7 Hal yang Perlu Diketahui tentang Hiperemesis Gravidarum

Ditulis oleh: Nayu Novita

Beberapa ibu hamil mengalami morning sickness yang jauh lebih parah dibandingkan ibu hamil lainnya. Inilah yang dinamakan hiperemesis gravidarum.

Morning sickness alias mual dan muntah selama masa kehamilan adalah hal yang lumrah dialami ibu hamil. Meski tak terjadi pada saya dulu, banyak teman dan saudara yang mengalaminya. Ada yang gejalanya ringan, tetapi cukup banyak juga yang berat dan berlangsung dalam jangka waktu lama.

Seorang teman bahkan sampai dua kali opname lantaran mual dan muntah parah. Pernah, selama rentang waktu tertentu ia hanya bisa makan pisang mas sedikit. Itu pun sering dimuntahkan kembali. Tak heran, berat badannya merosot 11 kg dalam tempo 3 bulan! Menurut dokter, teman saya menderita hiperemesis gravidarum, yaitu gejala mual dan muntah yang frekuensi dan intensitasnya jauh lebih parah daripada morning sickness biasa.

Agar bisa mengenal lebih jauh tentang hiperemesis gravidarum atau hiperemesis, dr Dr. Caroline Hutomo, Sp.OG dari Morula IVF—RSIA Bunda, Jakarta, memaparkan hal-hal yang perlu diketahui tentang jenis gangguan kehamilan yang satu ini.

Hiperemesis gravidarum

1. Hiperemesis dialami oleh 1% ibu hamil.

Gejala morning sickness berupa mual dan muntah selama masa kehamilan bisa ditemukan pada sekitar 70-80% ibu hamil. Tetapi, hanya 1% dari ibu hamil yang mengalami kondisi hiperemesis. Penderita hiperemesis mengalami gejala mual dan muntah (bisa sampai sepuluh kali dalam sehari!) yang jauh lebih hebat daripada gejala morning sickness biasa.

2. Paling sering terjadi pada usia kehamilan 8-14 minggu.

Hiperemesis biasanya terjadi pada trimester awal kehamilan, atau pada sekitar usia kehamilan 8-14 minggu. Gejala hiperemesis bisa mereda secara bertahap ketika usia kehamilan memasuki trimester kedua, meski ada juga yang berlangsung di sepanjang usia kehamilan. Rata-rata penderita hiperemesis memerlukan bantuan obat pereda mual untuk membantu mengendalikan gejala yang dialami.

3. Penyebabnya masih belum diketahui secara pasti.

Beberapa penelitian memerkirakan hiperemesis muncul akibat adanya peningkatan kadar hormon kehamilan (beta-HCG) secara drastis. Penelitian lain menyatakan adanya peranan perubahan kadar hormon lain seperti estrogen dan progesteron selama kehamilan, dalam terjadinya hiperemesis. Pada kasus yang jarang terjadi, hiperemesis juga bisa dipicu oleh gangguan pada tiroid dan liver.

4. Risiko tinggi alami dehidrasi & malnutrisi.

Akibat minimnya asupan makanan dan minuman, penderita hiperemesis biasanya merasa lemah, lesu, dan tidak bisa melakukan aktivitas normal. Penurunan berat badan juga lazim ditemui pada penderita hiperemesis. Terkadang, disertai denyut nadi menjadi lebih cepat, sesak napas, bahkan kehilangan kesadaran. Jika tak tertangani dengan baik, hiperemesis berisiko mengakibatkan malnutrisi dan dehidrasi.

5. Terkadang mesti menjalani rawat inap.

Gangguan hiperemesis bisa bertambah parah apabila disertai infeksi, misalnya infeksi pada lambung. Kondisi kekurangan asupan makanan dan minuman yang terjadi secara berlarut-larut ini amat berisiko mengganggu pertumbuhan janin, mulai dari keguguran, hambatan pertumbuhan janin, bahkan kematian janin dalam kandungan. Untuk menghindarinya, penderita hiperemesis parah memerlukan perawatan medis lebih lanjut di rumah sakit. Biasanya, akan membaik setelah pemberian cairan elektrolit, vitamin, dan obat melalui selang infus.

6. Hindari makanan berlemak.

Dalam sejumlah kasus, gejala hiperemesis bisa dikendalikan dengan obat antimual dan obat lambung yang diresepkan oleh dokter. Jika rasa mual sudah berkurang, cobalah makan dalam porsi kecil namun sering. Hindari pula makanan beraroma tajam, asam, pedas, dan santan. Minum air jahe atau air putih hangat terkadang juga membantu mengurangi rasa mual.

7. Dukungan suami dan keluarga amat penting.

Gejala hiperemesis bisa mengakibatkan penurunan kualitas hidup penderitanya. Akibatnya, ibu hamil yang mengalami hiperemesis juga berisiko mengalami stres dan depresi. Padahal, kondisi stres dan depresi bisa memperparah gejala yang dialami. Karenanya, dukungan dari suami dan keluarga amat penting untuk membantu ibu hamil melalui fase hiperemesis secara lebih nyaman.


Post Comment