Apakah Kita Terkena Impostor Syndrome?

Saat semua menilai pekerjaan kita awesome namun di dalam hati kita selalu merasa “I am not good enough” bisa jadi kita terkena Impostor Syndrome.

Pernah nggak sih working mommies yang ada di sini mengalami sindrom seperti yang saya tuliskan di atas? Pekerjaan kita fine-fine aja, KPI juga tercapai, banyak orang memuji hasil karya kita dan atasan juga puas melihat kinerja kita. Tapi, seringkali di otak kita mikirnya berbeda dan di hati juga merasanya kebalikan.

Kita kerap merasa nggak percaya diri dengan kemampuan dan hasil kerja kita. Merasa kalau pekerjaan kita kurang maksimal dan kurang memuaskan. Merasa kalau orang lain pasti kecewa dengan apa yang kita lakukan. Atau merasa kalau kesuksesan yang kita raih ini pasti karena factor luck atau karena bantuan orang lain. Kalau ini yang Mommies rasakan, ada kemungkinan Mommies mengalami Impostor Syndrome!

Menurut Project Eve, ini ternyata dialami oleh 70% pekerja (and yes…. more women than men!) Wajar sih kalau kadang kita merasa ragu dengan diri sendiri. Menjadi tidak wajar kalau itu terus menerus kita rasakan. Masalahnya, perasaan seperti itu akan membuat kita pada akhirnya takut meraih target, kehilangan ambisi dan membuat potensi-potensi yang ada di dalam diri terbengkalai. Bagaimana cara mengatasinya?

Impostor syndrome

1. Jangan berambisi menjadi Mrs Perfect
Pahami perbedaan antara memberikan yang terbaik dengan menjadi yang terbaik. Penderita Impostor Syndrome cenderung berpikir kalau dia tidak menjadi yang terbaik maka perusahaan tidak akan menghargainya. Sedangkan memberikan yang terbaik sesuai dengan kemampuan maksimal kita berarti kita berpikir secara realistis.

2. Belajar menghargai diri sendiri
Impostor syndrome biasanya dialami oleh mereka yang masuk dalam kelompok high achiever. Mereka yang tidak terbiasa dengan hasil yang biasa-bisa saja. A woman who reaches high, wants to do the best at work and give the best to the world. Buuuuut, kalau kita bersedia bertanggung jawab terhadap kesalahan dan kegagalan yang kita lakukan, maka kita juga harus berani menerima kesuksesan yang berhasil kita ciptakan. Yakinlah bahwa ada peran serta kita dalam kesuksesan itu

3. Berhenti membanding-bandingkan
Namanya perempuan itu hobiiii banget ngebanding-bandingin diri sendiri dengan orang lain. Masalahnya, tak jarang kita membandingkan kekurangan pada diri kita dengan kelebihan yang ada pada diri orang lain. Kebayang nggak, kalau kita selalu melihat kekurangan dalam diri kita dan kelebihan di diri orang lain! Yang ada kita malah semakin terpuruk. The reality is that most people are struggling just like us.

4. Berani mengambil risiko
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr Richard Jagacinski menunjukkan kalau orang yang mengalami Imposter Syndrome cenderung menolak mengerjakan sesuatu jika ia merasa tidak ahli mengerjakannya. Jika itu akan membuatnya terlihat lemah. Maka, belajarlah untuk berani mengambil risiko.


Post Comment