Pentingnya Mengenal Teman-teman dari Anak Kita

Dari skala 1 – 10, seberapa baik nilai kita dalam mengenal teman dari anak kita? Padahal, ada banyak alasan megapa penting mengenal teman-teman dari anak kita, lho! 

Saya ingat banget, saat saya SMP hingga kuliah, mama jaraaaaang sekali mengizinkan saya untuk pergi bersama teman-teman dan tidak pernah memberi lampu hijau untuk saya menginap di rumah teman. Mama lebih memilih rumah kami yang dijadikan basecamp. Menerima semua teman saya, entah itu sekadar untuk main atau menginap. Pasrah dengan keramaian dan teriakan dari 12 cewek abege yang sok asik membuat formasi piramid dalam rangka mempersiapkan lomba cheerleader se- Jakarta Timur saat itu, hahaha.

Jangan ditanya gimana perasaan saya terhadap kebijakan mama dulu…. keseeeel pakai banget karena merasa mama terlalu over protective.

But here I am now… melakukan hal yang sama persis seperti apa yang mama lakukan dulu. Lebih memilih teman-teman anak saya datang ke rumah, merelakan hati melihat rumah berantakan, menyediakan berbagai macam camilan ‘hanya’ agar anak-anak tetap anteng di rumah dan saya yakin mereka baik-baik saja.

mengenal teman-teman anak kita

Masalahnya, sampai kapan aturan ini bisa saya terapkan? Karena bagaimanapun, saya harus siap menerima kenyataan bahwa saat anak-anak beranjak remaja, akan datangnya masa mereka ingin diberi kebebasan bergaul di luar rumah (sama seperti saya dulu).

Mungkin banyak cara yang bisa saya lakukan untuk menjaga para jagoan saya. Tapi kali ini, saya mencoba melakukannya melalui lingkungan terdekat mereka, yaitu teman-teman mereka.

Well, as we all know, memasuki usia remaja, usia di mana kita merasa paling keren, merasa paling hebat dan cenderung ingin mendobrak semua aturan dan nilai-nilai moral, salah satu pihak yang paling berpengaruh dalam hidup kita adalah teman-teman kita. Iya nggak??? Jadi, kenapa saya nggak belajar untuk mengenal teman-teman anak saya dari sekarang!

– Dengan mengenal teman-teman anak saya, ini membuat saya bisa melihat cara mereka bergaul, berbicara dan berinteraksi. Membantu saya menilai kepribadian mereka dan menyimpulkan apakah mereka memberikan pengaruh yang positif atau negatif dan dapat segera mengantisipasinya.

– Ini membuat saya tetap keep connected dengan dunia anak-anak. Isu-isu yang terjadi dalam lingkup pertemanan mereka bisa menjadi bahan obrolan antara saya dengan anak-anak. Tak jarang, saya malah mendapat informasi mengenai kejadian di luar rumah dari teman-teman anak saya.

Saya bisa mencari tahu apakah nilai-nilai yang dianut oleh teman-teman kedua anak saya sama dengan nilai-nilai yang kami tanamkan di rumah. Bisa saja kan nilai-nilai yang berbeda ini menular. Saya jadi bisa mengajarkan anak saya bagaimana menyikap perbedaan nilai ini.

Membantu saya dalam mengontrol anak (evil laugh…ahahaha). Ibu mana coba yang nggak doyan mengontrol anak? :D. Minimal, jika anak pulang telat, saya bisa tahu siapa yang dapat saya hubungi.

Dan, bagaimana cara saya melakukannya?

Saya mencoba menjadikan rumah saya sebagai tempat yang nyaman untuk anak-anak dan teman-temannya berkumpul (dan ….. ini bukan hal yang mudah dilakukan). Dengan begini, saya tak hanya bisa mengawasi, namun juga dapat nanamkan nilai yang saya anut kepada teman-temannya. Misalnya, saat main di rumah, saya selalu mengingatkan untuk mencuci tangan dan tidak boleh bicara kasar.

– Bahasa halus dari menjadi driver dan babysitter dari beberapa anak, hehehe. Luangkan waktu dua bulan sekali deh, untuk ngangon anak-anak dengan teman-temannya (tanpa kehadiran orang tua yang lain ya). Jangan terlalu mengintervensi saat pergi bersama, namun jadilah pendengar yang baik.

Pilih satu atau dua anak yang bisa kita pegang. Kita mengenal mereka secara pribadi, mengenal keluarganya dan orang tuanya juga memiliki aturan atau nilai yang sama dengan keluarga kita.

Terimakasih untuk mbak Vera Itabiliana K. Hadiwidjojo, Psi yang sudah mau bertukar saran :).


Post Comment