Ibu, Pacaran Itu Apa Sih?

Bisa jadi kalimat di atas merupakan pertanyaan yang lumrah ditanyakan anak-anak masa kini. Mulai dari anak yang baru duduk di bangku TK hingga anak pra remaja yang sudah masuk SD. Walaupun terdengar sepele, jangan sampai menjawab dengan keliru.

Beberapa waktu lalu, ketika sedang main lego, anak saya Bumi, tiba-tiba saja bilang, “Jadi Bu…. polisinya ini pacaran dengan malingnya yang perempuan. Lalu mereka saling sayang, deh.”

ibu pacaran itu apa

Duaaang… mendengarnya saya kaget sekaligus ingin tertawa. Waktu itu saya pun hanya menimpali dengan bertanya. Mencoba mencari tahu pemahaman Bumi akan pacaran. “Menurut Bumi pacaran itu memang apa?” . Ia menjawab, “Ya temenan sama anak perempuan, seperti ibu dan bapak dulu.”

Dari sini akhirnya saya pun mencoba mencari tahu ke beberapa teman yang punya anak sesuai. Apakah wajar pertanyaan ini dilontarkan anak sesusia Bumi? Jangan sampai, dong, anak saya mendapat informasi yang berlebihan dan salah memahaminya. Ternyata, memang pertanyaan ini lumrah ditanyakan oleh anak-anak. Setidaknya ada beberapa teman Bumi semasa TK yang melontarkan pertanyaan yang sama.

“Anak gue pernah, tuh, Dis, menanyakan soal itu. Baik Dito dan Hana sama-sama pernah. Mungkin kalau Hana cuma ikut-ikutan kakaknya aja, ya. Lucunya Hana komentar soal pacaran ketika lihat kucing berduaan. Dia bilang, iiiih… kucingnya pacaran,” ujar Wiwied.

Sebenarnya bagaimana, sih, baiknya menanggapi pertanyaan seperti ini?

Kalau menurut Mbak Vera Itabiliana Hadiwidjojo, Psi, menanggapi pertanyaan anak usia 6 tahun seperti Bumi soal pacaran bisa dengan bertanya kembali. Menurut kamu, pacaran itu apa, sih? “Kalau pengertian anak masih ‘aman’, dengarkan dan santai saja, sih. Ada anak TK yang bilang pacaran itu artinya duduk semeja saat istirahat.”

Mbak Vera mengingatkan, antara anak dan orangtua memang perlu membangun komunikasi yang baik agar orangtua dan anak bisa berdiskusi, termasuk soal seks dan pubertas kepada anak. Caranya dengan menjadi pendengar aktif. “Intinya ajak anak diskusi, bukan nasehat.”

Nggak berbeda ketika menanggapai anak pra remaja.Mbak Vera bilang, saat ini biasanya anak-anak pra remaja sudah tahu apa itu pacaran. Tinggal kita sebagai orangtua perlu membicarakan batasannya seperti apa, dan kapan saat yang tepat anak berpacaran.

Saya pun jadi  ingat dengan seminar yang sempat saya ikuti dengan pembicara Ibu Elly Risman beberapa tahun lalu. Waktu itu ibu Elly menjabarkan data devisi Anak dan Remaja Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH) yang mengatakan kalau anak-anak pra remaja sudah menganggap pacaran itu hal yang wajar. Dari penelitian yang dilakukan YKBH dapat disimpulkan kalau usia pacaran anak-anak sudah dimulai sejak usia 9 sampai 10 tahun.

Kaget? Sama! Tapi kalau dipikir-pikir, jangankan zaman sekarang yang arus informasinya semakin cepat, dulu, ketika saya masih duduk dibangku SD sudah mulai familar dengan kata pacaran. Biasanya, sih, hanya sebatas main ledek-ledakan dengan teman dekat. Pemahamannya nggak terlalu jauh.

Oh, ya, penelitian yang dilakukan YKBH juga membuktikan kalau anak-anak pra remaja berpacaran dengan alasan ‘ingin punya temen curhat’. Dari sini, tentu saja membuat saya tambah yakin kalau orangtua juga perlu berperan sebagai sahabat. Teman yang asik buat ngobrol dari ke hati, bukan orangtua yang sering ngomel dan menyalahi apa yang sudah dilakukan anak.

Mengingat anak zaman sekarang sudah cepat matang, mengajaran anak soal pendidikan seks tentu saja bukan hal yang tabu, termasuk soal pacaran. Dengan berbicara dari ke hati dan diskusi harapannya anak punya pemahaman soal pacaran yang tepat dan bisa melakukan segala sesuatunya dengan kesadaran diri sendiri karena sudah punya inner control yang kuat.


2 Comments - Write a Comment

Post Comment