Sekolah Ramah Anak, Seperti Apa Sih?

Saya selalu berharap agar sekolah anak saya merupakan sekolah yang ramah anak. Sekolah yang tidak hanya jauh dari kasus bullying tapi lebih dari itu.

Kemarin, saya sempat ikuta acara Kopi Darat soal “Apa Itu Sekolah Ramah Anak dan Mengapa Itu Sangat Penting?” yang dilanguskan di Perpustakaan Kementerian dan Kebudayaan. Begitu menerima undangannya saya langsung tertarik untuk mengikutinya. Maklum, tahun ini anak saya sudah mulai mengikuti pendidikan lanjutan Sekolah Dasar. Tentunya harapannya, sekolah yang kami pilih adalah sekolah yang ramah anak.

Tapi, sebenarnya sekolah ramah anak itu seperti apa, sih? Kenapa dianggap sangat penting?

sekolah ramah anak

Bukan apa-apa, siapa tahu kaca mata saya mengenai hal ini masih sempit. jadi saya memang perlu ilmu baru supaya nggak gampang memberikan label pada sekolah. Atau, dikit-dikit curiga dan merasa tida nyaman menitipkan anak di sekolah. Nah, kalau begini kan bahaya!

Dari awal acara, bahasan yang dimulai sudah cukup menarik, yaitu mengenenai latar belakang pendidiian. ampai saat ini Ada banyak pandangan tentang tujuan pendidikan. Sebagian pandangan menekankan peran pendidikan dalam hal membentuk kemampuan akademik anak-anak serta keterampilan teknis yang mereka perlukan demi keberhasilan transisi mereka ke dunia kerja. Pandangan lainnya menyoroti peran pendidikan dalam membentuk karakter dan nilai-nilai pada anak serta mendukung perkembangan sosial, emosional dan fisik mereka.

Dalam hal ini yang perlu digaris bawahi, kita atau pun guru sebagai pendidik perlu menyadari kalau setiap anak merupakan pribadi yang unik. Nggak bisa disamakan satu dengan yang lainya. Idealnya, guru memiliki kewajiban moral untuk menghormati anak-anak dengan melihat mereka sebagai peserta sukarela dalam belajar dan membiarkan mereka dan bakat mereka menentukan apa yang mereka anggap bermanfaat untuk dipelajari.

Seperti yang dikatakan Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia, bahwa peran guru adalah menghormati murid dengan menjadi teladan dan mendorong pembelajaran mereka. Semboyannya yang terkenal mengenai pendidikan yang ideal adalah “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”, yang diartikan sebagai “di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan.”

Sebagai orangtua yang menitipkan dan mempercayakan anak pada sekolah untuk mengembangkan potensinya, saya sangat sadar kalau peran sekolah memang sangat besar. Harapannya sekolah bisa peran penting dalam mengembangkan kemampuan seorang anak untuk membentuk keterampilan, baik kognitif dan non-kognitif. Ini berarti bahwa para pembuat kebijakan, guru dan orang tua dapat menjadi pengaruh kuat untuk melakukan perbaikan pada lingkungan belajar di mana anak-anak berkembang.

Pertanyaannya, sekolah ramah anak seperti apa, sih? Kalau UNICEF mencirikan sekolah ini sebagai “inklusif, sehat dan protektif untuk semua anak, efektif bagi anak-anak, dan terlibat dengan keluarga dan komunitas – serta anak-anak” (Shaeffer, 1999).

Dn ternyata,  sekitar tahun 1997, gerakan “Ramah Anak” sudah tumbuh tumbuh bersama dengan munculnya definisi dan kerangka kerja yang lebih konkret, meliputi gagasan bahwa sekolah harus dikembangkan lebih dari sekedar kesiapan akademis anak-anak.  Sekolah Ramah Anak akhirnya didefinisikan sebagai sekolah-sekolah yang bergerak berlandaskan kepentingan yang terbaik untuk anak, menyediakan kondisi sosial, fisik dan emosional yang tepat untuk mempromosikan pembelajaran dan pembentukan identitas. Lingkungan sekolah ini dimaksudkan untuk melindungi hak-hak anak sembari menuju pada realisasi potensi terbaik mereka di dalam dan di luar sekolah. Ini berarti mempromosikan inklusivitas, martabat, toleransi, kesehatan, status gizi dan kesejahteraan serta sistem dukungan masyarakat.

Mudah-mudahan saja, sekolah anak kita semua memenuhi kriteria sekolah ramah anak, ya. Tapi dalam hal ini tentu saja perlu kerja sama semua lapisan, baik pihak sekolah, orangtua maupuan masyarakat sekitar.

 

 


Post Comment