Ibu Bekerja Bukan Penelantar Anak

Ditulis oleh: Nina Samidi

Patahkan mitos yang mengatakan ibu bekerja membuat anak terlantar. Kiki dan Lia membuktikannya lewat cerita mereka.

Saya sengaja memilih dua ibu ini karena anak-anak mereka sudah besar, keduanya sudah jadi ibu (bekerja) selama lebih dari 10 tahun. Dan, saya tahu persis bagaimana sibuknya mereka dalam karier, tapi secara ‘ajaib’ mereka juga selalu ada untuk anak-anak mereka.

“Mereka anak yang biasa, tapi mereka anak yang bahagia dan baik hati”

Jagoan pertama kita adalah Kiki (45 tahun) yang saat ini bekerja di LSM. Kiki punya dua anak, yang pertama laki-laki (16 tahun) dan yang kedua perempuan (13 tahun). Di awal ‘karier’-nya sebagai ibu, Kiki juga sedang meniti kariernya di salah satu grup ritel terbesar di Indonesia sebagai Marketing Communication yang sempat dia jalani selama 12 tahun.

Awal saya kenal dengannya, saya masih ingat betul bagaimana meski di tengah jam hectic, ia imenelepon anak-anaknya tetap dengan nada lembut untuk sekadar bertanya, “Sudah makan? Sekolahnya lancar? Ada PR apa saja? Iya, boleh nonton TV tapi jam 5 semua PR sudah selesai ya,” dan sebagainya.

Baginya, ada tiga hal yang paling penting dalam menjaga keseimbangan, yaitu atur jadwal, kerjasama seluruh anggota keluarga (termasuk pengasuh), dan komunikasi. Kerjasama dengan suami sangat penting.Saya dan suami gantian mengawasi. Harus atur jadwal tugas ke luar kota tidak boleh bersamaan. Jadwal cuti juga tidak pernah sama kecuali waktu Lebaran. Itu pun tidak benar-benar sama, misal suami cuti mulai seminggu sebelum Lebaran sampai tepat Lebaran habis, sedangkan aku cuti tepat mulai Lebaran sampai seminggu sesudah Lebaran.

Soal komunikasi, bisa setiap jam setiap hari Kiki bertelepon dengan orang di rumah. Kiki juga menerapkan aturan dan disiplin yang mempermudah hidupnya.Pengasuh harus taat dengan jadwal harian tertulis. Kalau ada yang tidak sesuai, harus telepon.”

Meski sebagai ibu bekerja yang super sibuk, Kiki adalah tipe ibu yang juga aktif di kegiatan-kegiatan anaknya, baik dalam kegiatan anak-anak di sekolah, di tempat les, sampai menjadi anggota POMG serta kepanitiaan yang melibatkan orang tua seperti open house sekolah, seminar, dan sebagainya. Satu hal yang sepertinya harus kita ikuti adalah, “tetap kenal baik dengan guru-guru anak saya, baik di sekolah maupun tempat-tempat les mereka. Dengan begitu, Kiki bisa langsung tahu begitu ada masalah.

Hasilnya, “Mereka anak yang biasa-biasa saja, prestasi akademik juga biasa-biasa saja. Tetapi, mereka anak-anak yang bahagia dan baik hati. Hehe….” Hmm, ada yang lebih baik dari anak yang bahagia dan baik hati, Moms?

Mbak Kiki

“Anak saya masuk sekolah favorit dan khattam Alquran 4 kali”

Jagoan kedua kita adalah Lia (35 tahun). Dia menikah muda di usia 22 tahun. Saat ini anaknya yang besar, laki-laki (13 tahun) dan yang kecil, perempuan (11 tahun). Sampai sekarang, Lia tidak pernah berhenti bekerja. Yang saya pelajari dari ibu yang satu ini adalah: FOKUS.

Meski saya kerja sangat keras, prinsip saya tetap sama: keluarga nomor satu,” ujarnya mengawali pembicaraan. Karena itu, Lia selalu menyediakan waktu untuk urusan anak-anak terutama urusan sekolah. Jadwal ambil rapor atau rapat dengan guru dia usahakan selalu hadir.

Kuncinya adalah disiplin. “Saya harus maksimal bekerja di lima hari kerja agar semua pekerjaan beres sesuai jadwal. Jadi, Sabtu dan Minggu total untuk keluarga. Karena itu, untuk urusan kerja keluar kota, saya selalu ambil jadwal Senin – Jumat.” Lia mengaku bahwa dia juga selalu punya tabungan cuti jika ada hal penting yang membuatnya harus meninggalkan kantor, seperti anak-anak sakit. “Kalau anak sakit, mereka pasti mau ada ibunya. Saya usahakan selalu bersama mereka kalau ada yang sakit.

Peran keluarga, terutama suami, juga sangat penting bagi Lia. “Saat saya tugas ke luar kota, suami harus ada di Jakarta sehingga anak-anak tidak merasa ditinggalkan. Sampai hari ini anak-anak tetap dekat dengan kami. Kalau ada masalah, mereka sering curhat.

Untuk menjaga kedekatan itulah, Lia berusaha untuk tetap terlibat dalam kegiatan anak-anak. Dia atur les anak-anaknya jatuh di hari Sabtu sehingga dia selalu bisa mengantar mereka. Begitu juga dengan acara-acara lomba yang jatuh di hari libur, dia pastikan untuk datang.

Menjaga hubungan emosi, pengawasan, dan selalu hadir bagi anak-anak adalah kunci keberhasilan Lia. Hasilnya, “Kedua anak saya selalu tiga besar di sekolahnya. Hehe… Bahkan anak saya yang pertama masuk SMP Negeri Favorit di Depok, padahal standar nilainya untuk masuk sana tinggi sekali. Dalam hal agama, keduanya sudah empat kali khattam Alquran.”

Namun keberhasilan kedua anaknya menurutnya juga karena ia selalu mencoba untuk mendengarkan apa yang diinginkan anaknya. “Saya bukan tipe orang tua yang suka memaksa. Saya selalu dukung apapun yang mereka suka selama itu baik. Dalam hal pelajaran, les ini itu, itu semua atas kemauan dan pilihan mereka. Dengan menjaga kedekatan, mereka bisa cerita masalah apapun ke saya dengan leluasa,” tutupnya.

Eliya Lia

Tentunya, setiap ibu punya cara masing-masing. Namun yang pasti, kita bisa melihat bahwa dua super-moms yang sukses dalam karier ini telah membuktikan bahwa mitos ibu bekerja akan menelantarkan anak itu salah. Happy working, Moms!


Post Comment