Orangtua Perlu Terlibat Memilihkan Pasangan Hidup Anak?

Lagi asik-asik pillow talk bersama suami, tahu-tahu obrolan sampai membahas mengenai pasangan  hidup untuk anak kami, Bumi. Ya… jadi orangtua memang harus visioner bukan? :D

“Mas, kebayang nggak kalau Bumi nanti sudah dewasa? Menurut kamu, perlu nggak, sih, kita terlibat dalam memilihkan jodoh untuknya? Kriterianya seperti apa, ya?”

“Perlu, sih. Tapi maksudnya paling nggak kasih pengarahan saja. Buat aku, yang penting kayanya agama deh. Itu kan pondasinya. Kalau agama sudah ok, yang lain akan mengikuti.”

Kira-kira percakapan inilah yang terjadi belum lama ini antara saya dan suami. Duile…. mikirnya udah jauh banget, ya? Anak saja baru 6 tahun, baru masuk SD, sudah dipikirin soal pasangan hidupnya, hahahhaa. Tapi, buat kami membahas hal-hal seperti  ini memang perlu, kok.

bumi ibu

Kami sendiri paham, yang namanya jodoh sudah ada yang mengatur. Termasuk soal hati, di mana memilih pasangan itu kan memamg urusan hati dan sangat personal. Ya, kebayang sih bagaimana menjengkelkannya kalau orangtua yang ngatur. Diatur untuk urusan sekolah aja sudah menyebalkan, gimana urusan jodoh?

Tapi saya jadi teringat dengan salah satu seminar parenting dengan Ibu Elly Risman sebagai nara sumbernya. Waktu itu iya bilang kalau sebagai orangtua kita memang perlu terlibat dengan masalah yang satu ini. Dan hal ini tentu saja diperlukan dimulai dari mendidik anak menjadi calon suami dan istri yang baik lebih dulu.

Menurutnya, mendampingi anak memilih jodohnya tentunya tidak bisa dilakukan  secara dadakan. Saat kita menanyakan  kapan mereka mau menikah atau ketika  anak mengajukan calonnya, tapi harus jauh sebelum itu. Prosesnya sangat panjang. Hal ini dikarenakan memilih jodoh  sepatutnya diawali dengan bagaimana kita mengajarkan dan memperlakukan teman, di mana ini semua berporos pada proses mengasuh seksualitas anak.

Jadi mulainya dari mana? Tentu saja dimulai dari bagaimana cara kita berkomunikasi. Cari tahu teknik bagaimana pola komunikasi yang klop dengan anak. Bisa dimulai dengan jangan ngomong panjang lebar, apalagi sampai nyerocos berkepanjangan. Dengan begitu dapat membangun komunikasi hangat, menyenangkan dan tentunya terbuka.

Katanya Bu Elly Risman, pembicaraan ringan tentang perkawinan sudah dimulai sejak usia di atas 7 tahun. Mulai saja dengan penjelasan yang ringkas dan diterima oleh anak. Misalnya ketika kita menjelaskan pada anak kenapa kita perlu terlibat  dan membantu atau hadir ke pesta pernikahan  saudara atau kerabat.  Bisa juga menceritakan bagaimana proses kita berkenalan dengan suami.

Bagaimana harus memperlakukan temannya secara sopan. Nah, penting juga, nih, mengingatkan anak soal sentuhan. Supaya mereka bisa paham ada batasan yang nggak boleh dilanggar ketika sedang bersama teman lawan jenis. Fase yang paling penting adalah ketika anak masa puber, di mana kita sebagai  orangtua perlu mendampingi anak. Jangan sampai abainya dengan perilaku “liar” anak dan remaja sekarang. Mungkin, kasus Awkarin yang terjadi belum lama ini bisa kita jadikan pelajaran.

Satu lagi , nih, ternyata apa yang dibilang orang soal bibit, bebet dan bobot juga perlu diperhatikan, lho. Hal ini berkaitan erat dengan latar belakang keluarga khususnya bagaimana pola asuh calon pendamping anak. Harapannya, sih, anak kita atau pun calon pendampingnya jangan sampai mengalami ciderella complex ataupun peter pan syndrom.

Kalau menurut Mommies yang lain bagaimana? Sejauh mana, sih, kita perlu terlibat dengan memilih pasangan untuk anak kita kelak?


Post Comment