcase ini.

2. Meminta membawa sendiri koper mereka

Trunki2

Inilah kenapa saya sengaja memberikan anak-anak koper sendiri yang isinya hanya barang-barang keperluan mereka saja, karena saat di bandara atau menuju hotel, saya bisa meminta mereka untuk membawa si koper. Tentu saja saya sudah memperkirakan kesanggupan anak saya untuk membawanya. Makanya, lupakan deh itu koper yang terlalu ‘serius’ dan nggak ramah untuk anak. Sejauh ini sih, dari anak-anak saya memasuki usia 4 tahun hingga sekarang, saya dan anak-anak masih setia menggunakan Trunki Ride-on suitcase. Apa alasannya?

Saya suka dengan koper anak-anak yang warnanya cerah (benar-benar menggambarkan dunia anak-anak yang meriah dan cerah) dengan bentuk atau motif yang juga pas untuk anak-anak. Itulah hal pertama yang saya lihat dari Trunki. Mulai dari warna kuning, putih, pink hingga oranye dengan bentuk taxi, hingga aneka binatang. Soooo cute.

Dan, mengingat anak-anak masih memiliki kekuatan yang terbatas dan pasti mereka akan cepat lelah, maka tambahan roda serta tali panjang pada Trunki Ride-on suitcase menjadi nilai plus lainnya. Nggak ada tuh saya dengar anak-anak saya mengeluh capek.

Trunki yang juga bisa ‘ditunggangi’ oleh anak-anak dengan berat maksimal 50 kilogram membuat momen menunggu saat take off di bandara tak lagi membosankan bagi kedua anak saya. Mereka bisa main dorong-dorongan atau kereta-keretaan dengan Trunki Ride-on suitcase ini. Ibaratnya, ini berguna sebagai suitcase dan juga mainan kesayangan untuk anak-anak saya. Jangan takut barang-barang akan jatuh, karena kan ada strap penahan dan kunci di kedua sisi koper. Duuh, jadi ingin nambah koleksi Trunki lagi, hehehe.

Oh iya, hingga 14 Agustus 2016 nanti, ada diskon 10% untuk semua koleksi Trunki di Toys Kingdom (Grand Indonesia, Gandari, Semarang, Living World, Kota Kasablanka). Satu lagi, trunki ini memiliki masa garansi hingga 5 tahun lho!

3. Mengajar mereka untuk bertanya kepada penduduk lokal

Hal terakhir yang saya lakukan ketika traveling adalah meminta anak-anak saya untuk berani bertanya kepada penduduk lokal. Mulai dari hal sederhana seperti menanyakan lokasi yang akan kami tuju, di mana toilet hingga bertanya tentang kata-kata dalam bahasa lokal, misalnya selamat pagi/siang atau malam dan terimakasih. Dari sini kedua anak saya jadi lebih percaya diri untuk melakukan segalanya sendiri.

Mungkin mommies ada pengalaman tambahan?


One Comment - Write a Comment

Post Comment