Bipolar pada Ibu Hamil

Perempuan dengan bipolar juga bisa hamil, namun ada beberapa catatan yang harus dipatuhi agar kehamilan berjalan lancar hingga proses melahirkan. Apa saja, ya?

bipolar pada ibu hamil

Jika beberapa waktu lalu saya sempat menulis tentang bipolar pada anak-anak, kini saya mau mengulas bipolar pada ibu hamil. Pada dasarnya perempuan dengan bipolar tetap bisa hamil, dengan syarat sebelum terjadinya kehamilan atau ketika merencanakan kehamilan ia sudah terlebih dahulu konsultasi kepada psikiater yang sudah terbiasa menanganinya.

Menurut Dr. dr Nurmiati Amir, Sp. KJ(K) dari Departemen Ilmu Kesehatan Jiwa FKUI dan RSUD Dr. Ciptomangunkusumo pasien bipolar yang sudah menikah sebaiknya jujur jika mereka hendak merencanakan kehamilan. Karena akan ada intervensi dari dokter, berupa pergantian obat-obatan yang terlalu berisiko terhadap kehamilan. “Dokter akan memilihkan obat yang lebih aman sebagai pengganti semua obat yang sifatnya stabilator mood, yang bisa jadi berisiko kepada kehamilannya – jadi bisa lahir cacat, yang ringan contohnya bibir sumbing. Dan yang serius misalnya kelainan katup jantung. Atau sususan syaraf belakang, kalau dia menggunakan obat-obat yang termasuk stabilator mood selama kehamilan, terutama pada trimester pertama. Karena organ-organ terbentuk pada trimester pertama,” jelas dr. Nurmiati.

Situasi pasien bipolar yang menjalani kehamilan ini ibarat menghadapi buah si malakama. dr. Nurmiati pun, mengakui jika diobati akan berisiko terhadap perkembangan janin (seperti yang sudah disinggung sebelumnya), sementara jika tidak diobati si ibu berpotensi mengalami depresi. Akibatnya bisa saja ia tidak menjalankan kebiasaan-kebiasan caln ibu yang seharusnya dilakukan. Misalnya rutin mengecek kehamilan, mungkin saja tidak makan, melukai diri bahkan bunuh diri.

“Kedua sikon ini sama beratnya, di situ dokter akan menimbang – mengukur risiko-risiko yang akan dihadapi ibu hamil. Artinya risiko dan manfaat dari obat-obatan yang akan diberikan benar-benar dikaji – karena dua keadaan tadi sama-sama berat. Tidak makan obat, bipolarnya akan memburuk,” kata dr. Nurmiati. Meski begitu, dr. Nurmiati yang saya temui di sela-sela acara seminar media “Gangguan Bipolar VS Fenomena Bunuh Diri di Kota Besar” akhir Juni lalu di Jakarta ini mengatakan. “Ada kok kasus perempuan dengan bipolar yang menjalani kehamilan dan lancar, dan bayi lahir dengan selamat.”

Sebagai informasi tambahan, nih Moms. Setelah melahirkan, ada situasi dimana sang ibu juga harus waspada. Mommies pasti, sangat familiar dong dengan baby blues syndrome. Nah, kondisi emosi yang fluktuatif ini ternyata dapat memicu post partum depression, yang berujung memicu bipolar pada si ibu, meski pada awalnya kondisi ibu normal, artinya sama sekali tidak ada gangguan bipolar.  Pada kondisi pasien yang seperti ini menurut dr. Nurmiati, akan tetap diberikan obat. Tapi, mengingat sang ibu juga akan menyusui, maka ada teknik tertentu yang akan diberlakukan, agar sang ibu bisa tetap menyusui si kecil.

Jadi, Moms – dokter akan melihat dulu paruh waktu obat ini. Paruh waktu sendiri merupakan waktu yang dibutuhkan untuk setengah dari jumlah awal obat/ zat lain dihilangkan dari tubuh, atau bagi obat untuk mengurangi setengah konsentrasi aslinya dalam darah. Hilangnya obat dapat karena berubah menjadi zat lain atau dibuang melalui urin. Misalnya kalau paruh waktu obat itu adalah 12 jam, dan ketika dia minum obat – selama 12 jam itu pula sang ibu tidak boleh menyusui anaknya, alias ASI harus dibuang. Dan sebelum waktu ia minum obat lagi, ibu sebaiknya memompa ASI sebanyak-banyaknya.

Semoga informasi ini berguna bagi Mommies yang membutuhkan, ya. Atau kalau mau berbagi cerita, juga boleh, lho :)


Post Comment